Menyekolahkan Anak-Anak di Negeri Jiran

by | Dec 5, 2021 | Essai

Setelah mengurus Visa Imigrasi di pusat Admisnistrasi Malaysia di Putra Jaya, kami sekeluarga resmi tinggal di negeri jiran yang satu ini. Langkah berikutnya adalah mengurus sekolah anak- anak di Subang Jaya, Distrik Petaling. Saat kami pindah anak sulung kami, Raihana, baru kelas IV Sekolah Dasar (SD) Sudirman, Pasar Rebo. Sedangkan si bungsu, Hilmy baru selesai Play Group atau Kelompok Bermain di TK/RA Salsabila, Kalisari, Jakarta Timur. Semula kami berharap Raihana bisa sekolah di Sekolah Kebangsaan Damansara yang berdekatan dengan Park Aveneu Kondominium, apartemen tempat kami tinggal. Ah, ternyata tidak bisa, di sini kami tidak bisa menentukan pilihan sendiri tempat anak sekolah. Terutama karena sekolah yang akan anak kami masuki ini adalah sekolah Kerajaan (Sekolah Negeri) yang mendapat bantuan penuh dari kerajaan. Di samping itu sekolah yang semula akan kami tuju ternyata sudah penuh juga. Ya sudahlah, akhirnya kami pun mengikuti peraturan yang berlaku.

Si sulung mendapat rujukan sekolah setaraf SD di Sekolah Kebangsaan (SK) Bandar Sri Damansara 3 yang beralamat di Jalan Ara, SD 7/3, 52200 Kuala Lumpur. Berarti letak sekolahnya di tengah-tengah antara tempat tinggal kami yang beralamat di jalan PJU 10/1 Damansara Damai, Petaling Jaya, Selangor dan kantor suami yang beralamat di jalan PJU 8/1 Damansara Perdana, Petaling Jaya, Selangor. Sehingga jika berangkat sekolah bisa diantar suami sekalian berangkat ke kantor. Sedangkan pulangnya bisa dijemput suami pula saat istirahat kantor. Sementara aku menjaga yang bungsu di apartemen Ini merupakan sebuah pengalaman pertama bagaimana menyekolahkan anak di Malaysia dengan sistem pendidikan yang tentu berbeda dengan di Indonesia.

Lalu bagaimanakah sistem pendidikan di Malaysia itu? e-jurnal Hubungan Internasional tahun 2016 menyebutkan bahwa dalam sistem Pendidikan di Malaysia, Kementerian Kerajaan Malayasia mewajibkan belajar untuk warganya selama 11 tahun, yaitu untuk pendidikan rendah selam 6 tahun dan pendidikan menengah selama lima tahun. Pendidikan dasar diwajibkan untuk semua anak berusia 7-12 tahun. Para pelajar wajib mengikuti ujian negara di akhir pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah Malaysia telah memberikan pelayanan pendidikan kepada seluruh warga yang tinggal dalam wilayah territorial Malaysia, termasuk Sabah. Setiap penduduk diperbolehkan mengikuti atau mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah. Sebagai negara tuan rumah Malaysia lebih mengutamakan memberikan pelayanan kepada warga negaranya sendiri. Untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi warga negaranya maka kapasitas sekolah yang didirikan sesuai dengan jumlah warga negaranya yang memerlukan pelayanan pendidikan. Sedangkan untuk warga negara asing yang ingin memperoleh pendidikan menunggu sampai adanya ketersediaan tempat sekolah.

Persyaratan umum untuk memperoleh pelayanan pendidikan di Malaysia antara lain warga negara Malaysia, warga negara asing yang legal, memepunyai cukup umur, dan tersedianya tempat. Sebelum tahun 2001 para TKI masih bebas bekerja dan menyekolahkan anaknya tanpa dokumen. Tetapi setelah dikeluarkan Akta Perburuhan dan Akta Pendididkan tahun 2001 kegiatan mereka dibatasi. Semua pekerja asing harus memiliki dokumen lengkap demikian pula pelajar asing harus memiliki dokumen lengkap pula. Pemerintah Malaysia dapat menerima pelajar asing yang akan belajar di sekolah -sekolah Malaysia baik di Sekolah Kerajaan (Sekolah Negeri) maupun sekolah swasta sepanjang dapat memenuhi ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan berdasarkan undang-undang pendidikan.

Mengingat suamiku adalah pekerja asing yang legal di Malaysia dan kami pun memiliki dokumen lengkap sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku, alhamdulillah anak sulung kami pun bisa bersekolah di sekolah Kerajaan (Sekolah Negeri). Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Bersyukur karena sejak SD di Jakarta anak kami sudah belajar Bahasa Inggris dan ditambah kursus Bahasa Inggris sebelum pindah ke Malaysia sehingga tidak mengalami kesulitan saat Bahasa pengantar yang dipakai adalah Bahasa Inggris. Bahasa Melayu digunakan juga untuk pelajaran Bahasa Melayu. Pelajaran lainnya seperti matematika, IPA, dan agama Islam tak beda dengan di Indonesia. Namun ada satu pelajaran yang masih sulit diikuti yakni abjad atau aksara Jawi yakni abjad Arab-Melayu, abjad Arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu atau abjad Arab yang dimelayukan. Ini cukup sulit buat anak kami mengingat sebelumnya ia tidak pernah mempelajarinya sama sekali. Akhirnya kami pun meminta bantuan salah seorang rekan kerja suami yang memang asli orang Malaysia.

Selain tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah Malaysia, alhamdulillah dalam beradapatasi pun tak menjadi persoalan. Raihana menikmati sekolahnya yang baru di negeri jiran. Kalaupun ia belum mempunyai banyak teman di sekolah, bagi dia tak masalah. Cukup kami bekali beberapa keping uang Ringgit maka jam istirahat dan dia tak ada teman bermain, maka dia pun akan melipir ke kantin untuk jajan. Membeli makanan kegemarannya yang yakni Karipap, gorengan khas Melayu sejenis pastel di Indonesia yang terbuat dari pastry dengan isian daging dan kentang berbumbu kari. Atau membeli Keropok Lekor, sejenis kerupuk ikan, makanan ringan tradisional khas Malaysia.

Nah sekarang giliran si bungsu, Hilmy untuk mencari sekolah. Kami masih pilih-pilih sekolah yang tepat untuk anak prasekolah. Setelah mencari informasi dari beberapa kawan Indonesia yang tinggal sekitaran kami di Malaysia akhirnya kami pilih Tadika Bestari. Jaraknya tidak jauh juga dari tempat tinggal kami sekitar 10 menit berkendaraan.

Tadika adalah kepanjangan dari Taman Pendidikan Kanak-kanak yang merupakan pendidikan awal anak-anak di Malaysia sama halnya di Indonesia sebelum adanya Taman Bermain atau bahkan sekarang ada Pendidikan Usia Dini atau PAUD. Tadika telah berdiri sejak sebelum tahun 1940an dan diusahakan oleh misionaris Kristen. Selanjutnya pada tahun 1969, Yayasan Asia menyiapkan data untuk anak-anak yang kekurangan biaya karena sebelum merdeka Tadika hanya untuk orang kaya. Tahun 1972 jabatan dalam kerajaan terdiri dari 2 Tadika yaitu Tadika Kerajaan (Tadika Sekolah Kebangsaan dan Kemas Jabatan Perpaduan, Tadika) dan Tadika Swasta (NGOS, Tadika Agama, KSPQ ( standar kurikulum sebagai garis panduan).

Tadika Bestari menerapkan konsep yang memadukan konsep Islam dan Montesorri. Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak, berdasar pada teori perkembangan anak yang digagas oleh Dr. Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Metode ini diterapkan terutama di prasekolah dan sekolah dasar. Meskipun ada juga yang menerapkannya hingga jenjang pendidikan menengah. Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan pengamatan klinis dari guru (sering disebut “direktur” atau “pembimbing”).

Di Malaysia, pendidikan prasekolah menggunakan pendekatan fun with learning dan ada ujian linus (literasi dan humanisi). Orang tua peserta didik juga mengharapkan anak untuk tidak hanya bermain dan guru harus memastikan anak bisa linus. Kini tidak ada lagi pemeriksaan tetapi

penilaian membaca dan menulis. Kegiatan bermain tetap akan dikaitkan dengan pelajaran menulis. Ada 4 tahapan pembelajaran yang dilakukan yaitu, membaca, menulis, mengira, menakul. Hasil analisa yang telah dilakukan menunjukkan bahwa anak yang berkebutuhan khusus tetap dapat mengikuti ujian linus dengan waktu yang lebih lama dari anak normal yang hanya 2-3 bulan.

Berbeda dengan di Indoensia, anak-anak yang baru masuk sekolah bisa ditunggui oleh orang tuanya, di Tadika Bestari tidak begitu. Meskipun anak baru masuk tetap harus ditinggal oleh orang tuanya, selama di sekolah semua menjadi tanggung jawab Cikgu atau guru di sekolah. Makanya tak heran tidak seorang pun orang tua yang menunggu anaknya di sekolah. Tak terkecuali Hilmy. Mungkin ini cukup berat buat anak umur empat tahun yang baru tinggal di negeri orang bersama orang asing yang benar-benar baru dikenalnya. Ditambah dengan bahasa Melayu yang sedikit berbeda dengan Bahasa Indonesia yang kesehariannya dia pakai. Cikgu Hamidah yang saat itu menjadi Kepala Sekolah Tadika Bestari terus meyakinkan kami bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan kami pun dipersilakan pulang dulu untuk nanti saat jam pulang kami menjemput kembali ke sekolah. Walaupun dengan hati berat begitu pun Hilmy yang saat itu masih tampak ketakutan kami tinggal, akhirnya kami pun pulang dulu.

Hari-hari berikutnya Hilmy rupanya masih enggan sekolah, hingga untuk awal-awal dia sering bolos sekolah. Kami berusaha terus membujuknya. Alhamdulillah, ternyata di situ ada anak salah seorang teman kantor suami yang sama-sama berasal dari Indonesia yang sudah lama sekolah di situ. Sehingga si bungsu pun kini punya teman bermain dan ngorol dengan bahasa Indonesia. Kami pun mulai memberanikan diri anak diantar dan dijemput sekolah memakai jasa kendaraan antar-jemput anak. Kami percaya dengan layanan antar-jemput anak itu karena sopir kendaraannya adalah seorang ibu dari murid tadika itu juga, namanya Azizah.

Suatu hari Azizah memintaku agar menjemput di bawah apartemen setelah menelepon supaya aku tidak lama menunggu di bawah. Akupun menuruti sarannya itu. Sambil menunggu Azizah menelepon aku asyik membereskan pekerjaan di apartemen. Setelah lama menunggu ternyata Azizah tak kunjung menelepon. Aku pun segera turun dari lantai 13 tempat kami tinggal ke lantai bawah. Dan ternyata kulihat Hilmy telah menunggu di bawah dengan mata berlinang. Rupanya Azizah lupa meneleponku dan dia kira aku sudah menunggu di bawah. Makanya dia menurunkan si bungsu begitu saja setelah sampai depan apartemen. Berbagai perasaan campur aduk, menyesal iya sedih juga iya. Sebenarnya ada sekuriti yang berjaga di bawah tapi mungkin anakku belum

terbiasa dengan mereka apalagi melihat sosok mereka yang tinggi besar dengan bahasa yang belum dimengerti pula oleh anakku. Akhirnya kupeluk Hilmy dan kugandeng tangannya menuju Max Value, super market yang berada di lantai dasar apartemen kami. Kubelikan dia sebuah es krim coklat kesukaannya, Dia pun tampak senang dan segera melupakan kesedihan serta ketakutannya tadi.

Walaupun kami tak lama tinggal di negeri jiran, Malaysia, tapi banyak hal yang dapat kami pelajari sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi kami terutama saat menyekolahkan anak-anak di negeri orang. Semoga tulisan ini pun bermanfaat dan menjadi inspirasi buat yang ingin juga menuliskan pengalamannya selama tinggal di negara lain.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This