Ketika Kepatuhan Istri Dimanfaatkan Suami Bejat

Dec 24, 2021 | Essai

Views: 0

Tanggal 22 Desember merupakan hari bahagia bagi semua ibu di seluruh penjuru negeri ini, sebab hari itu diperingati sebagai Hari Ibu. Sebuah hari yang khusus untuk mengenang jasa seorang ibu. Potret bahagia para ibu terpampang meriah di mana-mana disertai ucapan selamat, penyemangat, dan doa tentunya. Namun, pada kenyataannya kebahagiaan itu tidak bisa dirasakan oleh semua ibu.

Tengoklah beberapa ibu di Garut Selatan dan di beberapa tempat lainnya yang anaknya menjadi korban rudapaksa atau pemerkosaan lelaki biadab berkedok guru mengaji di sebuah pesantren di kota Bandung. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati mereka ketika mengetahui anak-anaknya yang dititipkan di sebuah pesantren untuk menimba ilmu agama demi masa depannya yang lebih baikternyata menjadi korban kebiadaban guru mengajinya sendiri. Kejadian tersebut baru terungkap pada bulan Mei 2021. Tak heran bila kemudian mereka menuntut si pelaku untuk dihukum seberat-beratnya seperti hukuman kebiri bahkan hukuman mati.

Bagaimana pula kini nasib 13 santriwati Pondok Pesantren Manarul Huda, Antapani- Bandung yang masih berusia belasan tahun itu? Kehormatan mereka dicabik-cabik oleh kebiadaban gurunya. Mereka dipaksa untuk melayani nafsu bejat gurunya dengan iming-iming akan jadikan polisi wanita, guru, pengurus pesantren, dan dibiayai kuliahnya di perguruan tinggi. Bahkan sang guru biadab itu pun merayu mereka dengan dalih bahwa istrinya sudah lama tidak melayani kebutuhan biologisnya. Meskipun sempat ada santriwati yang berontak dan mengingatkan bahwa perbuatannya itu berdosa tapi dia menyangkalnya bahwa itu tidak apa-apa yang penting muridnya mesti patuh padanya. Maka luluhlah hati para santriwati itu dan terjadilah perzinaan. Sungguh mengerikan!

Akibat perbuatan tersebut delapan di antara santriwati itu hamil. Bahkan ada yang hamil dalam waktu bersamaan karena sang biadab bisa menyetubuhi 4 orang santriwati dalam semalam hingga subuh. Naudzubillah!

Bayi-bayi mereka pun kemudian lahir, bahkan ada yang sudah dua kali melahirkan. Lebih tragis lagi untuk menutupi hasil perbuatan bejat mantan guru SD/MI itu, bayi-bayi yang sudah lahir dipalsukan statusnya sebagai anak yatim piatu yang terlantar. Kemudian bayi-bayi itu dirawat di panti asuhan hasil rekaan sang biadab untuk mendapat kucuran dana bantuan dari para donatur.

Di saat bersamaan pula ada seorang ibu dua anak yang hatinya hancur berkeping-keping dan jiwanya terguncang. Dialah istri dari guru bejat itu. Kini dia mesti turut menanggung perbuatan suaminya yang tidak dia ketahui sebelumnya. Dia seorang perempuan lugu berasal dari Garut dan menikah dengan suaminya pada tahun 2012. Perempuan yang pernah menjadi guru TK di sebuah pesantren di Lembang ini pendidikannya terhenti hingga semester dua di Universitas Islam Nusantara (Uninus), Bandung. Hal tersebut disebabkan oleh suaminya yang melarang dia untuk melanjutkan kuliah dengan alasan bahwa istri yang berkuliah akan pandai berdebat dan berani melawan suaminya. Tentu saja si istri pun patuh dan menurut kepada apa yang dikatakan oleh suaminya karena dia takut akan bayangan dosa sebab berani melawan suami.

Dia pun terus belajar untuk dapat melayani suaminya dengan memuaskan. Tapi, apa yang kemudian terjadi? Suatu ketika di tahun 2016 dia merasakan sesuatu perubahan pada suaminya. Setiap malam saat dia terjaga dari tidurnya, dia tidak mendapati suaminya di sisinya lagi. Karena penasaran, di suatu malam dia berusaha mencari keberadaan suaminya dan betapa terkejutnya dia ketika memergoki suaminya di lantai atas tengah melakukan perbuatan tak senonoh kepada salah seorang santriwati yang masih duduk di kelas 5 SD. Meskipun saat itu keduanya masih dalam keadaan berbusana. Lebih mengejutkan lagi ternyata anak yang diperlakukan tak senonoh oleh suaminya itu ternyata masih sepupunya. Dia pun akhirnya menyeret suaminya ke bawah dan mereka berdua pun menangis bersama. Si suami mengaku khilaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya itu. Dia pun memaafkan perbuatan suaminya yang katanya khilaf itu.

Upaya yang dilakukan si istri untuk melakukan antisipasi kepada suaminya agar tidak melakukan hal biadab lagi, dia mengingatkan para santriwatinya untuk melapor padanya jika suaminya sering naik ke atas lagi. Tak kalah penting, dia selalu mengingatkan para santriwatinya untuk senantiasa menutup aurat dan menjaga pandangannya. Karena hubungan si istri dengan para santriwati itu sangat dekat lantas para santriwati itu pun sangat menghargai dirinya.

Namun, antisipasi tersebut tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Ancaman dari si suami membungkam para santriwati itu untuk tidak melapor pada istrinya, sehingga mereka diam walaupun setelah beberapa bulan setelah kejadian itu suaminya kembali kumat dengan kelakuan bejatnya itu. “Jika kalian sayang bapak, sayang ibu dan anak-anak ibu, lebih baik kalian diam!” Demikian ancaman suaminya kepada para santriwati, sehingga kejadian-kejadian berikutnya pun si istri tak mengetahuinya sama sekali.

Si istri mengaku bahwa terlalu percaya pada suaminya hingga semua permasalahan mengenai perilaku bejat suaminya ditangkap oleh aparat kepolisian. Padahal, sebenarnya dia pernah mengetahui ada seorang santriwati yang hamil sekitar tahun 2018 dari seorang bidan tempat ia memeriksakan kandungannya. Pada saat itu dengan rasa penasaran dia pun berangkat ke tempat pesantren yang diasuh suaminya dengan naik ojek. Mengetahui kenyataan yang terjadi, si istri menangis histeris dan mempertanyakan mengapa santriwatinya hamil dan tidak mengetahui siapa yang telah menghamilinya. Dia begitu cemas terhadap nasib santriwati yang hamil itu, apalagi yang hamil itu masih sepupunya. Bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan masalah tersebut terhadap orang tuanya. Saking paniknya dia sampai lupa bahwa sebenarnya saat itu dia pun tengah hamil 8 bulan, hamil anak keduanya.

Setelah mengetahui masalah kehamilan santriwati yang masih sepupunya itu, sempat dia curiga terhadap suaminya. Namun, suaminya yang bejat itu berusaha meyakinkan si istri bahwa dia bukan pelakunya.

“Saya kan guru ngajinya, masa sampai melakukan perbuatan itu,” begitu pengakuan suaminya yang juga berjanji akan menanyakan akar masalah juga pelaku dari rudapaksa yang terjadi pada si santriwati. Lagi-lagi si istri pun mempercayai pengakuan suaminya. Bahkan, dia mengira santriwati itu dihamili orang lain saat dibawa pelatihan di sebuah hotel. “Mungkin dia diperkosa di hotel saat saya pelatihan dan dia saya tinggalkan sendirian di hotel.” Begitu kecurigaannya pada saat itu.

Saat santriwati itu hendak melahirkan pun hanya diantar seorang temannya dengan berbohong kepada bidan bahwa suami dari santriwati itu sedang tugas di luar kota. Atas saran suaminya pula bayi itu pun dipelihara bersama.

“Karena korban pemerkosaan, bayi itu kita pelihara bersama saja”, demikian saran suaminya ketika itu.

Suaminya juga menyarankan agar memberitahu orang tua santriwati itu bahwa bayi yang baru lahir itu adalah anak yatim piatu yang ditelantarkan dan ditampung di panti asuhan miliknya. Dia pun menurut dan sangat menyayangi anak itu seperti menyayangi anaknya sendiri apalagi anak tersebut juga merupakan anak sepupunya. Begitu dugaannya ketika itu.

Tapi setelah terjadi penangkapan terhadap suaminya diketahui pula bahwa anak tersebut bukan anak sepupunya tetapi anak dari santriwati lainnya yang juga menjadi korban pemerkosaan suaminya. Bahkan ada 3 santriwati yang hamil dan melahirkan dalam waktu hampir bersamaan bahkan bersamaan pula dengan kelahiran anak keduanya.

Lagi-lagi dia tidak mengetahui bahwa semua santriwati yang hamil dan melahirkan itu adalah hasil dari perbuatan tidak bermoral suaminya, bahkan ada santriwati yang melahirkan hingga dua kali. Mungkin karena si suami terpergok melakukan tindakan tidak senonoh pada korban pertamanya itu, si suami lantas merudapaksa santriwati untuk melampiaskan nafsu bejatnya.

Si istri mengungkapkan kalau selama hidup dengan suaminya dia merasa lebih menderita, karena suaminya jarang menafkahinya. Selama hamil anak kedua pun si istri selalu memeriksakan kandungannya ke bidan seorang sendiri dan si suami tak pernah mengantarnya. Bahkan suaminya sempat heran ketika tahu dia hamil, “Kok bisa?”.

Ya mungkin karena mereka sudah sangat jarang berhubungan. Sejak kejadian 2018 itu suaminya tak lagi memenuhi nafkah untuk keluarga. Untuk bertemu pun sulit dengan alasan si suami sibuk bekerja di pesantren Tahfidz Madani yang beralamat di kompleks yayasan Margasatwa Kecamatan Cibiru. Sedangkan si istri berada di Yayasan Komplek Sinergi di Kelurahan Antapani. Jarak kedua tempat itu cukup berjauhan.

Si istri dilarang suaminya untuk mendatangi pesantren dan diminta untuk tetap tinggal di rumah yang sekaligus merupakan kantor yayasan dari pesantren suaminya. Dia pun dilarang bertanya tentang kondisi para santriwati di pesantrennya. Suaminya akan marah bila dirinya banyak bertanya, maka dia memilih diam.

Pada yayasan pesantren Tahfidz Madani si istri menjabat sebagai bendahara, tetapi dia tidak pernah memegang uang selain uang belanja. Meski begitu, uang belanja yang ada ditakar oleh si suami dan diminta untuk berhemat. Suaminya hanya melapor setiap uang yang masuk ke yayasan, kemudian mereka berdua pergi ke bank untuk segera mencairkan dan mengambil uang tersebut.

Si istri juga heran mengapa para santriwati itu tidak pernah lapor padanya, tidak pula melarikan diri dari pesantren padahal setiap tahun mereka pulang kampung. Dia baru mengetahui ternyata para santri itu mendapat ancaman suaminya. Hingga kejadian itu terungkap setelah seorang santriwati pulang kampung saat lebaran. Ketika keluarga seorang santriwati mendapati anak perempuannya pulang dengan bentuk tubuh berbeda seperti orang hamil.

Mulanya anak itu tidak mau mengaku bahkan ketakutan karena telah diancam guru pesantrennya itu. Setelah didesak oleh orang tua, tokoh masyarakat juga kepala desa untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, akhirnya anak itu mengaku bahwa dia tengah hamil. Pula si santriwati itu menyatakan bahwa tidak cuma dia sendiri yang hamil akibat perbuatan gurunya itu, banyak temannya yang menjadi korban juga.

Oleh sebab pengakuan si santriwati itulah kasus kebiadaban si guru terungkap. Padahal, pada saat di pesantren si istri saat bulan puasa pernah bertemu dengan santriwati itu dan mendapati bahwa santriwati tersebut sedang muntah-muntah. Namun, santriwati itu mengaku maagnya tengah kambuh sehingga ia muntah-muntah. Si istri pun percaya dan memberikan obat maag padanya.

Saat seorang santriwati melapor telat menstruasi dia juga tidak menaruh curiga apa-apa, dia hanya menyarankan minum obat pelancar menstruasi dan memintanya untuk diperiksa ke bidan karena khawatir santriwatinya itu terkena tumor atau sejenisnya. Hingga suatu waktu ada santriwati yang perutnya membesar, namun si istri percaya terhadap keterangan santriwati yang beralasan bahwa dirinya jarang berolahraga sehingga badannya berlemak. Padahal mereka semua itu tengah hamil akibat perbuatan bejat suaminya.

Terungkap pula bahwa perbuatan bejat suaminya itu ternyata tidak hanya dilakukan di tiga tempat binaannya yakni di Rumah Tahfidz Al Ikhlas, Pesantren Manarul Huda, dan di basecamp Cibiru Hilir, tetapi juga di beberapa hotel di kota Bandung seperti di Apartemen Suites Metro Bandung, Hotel Atlantik, Hotel Prime Park, Hotel B & B, Hotel Nexa, dan Hotel Regata.

Penyesalan demi penyesalan pun dia rasakan kini. Si istri mengakui bahwa dia polos dan bodoh hingga dimanfaatkan oleh suaminya yang bejat itu. Dia terlalu percaya pada suaminya yang selama ini dia kenal sebagai sosok yang saleh dan berwibawa, untuk itu dia senantiasa mematuhinya. Semua baru dia ketahui saat suaminya dibekuk polisi di Sinergi, Antapani dan kejadian itu disaksikan pula oleh anak pertamanya yang baru delapan tahun. Kejadian itu membuat si anak sering murung dan melamun.
“Ayah sedang dihukum karena berbuat salah”, itulah kata-kata yang ia sampaikan pada anak sulungnya.

Hari-harinya kini menjadi tidak tenang, jiwanya pun tertekan. Setiap hari dia ketakutan setiap mendengar dering HP atau ketukan pintu, karena dirinya banyak diburu orang. Dia disalahkan dan dipojokkan banyak orang karena tidak mengetahui perbuatan suaminya. Bahkan ada tuduhan bahwa dirinya bersekongkol dengan suaminya.

Bersitegang pula si istri dengan keluarga besar karena sebagian besar korban masih bertalian saudara dengannya. Oleh sebab itu, kini dia bersama kedua orang tuanya mengungsi di sebuah tempat yang dirahasiakan lokasinya.

Sayang, hingga kini dia pun tidak mendapat pendampingan dari lembaga trauma healing atau lembaga terkait lainnya seperti pendampingan yang telah dilakukan terhadap 13 santriwati yang menjadi korban rudapaksa suaminya. Padahal, dia juga sama-sama trauma dan stres akibat perbuatan bejat suaminya itu.

Terlepas dari berbuatan bejat suaminya itu dia sangat berharap agar masyarakat tidak menilai negatif dengan keberadaan pesantren dan tetap menyekolahkan anaknya di pesantren karena yang buruk bukan pesantrennya tetapi orangnya. Sebab, yang diketahuinya selama mengurus pesantren tersebut tidak ada hal yang menyimpang.

Para santriwati biasa bangun pukul setengah 4 subuh lalu dilanjutkan dengan salat tahajud dan zikir hingga salat subuh, pun mengaji hingga pukul 8 pagi. Setelah itu mereka belajar seperti biasa hingga pukul 12. Kemudian istirahat hingga pukul 15 lanjut kajian kitab kuning bersama suaminya. Setelah itu mereka masak dan waktunya tidur pukul 9 malam. Adapun suaminya dituduh beraliran Syiah dia pun tidak mengetahui karena yang dia ketahui tidak ada ajaran aneh di situ. Mereka belajar seperti yang biasa diajarkan di pesantren lainnya.

Kini nasi telah menjadi bubur, sikap patuh si istri ternyata dimanfaatkan oleh si suami untuk menutupi perbuatannya yang tidak bermoral itu. Suaminya yang guru mengaji sekaligus pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Manarul Huda Antapani itu kini menjadi terdakwa dan diancam pidana sesuai Pasal 81 Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 15 tahun. Namun, ada pemberatan pidana karena dia adalah tenaga pendidik sehingga hukumannya bertambah menjadi 20 tahun.

Sebuah pelajaran bisa diambil dari kisah itu bahwa kepatuhan atau ketaatan istri pada suami adalah kewajiban tapi kewajiban istri untuk menaati suaminya bukan sebuah ketaatan tanpa batasan. Dalam HR Al-Bukhari disebutkan,

“Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat maksiat akan tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik.”

(Dikisahkan berdasarkan hasil wawancara di beberapa media Online dan referensi lainnya)

Baca Juga

1 Comment
  1. Dina triana

    MasyaAllah, kalo aku kayanya ga sekuat beliau … Hanya bisa medoakan semoga selalu dilindungi Allah Aamiin

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This