Lucu Membuat Menangis

by | Aug 18, 2022 | Tajuk

Oleh: Rickardo Chairat

Sekarang banyak kasus kejahatan yang viral, bukan saja di kalangan netizen, dalam obrolan warung pun selalu menjadi bahan perbincangan. Salah satu kasus yang lagi hangat-hangatnya yaitu tentang pembunuhan aparat penegak hukum dan pencurian di salah satu minimarket yang ternama.

Kalau berkaca dari kejadian di awal tulisan ini, menurut saya belum tampak ada negara, ada demokrasi dan ada hukum hadir di sana. Memang benar, untuk kasus pembunuhan belum sampai ke meja hijau, tetapi di media-media diungkapkan bahwa ada indikasi telah terjadinya “kesalahan” dalam melakukan proses penanganan kasus tersebut. Mirisnya kesalahan itu dilakukan oleh orang yang tahu dan sangat paham tentang hukum. Dengan terjadinya kesalahan tersebut, secara langsung telah mempertontonkan sebuah kisah yang tidak mendidik.

Dan dalam kasus pencurian, sempat pula si pelaku secara tidak langsung bersama pengacaranya, “memaksa” korban, yang dalam hal ini adalah karyawan minimarket, untuk meminta maaf karena menyebarkan video tentang kejahatan yang dilakukan si pelaku. Meskipun akhirnya si pelaku juga meminta maaf, karena pihak minimarket bertindak tegas yang diwakili oleh pengacara kondang. Lucu bukan!?

Saya tidak ingin masuk ke dalam ranah hukumnya, karena itu sudah ada pihak berwajib yang menangani. Yang saya perhatikan dalam contoh dua kasus tersebut adalah, respons masyarakat umum tentang kondisi penegakan hukum di negeri kita ini. Banyak masyarakat berasumsi bahwa penegakkan hukum sekarang banyak yang tebang pilih. Mungkin asumsi tersebut lahir karena masyarakat membandingkan proses sebuah kasus sampai keputusan terhadap masyarakat tertentu berbeda dengan proses dan keputusan dengan masyarakat umum lainnya.

Dengan tertanamnya asumsi tersebut dalam pikiran masyarakat, bisa membuat rasa hormat terhadap instansi penegakan hukum menjadi merosot. Akibatnya negara yang digadang-gadang sebagai negara hukum juga ikut tercoreng.

Menurut saya tercorengnya negara bukan karena tindak tanduk oknum aparat penegak hukum, tetapi lebih kepada cara pengelolaan negara. Kita sering mendengar bahwa negara kita adalah negara demokrasi sekaligus negara hukum. Yang menjadi pertanyaan saya, apa sih, yang disebut dengan negara? Apa sih artinya demokrasi dan hukum?

Melihat dengan banyaknya pendapat tentang pengertian dari negara, demokrasi dan hukum, menunjukkan belum adanya satu kesimpulan pasti tentang definisi negara, demokrasi dan hukum itu sendiri.

Kalau begitu saya juga ingin berkesimpulan untuk ketiga hal tersebut meski saya bukan ahli (boleh dong, kan demokrasi… hehe).

Saya berpendapat bahwa negara adalah wilayah yang berdaulat, ada rakyat di dalamnya sebagai unsur utama yang akan membentuk suatu pemerintahan dan menyusun aturan-aturan agar kehidupan mereka bisa tertata guna mencapai kemakmuran. Oleh karena itu, lahirlah istilah demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat di mana di dalamnya ada norma-norma yang membentuk aturan-aturan atau hukum yang berfungsi untuk menata kehidupan berbangsa dengan tujuan akhir adalah keadilan.

Dengan begitu negara harus memberikan kemakmuran dan keadilan kepada warganya, apa pun istilah sistem pemerintahan yang dianut oleh negara tersebut.

Jadi dalam negara menurut saya seharusnya sudah ada demokrasi dan hukum, tidak perlu diembel-embeli lagi dengan negara demokrasi atau negara hukum. Apakah itu hanya sebagai simbol agar tampak lebih berwibawa?! Ingat dengan “ Berani Jujur Hebat”, ternyata korupsi tetap dahsyat.

Sangat disayangkan, mereka yang awalnya sebagai rakyat, setelah diberi kekuasaan untuk mengelola negara, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, malah mengubah attitude kerakyatannya dengan berbagai alasan.

Kata demokrasi dan hukum selalu menjadi bahan yang renyah dan enak disampaikan, demokrasi cenderung dianggap sebagai suatu kebebasan (dalam konteks masih sebatas wajar), pada saat yang sama kebebasan itu harus terkunci dengan hukum yang berlaku. Mirip seperti sabar ada batasnya, hehehe…

Saya jadi teringat dengan filsuf dari Amerika yang bernama Mark Twain (1835-1910) yang mengatakan:

“Berkat keberuntungan Tuhanlah di negara ini, kami memiliki tiga manfaat; kebebasan berbicara, kebebasan berpikir, dan kebijaksanaan untuk tidak pernah menggunakan keduanya”.

Bagi saya ungkapan di atas menggambarkan kondisi kita sebagai rakyat sekarang ini. Kita diberikan kebebasan untuk berbicara dan berpikir, namun di saat yang sama muncul aturan-aturan yang mengikat dan memaksa kita agar “bijaksana” karena akan ada sanksi yang akan menjadi pengiring di belakangnya. Lucu lagi, ya!?

Kalau banyak kejadian lucu terjadi di negara ini, kenapa malah banyak yang menangis!?

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This