Lidah

by | Aug 22, 2021 | Cerpen

“Karena lidah tak bertulang kalian anggap lumrah menyemburkan cacian, makian semaunya!”

Letupnya menahan amarah yang tertahan. Dinding hatinya bergetar. Bergolak. Sakitnya hati Mardi di hujani kata berjarum racun. Diambilnya pisau dapur yang diselipkan di balik bajunya. Matanya nanar menemukan sosok yang diakrabinya dua minggu terakhir dalam ruang pikirannya menagih bertemu. Perlahan dibekapnya mulut sosok itu dengan tangannya yang kasar dan menebal. Terlonjak kaget.Tercekat aliran nafas. Mata terbelalak. Meronta sosok itu di bawah tekanan yang kuat bagai buldoser menggilas tanpa ampun. Tidak sampai di situ, dituntaskannya rindu menghitam penuh dendam. Pisau itu telah melayang, turun melesat tepat di leher, memutus urat nadi. Bau anyir merebak melukis semburat merah di atas kasur.

Mardi tersengal menahan napas panik. Berpegangan pada pinggir tempat tidur. Keringat dingin mengucur membuat basah bajunya. Mimpi itu datang lagi. Begitu nyata tergambar. Masih tercium bau anyir di kamarnya. Diusapnya wajahnya berkali-kali dengan tangannya yang menebal oleh kerasnya pekerjaan.

Siang itu, dua minggu yang lalu, seperti biasa Mardi berangkat ke tempat kerjanya. Sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Milik pasangan bule dan perempuan asli Indo. Hampir tiga bulan Mardi bekerja ikut mandor Jarot. Mardi pekerja keras. Sekeras hatinya. Harga dirinya terlampau tinggi. Itu kelemahannya. Kejadian tak terduga menimbulkan luka teramat dalam bagi Mardi.

“Cuih, tak becus kau kerja!” Api keluar dari mulut laki-laki berbadan tinggi besar, berwajah pongah, dan berambut pirang. Air ludah tersembur bersama rentetan kata setajam sembilu. Melukai. Walau tak berdarah cukup melumpuhkan sendi-sendi harga diri. Mendidih bak api dalam sekam. Mardi mengingat setiap kata dan perlakuan yang diterimanya. Kaki mereka tunjukkan ke muka. Cipratan ludah mengenai muka menegangkan tangan Mardi yang sedang memegang palu.

Dua minggu sudah berlalu sejak Mardi memutuskan keluar dari tempatnya bekerja. Kuli bangunan di kompleks perumahan mewah di seberang kampung tempatnya tinggal. Sore itu, Mardi duduk di pinggir kali. Di atas sofa bekas, lapuk dan bau. Dibuatnya nyaman seolah berada di atas tatakan mewah. Namun, tetap saja. Kenyamanan tak pernah menghampirinya. Kali di depannya tergolek menghitam. Hadirkan bau menyengat. Menyeruak menerobos lubang hidung yang menganga bebas menikmati aroma. Bau kepilauan terperangkap di setiap aliran darah tak mau hilang. Memandang air kali yang menghitam membuat pekat pikirannya.

” Kang, cobalah lagi bertahan”.

Suara mandor Jarot meyakinkan Mardi. Tiga hari yang lalu Sang Mandor datang ke rumahnya. Membujuknya untuk kembali bekerja. Sifat keras kepala menutup telinganya.

“Sekali nggak, tetap nggak!” Sambil membuang putung rokok yang tinggal seujung.

“Keras kepala kamu, Di. Coba pikirkan anak istrimu. Mau kamu kasih makan apa mereka?” Mandor Jarot kehabisan akal.

Terdiam Mardi.

Mandor Jarot tidak pernah tahu dendam kesumat yang mendarah daging sulit untuk dihilangkan. Bukan hanya sekali tapi berulang. Cercaan, makian dan hinaan telah meracuni hati dan akal sehatnya. Wajah Warti, istri serta anaknya yang masih menyusu sedikit kabur dalam bayangannya. Terlalu tenggelam jiwanya dalam lautan sakit hati. Harga dirinya adalah harga mati.

Mardi adalah sosok laki-laki pekerja keras. Bukan seorang pemalas. Hasil pekerjaannya bagus sebagai kuli bangunan. Mardi termasuk orang kepercayaan Mandor Jarot. Sosok pendiam. Menyimpan semua kesulitan dan penderitaan dalam bilik hatinya.

Mardi seorang suami bertanggungjawab. Tapi ada rahasia terpendam yang Warti tidak mengetahuinya. Timbunan kemarahan tanpa sadar mengendap, membukit dan menggunung. Tinggal menunggu siap untuk meledak.

Dua minggu setelah Mardi keluar dari pekerjaannya dia selalu termenung di pinggir kali. Kebiasaan yang dilakukan selepas matahari menaik di atas ubun-ubun. Tak seperti biasanya dia membawa sesuatu di balik bajunya. Dia siapkan asahan untuk menajamkan pisau yang dia bawa. Pisau itu selalu dibawanya kemana dia pergi, bahkan saat tidur.

Hari penuntasan sudah direncanakan. Mardi beranjak menuju kursi kayu panjang untuk merebahkan diri. Pura-pura tidur. Warti melihatnya sebentar. Memastikan Mardi telah tidur. Dia kembali menemani Tegar anaknya. Tidur bersebelahan. Mardi tidur dengan resah.

Masih terngiang cacian, makian, berdengung di telinganya. Air ludah tersembur bersama rentetan kata beracun. Melukai. Walau tak berdarah cukup melumpuhkan sendi-sendi harga diri. Kaki mereka tunjukkan ke muka. Cipratan ludah mengenai muka menegangkan tangan Mardi. Dinding hatinya bergetar. Bergolak.

Di ambilnya pisau dapur yang diselipkan di balik bajunya. Matanya nanar menemukan sosok yang diakrabinya dua minggu terakhir dalam ruang pikirannya, menagih bertemu. Perlahan dibekap mulut sosok itu dengan tangannya yang kasar dan menebal. Terlonjak kaget. Tercekat aliran napas. Mata terbelalak. Meronta sosok itu di bawah tekanan yang kuat bagai buldoser menggilas tanpa ampun. Tidak sampai di situ, dituntaskannya rindu menghitam penuh dendam. Pisau itu telah melayang, turun melesat tepat di leher, memutus urat nadi. Bau anyir merebak melukis semburat merah di atas kasur. Mardi tersengal menghela napas panik. Berpegangan pada pinggir tempat tidur. Keringat dingin mengucur membuat basah bajunya. Mimpi itu datang lagi. Begitu nyata tergambar.

Terbangun Mardi dengan napas memburu. Rencana malam ini terlambat, pikirnya. Dia harus pergi ke rumah mewah itu. Seperti yang sudah direncanakan. Tercium bau anyir menyeruak ke hidungnya. Diusapnya wajahnya berkali-kali dengan tangannya yang menebal. Semakin tercium anyir darah. Begitu kuat menerobos kesadarannya. Dicarinya pisau yang selalu di sembunyikan di balik bajunya.

“Dimana pisau itu?” panik mencari di balik bajunya.

Tangannya terasa basah. Memerah. Berlumur darah. Masih dalam kebingungan, ia berdiri mencari. Berjalan menuju kamar tempat Warti dan anaknya tidur. Tercekat napasnya. Membeku langkahnya. Lukisan darah di atas kasur nyata. Dua orang paling berarti dalam hidupnya bersimbah darah. Pisau yang dicarinya tertancap di leher Warti. Bantal kesayangan Tegar berpindah tempat. Menutup seluruh wajah anaknya. Ini bukan mimpi. Nyata tergambar sesuai skenario yang tertanam subur dalam angannya. Bukan sosok itu yang tersungkur. Dendam pembawa petaka. Mardi menggila. Mardi berteriak. Meronta. Mencekik lehernya. Lidah tak bertulang. Membuat lubang besar di hati Mardi.

Baca Juga

1 Comment

  1. Erick

    mantap cerpennya…teruskan ibu Netty

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This