Kita dan Kereta Keranda

by | Dec 3, 2022 | Cerpen

Oleh : Yudhie Haryono

17.00

Gambir. Menggosok tubuh dengan minyak kayu putih. Renta. Engkaukah keakhiran itu? Yang kutulis pada daun pikiran dan jiwa pecinta. Karena selalu hadir dalam mimpi dan tidurku. Hadir untuk hati yang kering dan sepi agar bersemi lagi. Datang dan melukiskan cita-cita plus harapan agar berbuah lagi. Taman Kerajaan Nusantara; Pusat Spiritual Dunia; Kampus Nusantara; Jalur Rempah dan Herbal; Reaktor Nuklir dan Perpustakaan Pendiri Republik, adalah persemaian gugus kegeniusan. Fondasi kedaulatan dan patriotisme. Tempat di mana kaum muda menempa untuk menemukan jati diri. Mendapati masa depan kemartabatan.

Klik www.nusantaracentre.com

Tetapi, pilek buatan oligarki membuatku makin ke sini makin tak mampu berimajinasi. Atau yakin bahwa itu kan terjadi. Di ruang tunggu kereta seperti menatap keranda.

22.32

Sepi. Sirene. Rupa dupa. Krisis yang terketahui tapi tak terelakan. Digunakan para begundal, diratapi kaum lemah dijajah, didoakan kaum beragama, ditertawa kaum oportunis.

02.13

Purwojaya. Kereta tua dan wangi. Selalu dan selalu saja. Ada yang hilang dalam pejal jiwa ini. Saat astral dalam kereta. Antara harap dan lamunan. Wajahmu semenjana. Pulang ke kotamu adalah pulang dalam kehampaan. Engkau yang telah bersekutu. Membunuhku untuk kali pertama. Dan, kematian ayahku membunuhku untuk kali kedua. Lalu, kematian permaisuriku membunuhku untuk kali ketiga.

02.22

Aku tahu. Di jiwamu masih tersimpan hasrat surga. Karena kalahmu pada dunia. Karena nerakamu hadir lebih dulu. Karena nalarmu tak berkreasi. Engkau telah menjalani hitam dan putih jalan ini. Hatimu keriput. Tulangmu bengkok. Pipimu kusut. Tetekmu rata. Tentu saja. Itu bukan gambaran perjuangan, kupaham. Tapi kekalahan. Kalah karena tak memilihku dulu. Tapi memilih berburu keagungan. Tubuhmu yang dulu seksi. Habis kini hitam legam terbakar matahari. Sosokmu yang dulu digilai. Kerontang kini kurus dan terbungkuk. Mabuk. Engkaulah gambaran kesombongan. Namun semangatmu masih ada. Dengan membangun mimpi-mimpi eskatologis. Terlebih di bulan Ramadan yang mistis. Tepat ultahmu tengah bulan Juni. Saat gerimis tak sudah-sudah gelorakan susah.

02.29

Setelah engkau tak sudi datang. Kini. Aku sendiri setiap hari. Pasca kematian tiga kali. Dalam sujudku kini mendoakanmu di taman hati. Doaku kini. Bagai menunggu ajal yang tak sudi kembali. Setriliun kesunyian. Semilyar kesenyapan. Sejuta keentahan. Kuburan kubang itu stasiun dunia. Sekolah dasar itu fondasi sejarah purba.

02.40

Titip rindu buat jahiliahmu.

Bunuh aku untuk keempat kalinya. YIM. Di mana kau kini berada? Seperti Cakil di istana. Setelah kita punya Petruk bertakhta, segenerasi ilmuwan punah binasa.

05.79

Kemarin kau datang, kepadaku. Bergurau tentang rindumu. Lalu, dengan serius bertanya, “Kasih, mengapa kamu selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomimu makin terpuruk? Apa yang kamu dapatkan dari berdoa secara teratur kepada-Nya.”

Aku mengusap pipimu, mencium tanganmu yang halus bak sutra dan menjawab, “tidak ada yang kudapat, malah aku banyak sekali kehilangan; salah satunya kehilangan jiwa-ragamu.”

Tapi, kuberitahu hal penting dari apa saja yang hilang itu kekhawatiran, kemarahan, depresi, kekecewaan, sakit hati, kerakusan, ketamakan, kebencian, kesombongan, stres dan patah hati. Setiap kali setelah kuberdoa, hati dan pikiran kembali menjadi tenang.

Kadang kala, jawaban atas doa kita tidak selalu tentang “apa yang didapat” tetapi justru “apa yang hilang” dari kehidupan ini. Maka, janganlah selalu mengukur kebaikan Allah dari “apa yang kita dapat” karena terkadang Allah memberikan karunia lewat “apa yang hilang” dari kehidupan kita.

Saat kehilanganmu, aku begitu patah hati. Setelah berdoa, aku ikhlaskan dengan lapang. Saat ku tak dapat uang, begitu stresnya aku. Begitu kuberdoa, aku yakin suatu saat akan mendapatkannya.

00.11

Turun dari kereta seperti masuk keranda. Masih ada satu puisi yang kuingin baca sambil tepuk bokongmu, “Tuhan yang ada membuatku tiada dalam hasil dari upaya.” YIM, cintaku tak sudah-sudah. Khianatmu makin lebat berbuah.(*)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This