Lacrimosa, Kematian Rasa Kepedulian

by | Sep 15, 2022 | Pojok

Oleh: Mariska Lubis

Air mata tak henti-hentinya menetes bagi Ibu Pertiwi. Tidak terhapus malah semakin menjadi-jadi. Kepedulian telah mati, kemanusiaan lenyap. Yang tertinggal adalah keinginan, ambisi, dan nafsu untuk memiliki dan mendapatkan surga bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok. Seolah mampu hidup dan mati tanpa ada keterkaitan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Yang Maha Kuasa.

Senandung kematian ini terus berkumandang dengan keras, bukan hanya dilakukan oleh para petinggi dan pemimpin, rakyat jelata pun tidak ada bedanya. Merasa baik, sudah berbuat benar  tetapi tetap tidak peduli. Untuk belajar saja terlalu congkak, menerima pemikiran baru yang baik untuk masa depan sangat sulit. Orang “waras” dianggap benar, orang yang benar-benar “waras” dianggap gila. Merasa paling pintar, baik, dan benar sendiri melulu, tanpa berani bercermin dan menerima kekurangan dan kesalahan diri.

Bodoh dipelihara, tertata dengan sempurna dalam sebuah sistem yang menutup perubahan. Diajak keluar dari sistem, dari “kotak”, tidak mau, merasa keluar dari “kotak” namun terjebak di “kotak” lain, sama saja bohong. Perubahan yang mampu ada di dalam pemikiran sebatas apa yang mampu dilihat, didengar, dipelajari, dengan segala pengalaman yang tersimpan di dalam kepala. Marah dan berkeluh kesah pun tidak memberi solusi atas masalah yang ada. Terlalu primordial untuk memiliki pemikiran modern yang maju ke depan, terjebak sistem, budaya, kebiasaan, dan keyakinan yang salah.

“Yang penting anak dan keluarga dulu! Perubahan harus dimulai dari diri sendiri!”. Kalimat usang yang kerap diucapkan kebanyakan.  Tidak ada yang salah bila diartikan dan dimaknai secara mendalam, sehingga benar paham apa yang dimaksud dari kalimat yang diucapkan sendiri. Anak hidup untuk masa depan, sehingga tidak bisa dididik dengan cara yang sama, yang sudah jelas menghasilkan kehancuran. Bila diri sendiri tidak paham bagaimana perubahan yang baik itu bisa terjadi dan dimulai dari mana, ya akhirnya menjadi salah kaprah. Ujungnya keegoisan dan kematian rasa kepedulian.

Anak mana mungkin bisa hidup sendiri di masa depan. Tetap tergantung pada manusia dan makhluk lain, pada bangsa, negara. Negara hancur anak juga yang sengsara meski diwarisi banyak harta dan sertifikat. Bahasa dan kata yang diucapkan serta dituliskan menjadi bukti kebodohan dan kehancuran. Manusia berpikir dengan bahasa dan kata, ini saja diabaikan dan disepelekan. Lebih seru ikut-ikutan yang sedang tren dan viral, asyik kasak-kusuk dengan segala teori konspirasi untuk merasa pintar dan lebih baik.

Tetangga miskin dan susah tidak peduli. Mengaku miskin tapi berani berhutang untuk membeli barang, harta benda, kesenangan, kemewahan, bahkan untuk sertifikat dan ijazah pendidikan. Untuk modal dan benar berilmu, ada saja alasannya, tapi untuk pesta kawinan, bisa diupayakan ada. Harus ada! Diberitahu marah, selalu saja ada alasan dan pembenaran. Takut, ya, tahu kesalahan diri sendiri?

Bagaimana kepedulian itu bisa hidup bila demikian?! Kata siapa kemanusiaan itu masih ada? Memberi dan berbagi sedikit saja sudah merasa hebat dan baik. Tidak malu dengan Allah?!

Sampai kapan requiem Lacrimosa terus bersenandung di negeri ini?!

Bandung, 14 September 2022

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This