Mengapa Saya Menulis?

by | Aug 30, 2021 | Pojok

Views: 0

Banyak yang bertanya mengapa saya menulis dan untuk apa. Tidak sedikit yang tidak menerima bila saya menjawab, “Saya menulis karena Allah”. Barangkali jawaban saya tersebut dianggap terlalu bias dan bisa ke mana-mana diartikannya, sehingga sulit untuk dipahami. Padahal, itulah adanya. Saya tidak akan mampu menulis bila bukan karena Allah.

Perjuangan konsiten menulis melewati banyak sekali aral rintangan dan bahkan caci maki serta hinaan. Tuduhan seringkali dilontarkan tanpa diberikan kesempatan untuk menjelaskan. Satu kata saja bisa menjadi masalah besar yang terus didebat, penjelasan yang diuraikan tidak mau diterima apalagi dipahami. Sudah berulang kali banyak tulisan dirusak, dicorat-coret, dan bahkan dibakar, disalahartikan dan dipelintir. Diancam sudah bukan barang baru lagi. Menjadi sebuah tantangan serius yang justru membuat saya semakin ingin menulis. Manusia bisa berkata apa saja, tetapi pemikiran yang ditulis hendaknya dibalas dengan pemikiran yang juga dituliskan, bukan dengan perdebatan kata-kata lisan hanya untuk mencari kepuasan dan kemenangan.

Kata “keledai” yang sering saya gunakan dalam menulis dianggap menghina dan tidak menghormati sesama manusia. Padahal, kata “keledai” saya ambil dari pengandaian yang dituliskan di dalam kitab suci. Saya menolak menggunakan kata “cebong dan kampret” yang populer digunakan pada waktu pemilihan presiden 2019 lalu, sebab saya tidak paham arti dan makna katanya secara utuh. Sementara “keledai dan kuda” banyak dijelaskan di dalam kitab suci dan saya pelajari bagaimana hewan-hewan tersebut secara ilmu pengetahuan. Allah tidak bermaksud menghina manusia saat menggunakan perumpamaan “keledai”, lantas mengapa saya dilarang mengikuti cara Allah memberikan pengandaian?!

Bagaimana homo sapiens yang termasuk mamalia, sama seperti banyak hewan mamalia lainnya, kemudian menjadi berbeda dan benar sebagai manusia, itu yang menjadi pokok pikiran utama dalam benak saya. Fitrah manusia dengan segala nafsu seperti hewan mamalia tetap ada dan tidak bisa dihilangkan. Lahir, tumbuh berkembang, belajar, mencari makan, bekerja, punya rumah, berkeluarga, memiliki keturunan, dan mati tidak ada bedanya dengan makhluk hidup lainnya, termasuk keledai. Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi tidak sama?! Ya menulis salah satunya, sebab hanya manusia yang mampu menulis, hewan tidak mampu.

Jika pada saat kecil dan remaja, menulis hanya menjadi hobi dan pelampiasan, seiring waktu banyak yang berubah. Menulis menjadi belajar dan mengasah diri lewat perenungan akal dan hati. Di sisi lain juga sebagai tunduk dan rasa hormat kepada Yang Maha Kuasa. Bisa saja saya menulis sesukanya, tetapi tidaklah pantas sebab Allah pun tidak sembarangan. Ada tanggung jawab dan kewajiban yang hendaknya didahulukan, bukan hak yang terus diminta. Sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, alangkah baiknya berusaha selalu memberikan yang terbaik kepada sesama, bahkan lewat menulis. Tidak mampu saya membalas semua kebaikan Allah selain daripada berbuat bagi sesama yang lain, ciptaan Allah.

Setiap kali saya membaca, tulisan apapun, saya mendoakan penulisnya. Sebab apapun itu menjadi ilmu yang berguna dan bermanfaat, tergantung pada diri saya sendiri bagaimana menggunakan dan memanfaatkannya. Begitu juga setiap kali saya hendak menulis, saya memohon kepada Yang Maha Kuasa, untuk menggunakan saya menulis atas kehendakNya. Saya memang ada tetapi juga tiada, tidak ada yang saya miliki bahkan kemampuan menulis. Semua hanya milik Allah dan hanya karenaNya saya menulis. Di dalam pelukanNya, saya menulis.

Tidak ada kata atau kalimat lain yang mampu saya ucapkan untuk memberikan penjelasan dan alasan mengapa saya menulis. Tidak ada kata yang cukup mampu menguraikan apa yang saya maksud. Tidak perlu juga dimengerti ataupun memaksa mengerti, semua ini bagi saya adalah hidayah pemberian Yang Maha Kuasa. Setiap makhluk diberikan hidayahnya masing-masing sesuai kehendakNya dengan maksud dan tujuan masing-masing, dengan rencana terbaik dariNya.

Yang menjadi prioritas saat ini hanyalah untuk mengajak semua menulis. Lagi-lagi untuk membuktikan bahwa manusia tidak sama dengan mamalia ataupun makhluk ciptaan Allah lainnya, sekaligus sebagai syukur dan tunduk kepadaNya. Semoga apapun yang dituliskan hanya karena Allah, bukan karena alasan eksistensi, uang, ataupun alasan lainnya, diterima sebagai amal ibadah di keabadian, yang berguna dan benar bermanfaat bagi semua. Amin.

Bandung, 20 Agustus 2021
Mariska Lubis, S.E., M.Int.S.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This