Menginjak Harga Diri, Harkat dan Martabat sebagai Manusia Merdeka Hati

May 31, 2023 | Prosa

Views: 0

Seperti tulisan usang tidak bermakna, tercatat, tertulis cukup panjang, dan terbaca setiap waktu oleh penginjak bumi pertiwi. Seraya tak berarti dan tak berguna, namun tetap dijadikan pijakan permanen setiap kali dikumandangkan.

Apalagi pada momen yang begitu tinggi nilainya, semua yang mempunyai kehendak menyuarakannya, seakan sebenarnya memang benar dan benar adanya. Kalau tidak semut-semut di dalam, di luar semakin bergentayangan melahapnya.

Sesungguhnya sangatlah tepat untuk memberikan batas-batas, baik pada garis vertikal maupun horizontal, namun masih ditabrak dibuatnya miring ke kanan dan kiri. Apalagi ada hal peluang menguntungkan, berlomba lari cepat secepat angin kehendak memorak-porandakan serta mencabut akarnya. Apakah memang demikian adanya untuk dilakukan?!

Berjalannya waktu pada tahapan paling tidak diketahui di titik terendah, tatkala perubahan belum terjadi berupaya bagaimana menggali lubang sedalam-dalamnya dengan kekuatan yang ada. Jika di kala waktu runtuh tak berdaya tarikan nafas masih dirasakan untuk kehidupan di masa mendatang.

Tampak kasat mata, lubang dua telinga mendengar, pikiran dan hati tersambung merasakan. Alangkah tidak tepat pada masa terang kahanan sedemikian rupa, di masa kegelapan tentunya tidak demikian. Bagaimana bangkit berdiri tegak di kaki sendiri, merapatkan ujung kaki saling memperkuat untuk kebangkitan dari cengkeraman.

Segar pemikiran memilah-milah, mati rasa dalam mengenang sesuatu hal yang tidak dilakukan. Meneruskan dengan berbagai cara atas kehendak kewenangan sesaat, teraih dalam genggaman, duduk bertengger bak raja sehari membawa palu gada, tiada terasa penggerogotan sendi di sisi paling dalam.

Jeritan hati mengendap di belahan relung rongga dada, terasa menangis tiada keluar air mata, kehendak mengangkat kedua tangan jeruji menghadangnya. Terasa berat menyanggah keadaan semakin memberatkan, berpijak di lapisan tanah maupun bebatuan seakan berpijak bukan tempat yang terlahirkan.

***

Pemikiran sudah hanyut, gelombang air samudra

Lepas terbebas tak tentu arah, berselancar menyenangkan

Kesempatan tiada terulang, kerugian tidak dilakukan

Hempasan bukan penghalang, tujuan tepat sasaran

Terang benderang di masa kini, dimanfaatkan pengejaran

Sejangkah kaki tidak diayunkan, terkunci sendiri

Ke dua tangan tidak dilambaikan, gagal kolaborasi

Beranggapan samar-samar, jutaan netra saling memandang

Kegelapan bagian masa kelam, terlepas dari cara pandang

Ukiran terpatri di masanya, hanya sebagai bayang-bayang

Biarlah berlalu bagian masa lalu, terkini perburuan silih berganti

Derapan langkah kaki teriringi, di antara satu dan lainnya

Suara terkumandang, seraya kebenaran ada dalam satu jiwa

Hanya bunyian semata, pada kenyataan hal biasa

Rintihan terdengung membahana, terdengar satu lubang telinga

Tiada terurai mempengaruhi, lepas landas tak berarti.

Surabaya, 30 Mei 2023

Yudi Ento Handoyo

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This