Konferensi Para Makanan – Conference of The Foods

by | Sep 11, 2021 | Pojok

Views: 0

Pada suatu hari, Ketua Asosiasi Para Makanan sedunia, Tuan Spageti, mengirmkan undangan kepada seluruh anggotanya untuk menghadiri Konferensi Para Makanan Sedunia yang Pertama. Anggotanya adalah seluruh makanan di dunia ini. Tujuannya untuk membahas soal persaingan tidak sehat antara para makanan yang sudah membuat banyak masalah. Ada saja makanan yang kemudian tersisih, dibuang, dan ditinggalkan karena ada makanan lain yang mendominasi. Bila keadaan ini dilanjutkan, Tuan Spageti khawatir nantinya akan terjadi pengurangan jumlah makanan dan semakin sedikitnya variasi makanan di dunia ini.

Undangan dari Tuan Spageti tidak diterima dengan baik oleh beberapa anggota. Mereka merasa bahwa apa yang dikhawatirkan oleh Tuan Spageti sangat berlebihan.

“Apa, sih, ini? Apa salahnya dengan kompetisi di antara kita? Wajar saja jika ingin menjadi yang paling disukai, terkenal, dan mahal. Di mana ada pemenang, di sana pasti ada yang kalah. Salah sendiri mereka yang kalah, kenapa tidak berusaha lebih keras lagi?!” kata Tuan Burger.

“Iya! Nggak usah sirik, deh!” Tuan Ayam Goreng menambahkan.

“Makanya, jangan primitif! Sekarang jaman sudah maju, masa masih mau menjadi makanan yang begitu-begitu saja? Nggak keren sama sekali Gimana mau nge-trend kalau dari penampilannya saja sudah “out of date”?”, Nyonya Ramen mengomentari.

Makanan yang lain justru kebalikannya. Makanan tradisional dari kampung-kampung Indonesia sangat senang dengan undangan itu sebab mereka pun ingin bisa seperti para makanan lain yang di mata mereka telah sangat sukses. Mereka tidak mau menjadi makanan yang tertinggal.

“Kita beruntung mendapat kesempatan ini. Bisa bertemu dengan makanan-makanan hebat dan belajar banyak dari mereka. Siapa tahu nanti saya pun bisa dibawa mereka untuk mendunia, menjadi terkenal dan mahal,” kata Tape sambil berkhayal.

“Iya banget! Orang-orang di kampung kita pasti akan lebih menghargai kita. Tidak seperti sekarang, biarpun laris tapi tetap saja dianggap makanan orang kampung,” kata Ubi Kayu.

“Memang dari kampung, mau bagaimana? Kalahlah kita dengan mereka yang dari kota dan dari luar negeri itu! Kecuali kita punya modal banyak untuk bisa menjadi seperti mereka, baru kita bisa terkenal di mana-mana. Mau pergi ke undangannya saja kita bingung, siapa yang ongkosin? Memangnya ada yang mau pikirin kita yang seperti ini? Nggak usah berkayal, deh!” kata ikan asin dengan ketus.

Pro dan kontra mengenai konferensi itu tidak membuat Tuan Spageti menghentikan kegiatan itu. Konferensi Para Makanan Sedunia yang Pertama tetap berlangsung. Pesertanya sangat banyak, termasuk para selebriti makanan dunia yang sebelunya menolak kegiatan tersebut. Sayangnya, para makanan kampung itu tidak bisa hadir, namun ada Tuan Tahu yang mewakili.

Pembahasan demi pembahasan terus digali, selalu saja berakhir dengan jalan buntu. Sungguh tidak mudah menyelesaikan masalah persaingan di antara mereka, sebab jika dihentikan maka akan menimbulkan masalah lain. Lagipula, hak asasi untuk ingin maju dan berkembang, menguasai dunia, siapa yang bisa melarang? Kewajiban untuk selalu berbagi dan membantu, siapa yang ingat, walaupun semua sadar bahwa kewajiban hendaknya didahulukan. Kebebasan pun tidak bisa tanpa batas, namanya juga makanan, tetap selalu ada batasnya.

Tuan Tahu merasa tidak nyaman dengan semua kebuntuan yang terjadi. Dia yang tadinya diam saja dan menyimak, merasa tergugah untuk bangkit dan bicara.
“Kita semua hanyalah makanan. Tidak lebih dari itu. Kita bisa saja menjadi yang paling lezat, paling mahal, paling terkenal dan disukai, tidak peduli dari mana kita berasal dan siapa yane memakan kital, pada akhirnya kita semua hanya akan menjadi kotoran. Percuma saja bila hanya memikirkan kita sendiri, seberapapun pentingnya kita, semua akan berakhir menjadi kotoran saja. Yang lebih seharusnya dipikirkan adalah soal bagaimana kita bisa memberikan kebutuhan energi dan kesehatan, bukan hanya sekedar enak, mahal, terkenal lalu menyebabkan penyakit. Selain itu, tidak ada gunanya juga bila menjadi mahal hanya karena trend dan ikut-ikutan. Tidak ada salahnya tetap menjadi yang terjangkau bila memberikan banyak guna dan manfaat bagi semua. Saya hanyalah tahu, sama seperti semua yang ada di sini. Saya ada untuk berakhir sebagai kotoran.”
Semua pun akhirnya hanya terdiam.

-Tamat-

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This