Menjadi Manusia Berbudi

by | Nov 7, 2021 | Essai

Sepi, sunyi, senyap, hujan pun kembali turun membawa dingin membelai kulit. Langit gelap, cahaya hanya berasal dari bohlam yang dialiri listrik. Terangnya terbatas, listrik padam cahaya pun hilang.
Sembrawut kabel dari tiang listrik di pinggir jalan merusak pemandangan. Ada juga kabel listrik yang menumpang pada tiang telepon.

Kabel listrik saja menumpang pada tiang telepon, bukan pertanda perusahaan listrik tidak mampu membeli tiang, tapi cenderung pada aji mumpung. Tidak tahulah, apa ada kesepakatan antara listrik dan telepon sebelumnya, itu urusan mereka.

Beda dengan manusia, sekarang kebanyakan manusia yang ingin menumpang pada manusia lainnya selalu ada kesepakatan. Jika yang menumpang dianggap melanggar, maka terimalah nasib, kena usir oleh yang memberi tumpangan.

Bagaimana pula dengan manusia yang menumpang di bumi ini? Walau berasal dari tanah kembali ketanah, sifatnya adalah sementara, menumpang.

Kepada siapa manusia menumpang? Kenapa pula dikatakan menumpang?

Manusia menumpang kepada Yang Menciptakan Bumi. Dikatakan menumpang, karena ada awal dan akhir, walaupun manusia itu sendiri tidak tahu akhir, tapi manusia bisa belajar dari awal. Awal atau masa lalu, akan bisa dipelajari, baik dari buku maupun dari tutur para guru. Dan bisa tersimpan dalam otak.

Manusia punya otak yang memiliki ruang untuk menyimpan masa lalu, seperti memori handphone sekarang ini. Dan daya tampung penyimpanan juga berbeda-beda pada setiap manusia. Itulah kelebihan manusia dari makhluk lainnya. Tapi manusia tidak bisa menjangkau masa yang akan datang, walau zaman sudah secanggih sekarang, tapi tetap otak manusia tidak akan bisa menembusnya. Karena itu rahasiaNya.

Otak digunakan untuk berfikir hingga melahirkan akal, yang akan menuntun tubuh dalam bersikap. Akal ada untuk tameng dari nafsu. Jika nafsu mengalahkan akal, maka si tubuh akan terima nasib, budi pun akan luntur.

Manusia dianggap berakal karena ada budi, bukan karena kaya harta atau jabatan. Sebagian manusia bisa mencari kekayaan dan jabatan, baik secara jujur maupun dengan cara curang. Dalam cara menggapai itulah otak bekerja. Bagi yang mendapatkan denga cara jujur, berarti akal mereka fungsikan dengan baik. Yang mendapatkannya dengan cara curang, berarti akal telah terselimuti oleh nafsu hingga budi pun luntur bahkan hilang.

Lantas bagaimana pula dengan mereka yang tidak kaya harta dan tidak punya jabatan?

Seperti memori pada handphone tadi, ada yang besar kapasitasnya, tapi ada juga yang kecil. Pada handphone yang mempunyai kapasitas kecil, maka muatannya juga sedikit, begitu juga sebaliknya. Tergantung dengan porsi yang sudah ditentukan.

Tuhan itu Maha Adil, kalau semua kaya harta dan semua punya jabatan apa jadinya siklus hidup ini. Si kaya yang baik tidak bisa bersedekah karena semua orang sudah kaya. Begitu juga kalau semua punya jabatan, lantas siapa yang akan diurusnya. Andaikan saja mereka saling urus, nafsu akan maju kedepan, semua akan kacau. Karena itulah setiap manusia berbeda-beda. Dari situ bisa dilihat ketidak mampuan manusia menembus rahasiaNya.

Fungsikanlah otak dalam berfikir agar terlahir akal untuk menjaga diri dari nafsu dan sadar bahwa hidup hanya sementara. Menumpang di bumi ciptaanNya

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This