Menolak Tua Apalagi Gemuk

by | Mar 28, 2022 | Essai

Oleh: Marra Narayan

Diriku kadang terheran, mengapa rasanya semakin banyak kulihat mereka berbadan besar dan bermuka tua? Beberapa di antara mereka nampak masih berseragam, secara angka seharusnya mereka tidaklah setua kelihatannya. Apakah gejala tersebut yang dinamakan awet tua? 

Diriku tidak ingin terkesan menyinggung, hanya saja diriku ingin muntah rasanya ketika melihat gumpalan lemak mereka berdansa. Diriku dulu pernah merasakan menjadi orang gendut dan diriku tidak ingin kembali ke masa tersebut, sekarang diriku hanyalah seorang makhluk kekurangan berat badan. Tidaklah perlu terlihat bagaikan mereka para pemilik otot besar dengan perut bagaikan roti sobek, yang penting tidak gemuk. 

Lebih parah ketika diriku melihat mereka berkeringat setelah melakukan sesuatu. Terkadang diriku kesal karena secara otomatis diriku membayangkan bagaimana baunya, mungkin itu sebabnya mengapa diriku selalu merasa mual melihat keberadaan mereka. Jangan tanya padaku mengapa diriku membayangkannya, diriku juga tidak mengetahui jawabannya. Melelahkan sekali, meresahkan saja. 

Sekarang mereka bermuka tua. Jika dibandingkan dengan badan gemuk, sepertinya akan lebih sulit menentukan penyebab utamanya. Garis rambut tanda kebotakan atau kumis tebal tidak membantu kelihatan awet muda pada laki-laki, masalahnya mengapa perempuan terlihat lebih banyak mengidap penyakit awet tua daripada laki-laki? Bukankah biasanya perempuan lebih sering memikirkan cara tampil awet muda? Mengapa malah terlihat sebaliknya? Setidaknya begitulah yang kutemukan dari berkeliaran di luar rumah. 

Para pelajar sekolah terlihat bagaikan pasangan ibu-ibu dan bapak-bapak, sementara ibu-ibu senam nampak seperti emak-emak menunggu ajalnya tiba. Guru sekolah terlihat seolah akan pensiun walau sebenarnya masih lama, malah mereka yang kelihatannya masih punya waktu berujung pensiun duluan. Diriku memang tidak mengetahui perjalanan hidup mereka sampai dapat terlihat demikian, entah mereka memang pasrah atau tidak peduli diriku tidak mengetahuinya. 

Diriku hanya tidak ingin berakhir seperti mereka atau memiliki pasangan seperti mereka. Bukannya diriku ingin membeda-bedakan, faktanya saja mereka memang sudah berbeda dan tidak perlu disamakan. Maaf saja diriku punya selera. Atau mungkin merekalah yang sebenarnya memiliki penuaan normal dan dirikulah sebuah kejanggalan? Entahlah, lagipula umur hanyalah angka, kan enak kalau dapat terus dibilang muda. 

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This