Mahasiswa Muda, Profesional dan Berkompetisi

by | Dec 25, 2021 | Essai

Mahasiswa dan Sumpah Pemuda
Mahasiswa identik dengan generasi muda. Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan kawan-kawan berjuang untuk meraih kemerdekaan bangsa sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Salah satu tonggak utama sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia adalah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta. Sebuah tekad dan semangat para pemuda-pemudi Indonesia untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda menegaskan cita-cita terwujudnya tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, membangkitkan jiwa dan sikap nasionalisme seluruh rakyat Nusantara, mengukuhkan dan mempertebal rasa persatuan dan kesatuan bangsa, serta memperluas usaha-usaha dan kegiatan demi tercapainya kemerdekaan.

Sumpah Pemuda mempersatukan potensi bangsa, dan menggelorakan persatuan menghadapi penjajah. Semangat membara anak-anak muda menambah energi positif generasi penerusnya, menumbuhkan kebanggaan dan semangat juang meraih tujuan bangsa. Prasasti Sumpah Pemuda menginspirasi generasi masa kini untuk mengambil langkah dan tindakan yang bermakna bagi bangsa Indonesia.

Inspirasi Al-Quran dan Pujangga tentang Pemuda
Allah swt berfirman dalam Al-Quran tentang para pemuda yang mengasingkan diri ke sebuah gua untuk menyelamatkan iman. Allah swt tidurkan mereka di dalam gua 300 tahun menurut perhitungan tahun syamsiyah, yakni berdasarkan peredaran matahari, dan plus sembilan tahun menurut perhitungan tahun qamariyah, yakni berdasarkan peredaran bulan. (QS Al-Kahfi/18:25).

Kami menceritakan kepadamu kisah mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan, dan Kami pun memberi tambahan petunjuk kepada mereka. (QS Al-Kahfi/18:13).

Allah swt mengabadikan doa mereka dalam Al-Quran, ingatlah tatkala para pemuda pergi ke gua, lalu mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami rahmat dari pihak-Mu dan dalam perkara kami berikanlah kepada kami jalan yang benar.” (QS Al-Kahfi/18:10).

Nabi Ibrahim as menghadapi kaum penyembah berhala. Bahkan bapaknya pun termasuk pemahat patung sembahan mereka. Ibrahim as berkata kepada bapaknya dan kaumnya, sebagaimana dinarasikan Al-Quran dalam QS Al-Anbiya`/21:51-71.

Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim sifatnya yang lurus, dan Kami sudah mengenalnya. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu sembah begitu tekun?” Mereka menjawab, “Kami dapati leluhur kami menyembahnya.” Ibrahim berkata, “Sungguh kamu dan leluhur kamu dalam kesesatan yang nyata.”

Mereka menjawab, “Kau datang kepada kami membawa kebenaran ataukah kau hendak memperolok kami?” Ibrahim berkata, “Tidak, bahkan Tuhan Pemilik langit dan bumi, Dialah yang menciptakan semua dari tiada; dan untuk semua kebenaran ini aku adalah saksi.” Dan demi Allah, sungguh aku akan melakukan tipu muslihat terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu bertolak pergi.” Demikian, maka dia hancurkan berhala-berhala itu menjadi berkeping-keping, kecuali yang terbesar di antaranya, supaya mereka kembali kepadanya.

Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan ini terhadap sembahan-sembahan kami? Sungguh ia termasuk orang yang zalim.” Mereka berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang menyebut-nyebut tentang mereka, namanya Ibrahim.” Mereka berkata, “Bawa dia ke depan mata orang banyak, supaya mereka memberikan kesaksian.”

Mereka bertanya, “Engkaukah yang melakukan ini terhadap sembahan-sembahan kami, hai Ibrahim?” Ia menjawab, “Tidak, malah itu dilakukan oleh yang terbesar dari mereka! Tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Mereka pun menyadari diri sendiri dan berkata, “Kamu sendirilah yang zalim!”

Mereka terkejut dengan perasaan malu, mereka berkata, “Kau tahu benar bahwa berhala-berhala itu tak dapat berbicara.” Ibrahim berkata, “Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat sedikit pun dan tidak mendatangkan mudarat? Celakalah kamu dan yang kamu sembah selain Allah. Tidak jugakah kamu mengerti?”

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan tolonglah berhala-berhalamu, jika kamu sungguh hendak lakukan!” Kami berfirman, “Hai api, jadilah benda yang dingin dan aman bagi Ibrahim!” Mereka hendak berbuat makar kepadanya, tapi Kami jadikan mereka yang paling rugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan kemenakannya, Lut, ke negeri yang Kami beri berkah untuk umat manusia. (QS Al-Anbiya`/21:51-71)

Innal fata man yaqulu ha ana dza // wa laisal fata man yaqulu kana abi –
Pemuda sejati ialah yang berkata, “Inilah aku!” // Bukan yang berkata, “Ini bapakku.”

Inna fi yadisy-syubbani amral ummati // wa fi iqdamiha hayataha —
Di tangan para pemuda urusan umat, dan di dalam ketangguhannya kejayaannya
Syubbanul yaumi rijalul ghadi — Generasi muda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Mahasiswa dan Profesi
Mahasiswa niscaya merancang profesi, yakni bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. Profesi ialah sebuah pilihan sadar seseorang, sebuah “pekerjaan” yang dilakukan dengan konsisten dan kontinu ditekuni. Profesi adalah pekerjaan kelompok terbatas yang memiliki keahlian khusus melalui training dan/atau pengalaman lain, sehingga dapat membimbing orang lain dalam bidang keahliannya.

Profesi adalah kombinasi fitur, kewajiban, dan hak yang dibingkai dalam seperangkat nilai-nilai yang menentukan bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana tindakan dilaksanakan. Penyandang profesi tidak semata-mata menggunakan keahliannya untuk tujuan mencari nafkah, tetapi juga mempunyai misi sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.

Profesi adalah pekerjaan mulia yang memerlukan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan tinggi yang diperoleh melalui pendidikan formal, pelatihan, dan prakatik pengalaman langsung, serta komitmen moral dan kode etik yang ketat dan berdapak luas bagi kepentingan masyarakat umum.

Profesionalisme adalah semangat, paradigma, spirit, tingkah laku, dan gairah untuk terus-menerus secara dewasa (mature) dan intelek meningkatkan kualitas profesinya. Orang yang profesional mengandalkan keahlian tinggi dan komitmen mendalam atas pekerjaannya. Seorang profesional selalu mempersoalkan (concern) apakah karyanya sesuai dengan kaidah, pedoman, aturan norma, dan asas yang berlaku.

Seorang profesional memiliki integritas, pola pikir, sikap jiwa, dan gerak hati nurani yang dimanifestasikan dalam ucapan, tindakan, dan perilaku jujur, konsisten, berkomitmen, objektif, berani bersikap dan siap menerima risiko, serta disiplin dan bertanggung jawab.

Mahasiswa dan Kompetensi
Mahasiswa niscaya membangun kompetensi. Setiap profesi membutuhkan kompetensi, yakni kemampuan, kapabilitas, keahlian, kepiawaian, dan kehandalan.

Kompetensi adalah karakteristik-karakteristik yang berhubungan dengan kinerja unggul dan efektif dalam pekerjaan berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku.

Kompetensi memiliki komponen motif, karakter pembawaan, citra diri —self image, self concept, self esteem, peran sosial, dan keterampilan. Kompetensi terbentuk oleh kepercayaan dan nilai, keahlian, keterampilan, pengalaman, karakteristik personal, motivasi, isu-isu emosional, dan kapasitas intelektual.

Seseorang yang berintegritas memiliki pola pikir positif, konstruktif, inovatif, dan kreatif, sikap hati yang tulus dalam melaksanakan kegiatan; ucapan selalu benar, sopan, jelas, dan mudah dimengerti, tindakan dan aktivitas yang selalu dinamis, progresif, dan revolusioner dalam nafas spiritualitas guna mencapai prestasi cemerlang, berperilaku atas dasar moral dan akhlak mulia.

Sepuluh jalan Mahasiswa untuk meraih impian:
(1) komitmen;
(2) bertanggung jawab secara pribadi;
(3) kontribusi;
(4) fokus;
(5) kejujuran;
(6) kehormatan;
(7) kepercayaan;
(8) kelimpahan;
(9) keberanian;
(10) pengetahuan.

Selamat studi, berprestasi, dan berdedikasi untuk Negeri!

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This