Laki-Laki Murahan

by | Mar 30, 2022 | Essai

Oleh: Marra Narayan

Dasar laki-laki, tanpa perempuan rasanya seperti tidak berguna. Banyak memang perempuan-perempuan murah menyebalkan pemeras laki-laki, masalahnya terkadang laki-lakinya seolah merasa betah dan tak ingin meninggalkannya. Entah memang perempuannya yang murahan atau laki-lakinya lebih suka dengan harga murah? 

Apa enaknya punya pasangan murah? Bukankah mereka justru berujung lebih mahal? Badannya saja besar berisi, kepalanya tak pernah diisi, vaginanya… Entahlah, diriku belum melihat vaginanya secara langsung untuk membuktikan. Diberi uang sedikit langsung diam dan menurut. Tunggu… Diriku mengerti sekarang, inikah gengsi seorang laki-laki? Selalu ingin terlihat lebih hebat daripada mereka perempuan? Tidak mau menerima kekalahan dan mencari yang lebih lemah untuk dapat dianggap menang. 

Mereka bilang laki-laki harus mampu menjadi seorang pemimpin dan dapat bertanggung jawab. Ketika seorang perempuan “cantik” mulai menggoda, sebuah penis masuk ke dalam vagina. Semurah-murahnya seorang perempuan, mereka nampaknya masih mampu mengendalikan pembelinya seorang laki-laki. Siapa yang murahan sebenarnya di sini? Semurah apa pun mereka menjual, tanpa pembeli tak akan ada gunanya. Bayangkan saja dirimu memancing di tempat tanpa ikan, sekeras apa pun dirimu berusaha hasilnya akan sia-sia. 

Apa artinya? Laki-lakilah yang membutuhkan perempuan, mereka ingin selalu dimanja dan ditemani sampai berlumuran air mani bila perlu. Diriku senang dengan perempuan, tapi tidak semua perempuan, hanya perempuan bervagina saja yang kuinginkan. Vagina asli dari seorang perempuan, bukan mereka dengan vagina palsu murahan pinggir jalan layaknya vagina-vagina lemah tak berdaya tempat laki-laki berkuasa apalagi perempuan berpenis. 

Sudahlah, lagipula laki-laki tidak pernah tumbuh dewasa. Mereka hanya akan tetap menjadi seperti seorang anak kecil manja haus akan kasih sayang seorang perempuan. Lagipula sudah pada dasarnya laki-laki memang lemah tak berdaya tanpa mereka perempuan, sama seperti putingnya tidak memiliki kegunaan. Setidaknya mereka sadar dengan ketidakgunaannya, tidak berpose dada besar tanpa fungsi seperti beberapa perempuan. 

Kurasa begitulah menjadi seorang laki-laki. Selalu memiliki alasan menutupi dirinya lemah dan tak berdaya. Menyalahkan perempuan karena begini-begitu, padahal kenyataannya masih senang memasukkan dirinya ke dalam lubang perempuan. Apalagi perempuan murah, dirinya cukup tinggal mencari lelaki lemah lainnya untuk kemudian diperas kering olehnya. Dasar lelaki murahan buta perempuan. 

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This