Kronika

Oct 2, 2021 | Puisi

Views: 3

Pada Sabtu, ia menuntut malam minggu yang panjang.
Karena waktu yang lewat, tak didapatnya barang sekecup bunga merona

Sampai pada Minggu, tak ditemui jua harum mawar.
Ia mulai menengadah
Menatap langit, menahan amarah.
Hari telah begitu siang, pikirnya

Senin, kembali ia tenggelam dalam rencana rencana.
Hebat dahsyat megah.
Tapi tak sedikitpun tercium olehnya
Wangi bunga…

Selasa mengepungnya.
Deraan dunia, workaholic.
Menggila
Tapi lagi lagi tak bersua ia dengan aroma nirwana

Ada apa dengan dunia?

Rabu membelit, bak anaconda hendak menelan.
Bulat, dirinya yang telanjang.
Sialan, aku mau memaki siapa…

Tibalah Kamis, saat segala sesuatu segera diatur bereskan.
Malang, tak ada yang menemaninya menata meja…

Hingga Jumat menegurnya,
Mana duniamu yang tampan, Rickardo?
Tak sebatang hidungpun mengasapi batang otakmu dengan wewangian.

Lalu Ia tersungkur pada Sabtu.
Rebah ia, seonggok belati tergenggam,
Hendak menikam takdir yang datang…

Sedalam dalamnya…

Yogyakarta, 01 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This