Lebih Banyak Artis Daripada Artos (Uang)

by | Oct 4, 2021 | Pojok

Views: 0

Tergelitik dengan ucapan seorang pengamen di sekitar Terminal Cicaheum, Bandung, yang mengaku biasa dipanggil “Extran John”, yang kritis dan nyelekit. Sebelum dia bernyanyi, dia sempat berkata, “Beginilah Bandung. Lebih banyak artis daripada artos (uang)”, dengan nada datar namun helaan nafasnya terasa berat. Duh!

Sepertinya bukan hanya kota Bandung saja yang demikian, saat ini menjadi artis atau merasa artis, berlagak artis atau ingin diperlakukan bak artis, sedang merebak di mana-mana. Soal penampilan nomor satu, banyak hutang soal belakangan. Pakai barang palsu dan murahan tidak masalah, pokoknya mirip artis. Yang penting eksis dan tampil! Menyedihkan!!!

Semenjak media sosial benar-benar menjaring manusia-manusia di bumi ini untuk “tampil eksis”, menjadi hal yang biasa untuk berlomba mendapatkan eksistensi di dunia maya. Bahkan tak sedikit yang merasa sudah benar-benar seperti eksis karena memiliki jumlah followers yang banyak. Padahal, belum tentu demikian sebab dunia maya bisa benar-benar maya dan tidak jelas. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari, hingga terlalu larut dan terlena, bahkan terjebak di sana, tidak bisa membedakan mana realita dan maya.

Untuk urusan promosikan produk saja, misalnya. Tidak sedikit yang “over pede” mampu melakukan promosi sendiri, apalagi jika sudah sering mengikuti banyak workshop dan seminar. Maunya cepat saja, instant, seperti yang sudah duluan maju dan berkembang. Tentunya ini membuat prihatin, mungkin benar bisa, tetapi sebenarnya butuh keakhlian sendiri di dalam promosi. Untuk menulis kata-kata yang menarik dan berbeda, tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Uang banyak belum tentu bisa berhasil juga, kok!

Alhasil, dunia sosial media dipenuhi dengan “makhluk tak jelas dengan kata-kata tak beradab”, ada juga yang tampil baik dengan kata-kata manis, tetapi sesungguhnya palsu dan bahkan tidak paham dengan kata-kata sendiri atau perbuatannya. Ini menjadi kekonyolan luar biasa yang menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan dan kualitas sebagai manusia. Adab dan etika dilanggar dengan segala alasan, mau dianggap berkelas tapi faktanya justru rendah/murahan.

Yah ini sekedar pikiran liar yang terpicu oleh pengamen di dalam bus. Di dalam berpikir dan apalagi menulis, butuh kemerdekaan. Melihat sudut pandang lain dari sisi berbeda, bukan sebuah kesalahan ataupun dosa. Toh, bukan hanya sekedar ingin “ngartis” atau “mencari artos”, tetapi hanya ingin menulis dan bercerita saja.

Ponorogo, 21 September 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This