Keteladanan Ibrahim Dalam Konteks Keumatan Dan Kebangsaan -2

by | Jul 11, 2022 | Essai

Oleh : Imam Shamsi Ali*

Urgensi Kepemimpinan Dalam Hidup

Kepemimpinan adalah pilar kehidupan. Karenanya semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin dalam hidupnya. Rasulullah SAW menggambarkan hidup itu seolah gembalaan yang harus dijaga, tapi sekaligus dipertanggung jawaban.

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Setiap kalian adalah gembala dan semuanya akan diminta pertanggung jawaban dari gembalaannya”.

Ibrahim AS diangkat menjadi pemimpin bukan dengan tiba-tiba dan serta merta. Tapi melalui proses panjang dengan berbagai penempaan. Al-Quran menyampaikan:

واذابتلي ابراهيم ربه بكلمات فأتمها قال اني جاعلك للناس اماما قال و من ذريتي قال لاينال عهدي الظالمين.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu dia menyempurnakan. Dia (Allah) berfirman: sesungguhnya Aku menjadikan kamu seorang pemimpin. Ibrahim berkata: dan juga dari kalangan anak keturunanku. Dia (Allah) menjawab: sesungguhnya keputusan Aku tidak akan diperoleh mereka yang zalim”.

Setelah mencapai kematangan jiwa dan pengalaman hidup yang solid, Ibrahim AS memang berdoa untuk dijadikan pemimpin. Tapi Ibrahim meminta kepemimpinan yang berasas ketakwaan. Kepemimpinan yang membawa umatnya kepada ketaatan dan kesalehan individu dan kolektif.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.

“Wahai Tuhanku karuniakan kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.

Secara mendasar, kepemimpinan Ibrahim AS memiliki tiga karakteristik dasar, seperti yang digambarkan dalam Al-Quranul Karim:

وجعلنا منهم اءمةيهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

“dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memiliki kesabaran, dan mereka dengan ayat-ayat Kami yakin”.

يهدون بأمرنا berarti mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai kebenaran. Berpegang teguh juga berarti memiliki kapasitas keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah (understanding the issues) yang dihadapi dalam kepemimpinannya. Dalam bahasa politik inilah yang disebut “kapabilitas”.

لما صبروا berarti memiliki mentalitas baja dalam menghadapi berbagai rintangan (challenges) dalam kepemimpinannya. Rintangan yang kita maksud bukan saja kesulitan-kesulitan yang ada. Tapi yang lebih penting juga adalah kesabaran dalam menghadapi godaan-godaan (temptations) kekuasaan. Sabar dengan kesulitan itu mudah dan wajar. Tapi sabar menghadapi godaan itu jauh lebih berat dan kadang terlihat aneh.

وكانوا بآياتنا يوقنون berarti yakin dan meyakinkan. Saya ingin mengatakan bahwa kepemimpinan Ibrahim itu dibangun di atas optimisme yang kuat. Tapi juga sekaligus memberikan optimisme yang tinggi. Optimisme dan harapan, bukan sekedar janji-janji yang sering kali gagal terpenuhi.

Satu catatan penting dari kepemimpinan Ibrahim adalah bahwa beliau selalu mendengarkan aspirasi masyarakatnya. Hal ini terindikasi jelas ketika meminta opini anaknya menyikapi perintah Allah untuk menyembelihnya: فانظر ماذا تري (apa pendapatmu?)

Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari seorang anak remaja, apalagi berkaitan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim seorang “pemimpin” yang bijak. Tidaklah barangkali berlebihan jika saya memakai bahasa politik modern bahwa Ibrahim adalah “master of democracy”.

Kepemimpinan itu memang karunia. Tapi bukanlah penghormatan. Kepemimpinan adalah karunia amanah dan kesempatan yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk melakukan pengabdian kepada-Nya melalui pelayanan publik. Dan karenanya pemimpin yang adil akan berada di posisi para nabi di hari Akhirat.

Kepemimpinan itu “karunia”, bahkan masuk dalam lingkaran “takdir”. Allahlah yang memberikan kepemimpinan kepada Ibrahim: أني جاعلك للناس اماما (sungguh Kami jadikan kamu (Wahai Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia).

Al-Quran bahkan tegas menyampaikan:

قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك من تشاء

“Wahai Allah, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendak”.

Manusia yang menyadari hakikat ini tidak akan berambisi buta dalam memperebutkan kepemimpinan. Tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepemimpinan. Tidak akan melakukan fitnah, menyebar hoaks, dan cara-cara busuk lainnya demi meraih kepemimpinan itu.

Karena memang yakin Allahlah yang memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Di tangan-Nya kekuasaan langit dan bumi: ملكوت السماوات والأرض

Kepemimpinan Ibrahim itu tersimpulkan dalam doa yang dipanjatkan kepada Allah bagi negeri keturunannya:

واذقال ابراهيم رب اجعل هذا البلد امنا وارزق أهله من الثمرات من أمن منهم بالله واليوم الاخر قال ومن كفر امتعهقليلا ثم اضطره الي عذاب إنار وبئس المصير.

“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan kepada penduduknya buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Dia (Allah) berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sejenak, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.

Doa ini mencakup tiga tujuan utama kepemimpinan Ibrahim:

Pertama, Al-amnu (keamanan). Sebab dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas). Dan hanya dengan stabilitas akan terbangun kemakmuran. Kedua, al-Rizqu (rezeki). Dengan pembangunan yang ditopang oleh stabilitas tadi akan tercipta kesejahteraan umum. Ketiga, al-adlu (keadilan). Tapi kesejahteraan yang benar hanya akan terjadi ketika penegakan keadilan merata. Kesejahteraan yang berkeadilan itu adalah tujuan kepemimpinan Ibrahim AS.

Konteks Kebangsaan

Jika kepemimpinan ini kita kontekstualisasikan dalam kehidupan berbangsa kita, maka semua karakteristik kepemimpinan Ibrahim itu secara substantif tertuang dalam pasal-pasal di falsafah negara Indonesia, Pancasila. Kedalaman spiritualitas yang terpatri dalam kepemimpinan Ibrahim AS itu terwakili dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kesabarannya membangun etika dalam kepemimpinannya yang berkarakter Itu terwakili dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Sosoknya sebagai “ummah qanita” merupakan simbol dari Persatuan kebangsaan kita.

Bahkan moral dan integritas kepemimpinannya itu yang tertuang dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sementara tujuan kepemimpinan untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umum tersimpulkan dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, doa Ibrahim untuk penduduk Mekah adalah bentuk “cinta negeri“ (hubbul wathon). Dan karenanya nasionalisme, selama dimaksudkan untuk kepentingan umum dalam berbangsa dan bernegara adalah bagian dari spirit Islam.

Bersyukurlah bangsa Indonesia. Bangsa yang dalam sejarahnya tidak pernah terpisah dari nilai-nilai spiritualitas dan agama. Dan yang lebih khusus lagi, peranan agama dan ulama dari masa ke masa, dalam segala zaman dan situasi, tidak pernah dipandang sebelah mata. Maka di pagi hari yang penuh barakah ini, kita rayakan pengorbanan Ibrahim, sekaligus kita hadirkan kembali komitmen kepemimpinan yang berkarakter, berakhlak karimah. Kepemimpinan yang mengedepankan “Rahmah” (kasih sayang) kepada rakyat. Terlebih mereka yang memang berada pada posisi yang termarginalkan.

Namun tidak kalah pentingnya di pagi hari ini kita membangun kembali semangat besar kita untuk bangkit dalam kebersamaan untuk membangun bangsa yang besar dan menang. Bahkan lebih jauh, mari dengan kebersamaan ini kita bawa bangsa kita ke depan menjadi “imaman linnaas” (kepemimpinan global).

Ibrahim AS adalah sosok yang merepresentasi globalitas umat. Bahkan kepemimpinan Ibrahim juga adalah kepemimpinan global atau dalam bahasa Al-Quran: اماما للناس (pemimpin bagi seluruh manusia). Dalam konteks ini ada dua hal penting untuk kita sadari sebagai bangsa:

Pertama, pentingnya menyadari realitas dunia kita. Bahwa dunia kita adalah dunia global yang menuntut kesiapan penuh dengan global mindset dari anak-anak bangsa. Kedua, bangsa ini secara khusus sebagai bangsa berpenduduk Muslim terbesar dunia, harus bangkit untuk mengemban kepemimpinan global itu.

Dunia global adalah dunia yang berkarakter dengan kecepatan, kompetisi, dan ketergantungan (interconnectedness). Umat dituntut untuk memiliki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari urgensi membangun “kerja sama” dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.

Masanya bangsa ini bangkit di garda terdepan menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran).

Islam yang demikian inilah yang tersimpulkan dalam dua istilah: istilah kebangsaan dan istilah keumatan. Istilah kebangsaan dengan Islam yang berkarakter Nusantara. Dan dalam istilah keumatan inilah Islam yang “rahmatan lil-alamin”. Dengan semangat itulah umat Islam di Nusantara akan bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa membangun negeri ini. Bahkan ikut turut dalam mewujudkan dunia yang berkarakter Qurani:

بلدة طيبة ورب غفور. (Negeri yang indah di bawah naungan ampunan Tuhan).

Kesimpulan

Dari penyampaian ini ada beberapa kesimpulan yang ingin saya garis bawahi:

Pertama, al-imaanu quwwah. Bahwa keimanan kita itu adalah kekuatan dan modal utama dalam hidup. Hidup dunia yang penuh tantangan ini hanya akan bisa teratasi dengan kekuatan mentalitas yang terbentuk dari soliditas keimanan. Kedua, iman secara emosi (hati) harus diimbangi oleh rasionalitas berpikir. Emosi tanpa rasionalitas berpikir berakibat kepada terbangunnya pemikiran dan perilaku sempit dan destruktif. Inilah yang kerap kita sebut dengan ekstremisme. Ketiga, ketaatan dalam beragama tidak terjadi tanpa proses panjang dan penuh tantangan. Karena memang itulah proses alami menuju kepada kematangan mentalitas dan hidup. Tantangan hidup diyakini sebagai bagian dari proses hidup itu sendiri. Karenanya secara esensi hidup itu adalah pengorbanan. Ibrahim merupakan keteladanan tinggi dalam hal ini.

Keempat, hanya mereka yang telah lolos dari ujian hidup, dan mampu menegakkan perintah-perintah Allah (Kalimaat) yang akan diberikan kesempatan untuk mengemban kepemimpinan. Karenanya Jangan sampai terjadi pemimpin karbitan yang tidak teruji. Kepemimpinan itu bisa menjadi pintu surga. Atau sebaliknya lubang ke neraka. Kelima, kepemimpinan Ibrahim adalah kepemimpinan berkarakter, terbangun di atas kesadaran penuh bahwa menjadi pemimpin bukan “kelebihan”. Tapi tanggung jawab besar, dunia dan akhirat. Dan karenanya kepemimpinannya terealisasi dalam mewujudkan stabilitas, keadilan dan kesejahteraan umum.

Keenam, Ibrahim juga telah memperlihatkan kecintaan kepada negerinya (hubbul wathon). Mendoakan secara khusus negeri anak keturunannya warzqhum minats tsamarat) dan keamanan (aaminan). Karenanya cinta bangsa dan negeri itu juga merupakan bagian dari iman. Maka loyalitas keagamaan dan kebangsaan tidak perlu dibenturkan. Islam dan negara Indonesia sudah ditakdirkan bagaikan dua sisi mata yang tidak terpisahkan. Ketujuh, Ibrahim adalah individu yang berkarakter global (ummah). Hal ini menyadarkan kita tentang dunia kita saat ini. Bahwa m dunia kita adalah dunia global dan kita dipaksa untuk memilih. Ikut menjadi pemain, menentukan dan menang. Atau sekedar menjadi penonton, berharap belas kasih, lalu tergilas oleh derasnya kompetisi global itu.

Kedelapan, Masanya Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia bangkit menjadi pelaku global, membangun kepemimpinan global atau “imaaman linnaas”. Karenanya Islam yang dipahami dan dipraktikkan di bumi Nusantara, Islam yang ramah, moderat dan toleran, harus dipromosikan ke kancah internasional.

Semoga Allah SWT meridai setiap langkah hidup kita. Semoga kita dijaga dalam iman dan Islam. Semoga kita secara kolektif dijaga dalam persaudaraan dan kesatuan. Dijauhkan dari berbagai prasangka buruk dan kebencian di antara kita.

*Presiden Nusantara Foundation

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This