Menulis dengan Adab dan Etika

by | Oct 6, 2021 | Pojok

Views: 0

Bila banyak yang bingung dan merasa tidak mampu berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, cobalah untuk mulai menulis dengan adab dan etika. Bahasa merupakan benteng pertahanan, jati diri, dan kehormatan sebuah bangsa. Tulisan menjadi bukti adab dan kualitas sebuah bangsa. Tidak ada perubahan di dunia ini sepanjang sejarah kehidupan manusia modern, yang tidak dimulai lewat kata, bahasa, dan tulisan.

Daya baca dan daya bahasa merupakan kemampuan intelektual yang tertinggi. Tidak ada makhluk lain yang tercipta dengan kemampuan daya baca dan daya bahasa selain manusia. Tidak ada juga makhluk lain yang mampu menulis seperti manusia. Tentunya anugerah dan rahmat luar biasa ini jangan sampai disia-siakan, tetapi hendaknya digunakan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya agar berguna dan bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi semua.

Kemampuan daya baca dan daya bahasa yang tinggi, ditambah dengan kualitas intelektual yang juga tinggi, serta kemampuan mengolah rasa dengan imajinasi yang terarah, akan mampu membuat seseorang menghasilkan pemikiran dan karya seni original dan berkualitas. Tidak hanya sekedar berhalusinasi atau berimajinasi liar tanpa batas dan tidak terarah, tetapi justru mampu mengarahkan diri untuk menemukan masalah hingga solusinya, yang dituangkan dalam ragam bentuk karya dan hasil pemikiran. Jadinya, bukan hanya sekedar “yakin”, ikut-ikutan, atau menjadi “bodoh” dan sombong yang berujung kepada kerusakan dan penghancuran.

Menulis itu sendiri bisa lebih dari ‘literasi”, sebab kemampuan menulis dengan kualitas yang tinggi, original, dengan bahasa yang berkualitas, penuh adab dan etika, memiliki arti dan makna mendalam, dengan pemilihan kata yang tepat dan sesuai, tentunya membutuhkan proses. Bukan sekedar belajar teknik menulis, tetapi kemampuan untuk memaknai arti dan makna setiap kata, bahkan simbol yang ditulis. Imajinasi secara menyeluruh yang membuat karya bukan sebagai objek atas pemikiran, keinginan, rasa, dan lain sebagainya, tetapi sebagai subjek atas rasa syukur dan hormat kepada Yang Maha Kuasa, tentunya sangat membutuhkan kematangan dalam jiwa dan pemikiran, kemampuan untuk mengerti bukan sekedar tahu. Oleh sebab itu dibutuhkan wawasan yang luas dengan kemerdekaan berpikir yang mengerti batas dan koridornya secara terarah untuk menjadikannya demikian.

Masa lalu dipenuhi dengan karya tulisan yang ditulis oleh para pemikir, tokoh besar, pemuka agama, ilmuwan, seniman, dan lain sebagainya, meski dengan teknologi sederhana dan belum ada sekolah seperti saat ini. Mereka paham betul pentingnya menulis, menghargai tulisan, dan menghormati orang-orang yang menulis. Tidak sembarangan menghina, menuduh, apalagi merendahkan dan berpikir buruk atas mereka yang sudah menulis, kecuali bila ada kepentingan politik dan maksud buruk di hati mereka yang tidak merdeka, bodoh, dan jahat. Kini, dengan kemajuan teknologi dan katanya sekolah jauh lebih tinggi, kenapa malah sebaliknya?! Lebih banyak yang hanya banyak bicara dan tidak menulis. Bicara pun sembarangan tanpa adab dan etika, tetapi ingin dihormati dan dihargai. Menghargai anugerah Allah saja tidak mampu, untuk apa dihormati dan dihargai. Bagaimna bila demikian?!

Ini belum bicara soal konsistensi, sebab tulisan hendaknya sesuai dengan perbuatan. Bila hanya sekedar lisan, sangat mudah dilupakan dan bahkan ucapan sendiri seringkali tidak didengar, hanya diucapkan saja. Untuk berani berbuat sesuai dengan ucapan sendiri, apalagi nasehat bagi orang lain, dan menunjuk jari pada diri sendiri atas semua kesalahan yang dibuat tidak mudah. Sementara tulisan menjadi bukti kuat, dusta pun tetap tercatat dengan baik. Tidak mampu berbuat sesuai dengan tulisan sendiri, jauh lebih berat resikonya terhadap diri sendiri yang akan tersimpan sebagai barang bukti dengan masa waktu tak terhingga sampai akhir jaman.

Jadi, pikirkanlah kembali. Menulis itu bukan sekedar menulis. Menulislah dengan adab dan etika, bukan untuk orang lain tetapi untuk kehormatan dan “kualitas” diri sendiri. Tidak usah menilai yang lain, buktikan dengan karya tulis sendiri yang berkualitas, penuh adab dan etika.

Bandung, 6 Oktober 2021

Mariska Lubis

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This