Marras : Kambing Peru?

by | Jul 13, 2022 | Essai

Oleh: Ridwan Saidi

Meski memiliki tampang sama, marras bukanlah kambing (Foto atas). Politikus pengekor tak disebut marras. Ini hewan khas pegunungan Machu Pichu, Peru.

Orang Peru diperkirakan migrasi ke Andunisi sejak VIII/IX M. Mereka sendiri menyebut diri orang Lima, kota di Peru, yang kemudian jadi IKN. De Lima akhirnya menjadi buah delima. Sebaran orang Peru cukup merata. Umumnya di Andunisi mereka retailer.

Ke Andunisi mereka membawa daun mint. Aturan pakai dari daun mint itu cuci dulu daunnya, kemudian direbus. Lalu minum airnya dan tubuh akan terasa hangat. Dalam Melayu lama hangat itu padang. Dalam bahasa serat Pararaton mint itu palapa.

Mint tumbuh di kawasan pegunungan. Misalnya Gunung Padang, Cianjur. Di puncak Gunung Padang ada barisan batu panjang. Yang melingkar itu paquita uchicus incanan, makam wanita. Yang persegi panjang macho uchicus incanan, makam pria.

Makam-makam ini ada di Lampung, juga di Cipari, Kuningan. Di Jakarta pernah ada dan disebut gong, Teluk Gong. Lingkaran bebatuan itu di tengahnya ada sebuah batu di permukaan gong. Di Depok juga disebut gong. Kalau orang Betawi menyebut instrumen gong jadi go’ong.

Di Gunung Padang tak ada piramida seperti dulu pernah ditebak oleh arkeolog UI. Piramida itu peradaban Maya. sedangkan orang Peru itu masuk ke dalam peradaban Inca.

Di Jakarta hunian Peru disebut Jamba Tana Lima, atau Jembatan Lima. Tapi ada juga yang sebut Kampung Lima saja seperti di Kebon Siri. Kalau di Sunda Kalapa hunian orang Peru disebut Pakar Belanda permak jadi Batterij. Orang-orang Peru itu pada umumnya memeluk agama Katolik.

Peradaban Inca juga melintas Karibia. Misalnya perkataan tabu (larangan) itu Karibia. Orang-orang Karibia seperti Kolombia yang membawa perkataan kali.

Bagaimana keakraban mereka dengan masyarakat lokal? Untuk menjawabnya saya kutip lagu kanak-kanak Betawi:

Sim sim ka lima lima ka sim.

Terjamahannya:

Selamat, selamat orang-orang Peru.

Artinya, masyarakat lokal suka dengan orang-orang Peru dan bangsa-bangsa peradaban Inca umumnya.

RSaidi

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This