Kurikulum Pendidikan Kita

Apr 7, 2023 | Essai, Pendidikan

Views: 0

Saya ingin mulai dengan pepatah latin, “Mens sana in corpore sano.” Artinya, dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat.

Maka jika diluaskan kita bisa menulis, “Di dalam kurikulum pendidikan yang sehat, terdapat pendidikan yang kuat.” Tetapi bagaimana itu terjadi?

Apa itu Kurikulum?

Begini. Per definisi, kurikulum adalah semua hal yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Termasuk metode mengajar, cara mengevaluasi, program studi, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi. Serta hal struktural-kultural yang terkait dengan waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata ajar.

Dengan definisi tersebut, kurikulum menjadi ontologi pendidikan, poros utama dan tulang punggungnya pendidikan. Ia laksana kaki statis, yaitu menghasilkan gerak sentripetal (ke dalam) dan sentrifugal (ke luar) sekaligus.

Dua Kutub Biner Kurikulum, Puritanisme dan Sekularisme

Dalam sejarahnya, kurikulum sering kali diperhadapkan dalam dua kutub biner, yakni sebagai inti dari puritanisme dan sebagai inti dari sekularisme.

Sebagai puritanis, artinya situasi sosial (zaman) harus tunduk di bawah kendali kurikulum. Sebaliknya, sebagai sekularis, artinya kurikulum pendidikan berubah-ubah sesuai tuntutan zaman.

Meja Statis Kurikulum Pendidikan Kita

Jika pendekatannya via pendidikan Pancasila maka kurikulum itu laksana meja statis. Apa meja statis kurikulum pendidikan kita?

Yaitu Trimatra,

  1. Pendidikan mental-etika;
  2. Pendidikan kejeniusan-logika; dan
  3. Pendidikan kebangsaan-nasionalisme.

Dus, trimatra menjadi dasar kurikulum yang bersifat statis-substantif.

Ketiganya bisa dikatakan 3 nilai final utama.

Lalu, apa kurikulum meja dinamisnya?

Tentu saja, meja dinamis merupakan mata pelajaran dalam kurikulum tambahan yang pada intinya merupakan nilai instrumental untuk menggapai nilai final dalam trimatra.

Mencetak Agensi atau Warga Negara Unggul

Nah, meja statis ini berfungsi untuk mencetak agensi atau warga negara unggul. Mereka adalah individu yang mampu menemukan kebesaran masa lalu, demi kehidupan masa kini dan “terjaganya” peradaban masa depan Indonesia Raya.

Sedang meja dinamisnya berfungsi untuk mencetak agensi atau warganegara unggul yang mampu mengkreasi hari ini dan hari depan yang lebih baik.

Semua itu adalah ontologi dari kurikulum kita agar cara kita mencetak kerangka warganegara unggul adalah memastikan lahirnya benih insan Atlantik, manusia nusantara dan patriot Pancasila.

Dus, jika ontologi pendidikan kewarganegaraan adalah kurikulum maka epistemologinya adalah komunitas dan jaringan-jaringan pendidikan pembebasan. Lalu, aksinya adalah kepastian hadirnya negara Pancasila.

Kerja Raksasa Menegakkan Negara Pancasila

Tapi ingat, menegakkan negara Pancasila itu kerja raksasa. Di dalamnya kita akan menemukan medan pertempuran yang sangat luas mencakup tiga ranah yaitu,

  1. Tanah air fisik (penguasaan teritorial);
  2. Tanah air formal (undang-undang dan hukum formal); serta
  3. Tanah air mental (nalar dan pola pikir). Di tiga ranah itu kini kita babak belur dan porak-poranda.(*)

Oleh: Yudhie Haryono

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This