Kesemek Pasar Cihapit, Asal-Usul dan Manfaatnya

by | Sep 5, 2022 | Jalan Jalan

Oleh : Neneng Ratnika

Salah satu tempat kulineran favorit saya di kota Bandung adalah pasar tradisional Cihapit. Jaraknya relatif dekat dari rumah yakni sekitar 4,5 km atau 20 menit berkendaraan. Pasar yang terletak di Jalan Cihapit no. 32 Kecamatan Bandung Wetan ini, walaupun statusnya sebagai pasar tradisional, namun cukup rapi dan bersih. Di pasar legendaris tersebut juga dijajakan berbagai penganan tradisional khas Jawa Barat, seperti kupat tahu, loték, surabi, bandros, dan kue balok. Berbagai kerupuk dan keripik dijual juga di sini.

“Ah, pokoknya mah segala kabita”. Itulah barangkali ungkapan tepat untuk menggambarkan saat berada di tempat ini, segala sesuatunya bikin kita tertarik. Makanya tidak usah heran bila suatu hari mampir ke pasar Cihapit, selain ingin mencicipi segala makanan di situ, pulangnya pun tangan kita rimbil dengan tentengan kantong kresek berisi segala jajanan. Tidak percaya? Coba saja buktikan sendiri.

Oh iya, selain berbagai jajanan yang telah disebutkan tadi, di sini dijual juga berbagai buah-buahan segar dengan kualitas cukup baik. Kali ini saya tertarik dengan salah satu buah yang jarang dijual di pasar tradisional lainnya yakni kesemek.

Mungkin karena buah yang satu ini tidak sepopuler jeruk, pepaya atau buah-buahan lainnya yang biasa dikonsumsi, sehingga jarang pula yang menjualnya. Sekalipun tidak populer, saya lihat pedagang kesemek satu-satunya di pasar Cihapit ini tidak sepi pembeli. Memang sih kebanyakan pembeli bukan warga asli melainkan keturunan Tionghoa. Karena penasaran, saya pun ikut-ikutan mereka membelinya.

“Yang setengah matang lebih enak katanya Neng,“ kata si penjual sambil membantu memilihkan kesemek yang akan saya beli. Sesuai saran lelaki tua itu, saya pun mencampur kesemek matang dengan yang setengah matang. Harga sekilo “buah menor” itu 20 ribu Rupiah.

Sedari kecil saya mengenal kesemek, tampilannya tetap sama yakni menor seperti dilumuri bedak putih tebal. Tak heran bila ia dijuluki “buah menor” dan bahkan sering pula disebut “buah genit”. Inilah salah satu keunikannya. Mengapa mesti dibedaki begitu ya?

Usut punya usut, ternyata bubuk putih seperti bedak yang menyelimuti kulit buah kesemek bukan bawaan alami sejak buah itu di pohonnya, melainkan karena proses yang dilakukan sebelum kesemek dikonsumsi. Hal ini berkaitan dengan jenis kesemek itu sendiri. Ada yang manis sehingga bisa dimakan langsung saat sudah matang dan ada pula kesemek yang kesat atau sepet rasanya walaupun sudah matang, sehingga tidak bisa langsung dikonsumsi.

Nah, salah satu cara untuk mengurangi rasa sepet itu, maka kesemek direndam dalam larutan air kapur selama 24 jam. Larutan kapur yang tertinggal di kulit buah berwarna oranye inilah menyebabkannya seperti dilumuri bedak putih. Setelah proses tersebut, kini buah yang bentuknya mirip tomat itu pun rasanya berubah manis, daging buahnya padat, dan renyah mirip buah apel.

Lantas, dari manakah “buah genit” ini berasal? Kesemek berasal dari negeri Tiongkok, kemudian menyebar ke Jepang dan dikembangbiakkan di sana sejak dahulu kala. Pada perkembangan berikutnya buah ini menyebar ke bagian lain Asia. Sekitar tahun 1800-an bangsa kolonial membawanya ke Eropa selatan dan Amerika (Kalifornia).

Begitulah sekilas asal-muasal buah dengan nama ilmiah Diospyros kaki tersebut.

Selain enak dimakan, kesemek juga merupakan buah yang dianggap penting dalam tradisi Tiongkok dan Jepang. Tak heran jika memiliki nilai komersial yang tinggi di kedua negara itu. Kini produksi kesemek semakin meluas hingga ke Selandia Baru, Australia, dan Israel yang dinamai sebagai Sharon fruit.

Barangkali karena di negara kita kurang populer, sehingga belum banyak yang mengetahui bahwa buah yang berasal dari Tiongkok tersebut termasuk buah istimewa lho. Mengapa istimewa? Karena kesemek mengandung nutrisi cukup tinggi. Dalam setiap 350 gram kesemek mengandung 127 kalori, sehingga buah ini cocok sebagai sumber energi. Dengan mengonsumsinya dalam jumlah seimbang menyebabkan kita merasa kenyang dalam waktu cukup lama.

Seperti halnya buah berwarna oranye, kesemek juga diyakini sarat vitamin A yang penting untuk memelihara kesehatan mata. Bahkan, kandungan vitamin A dalam kesemek bisa memenuhi 55% kebutuhan vitamin A harian tubuh.

Selain itu, kesemek juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkal efek radikal bebas mengingat adanya kandungan bernama asam askorbat. Kandungan asam askorbat ini bisa memenuhi kebutuhan vitamin C harian tubuh kita sebanyak 80%. Vitamin C juga sangat berperan dalam menjaga kulit agar lebih sehat alami.

Kesemek juga merupakan sumber serat yang baik untuk tubuh dan pencernaan kita. Untuk itu, rajin-rajinlah mengonsumsi kesemek secara rutin baik secara langsung dengan terlebih dulu dikupas kulitnya atau dibuat manisan.

Tidak cuma itu, seorang ahli diabetes Indonesia yang juga seorang ahli Bio-nuklir dan Formulator Buah dan Tanaman, Prof. Ir H. Moch Sudjana, Ph.D. atau akrab dipanggil Kang Jana, telah menciptakan Super Bio Collagen (SBC) dengan berbasis kepada kearifan budaya lokal. Kang Jana mengembangkan sebuah penelitian tentang khasiat yang terkandung dalam kesemek. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kandungan buah kesemek ini pada intinya dapat mengubah sel-sel yang sudah lemah dan rusak menjadi sel-sel baru untuk mengatasi penyakit diabetes. Selain itu, buah yang dalam bahasa Inggris dinamai Oriental persimmon (Chinese/Japanese) ini juga dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan stamina dan vitalitas.

Untuk itulah, pada 2018 lalu Kang Jana merencanakan mendirikan pabrik pengolahan kesemek di Gayo. Alasannya, seperti kita ketahui bahwa kesemek tumbuh subur di daerah dataran tinggi dan berhawa sejuk. Kiranya Gayo yang berhawa sejuk itu memiliki potensi tanaman kesemek mampu tumbuh subur di sana.

Tidak cuma di Gayo, sudah saatnya pula para petani kesemek di daerah dataran tinggi Jawa Barat, Jawa Timur, dan di daerah lainnya untuk membudidayakan tanaman kesemek lebih banyak lagi. Tentunya dengan kualitas yang lebih baik lagi, sehingga dapat bersaing dengan negara lain. Ini mengingat produksi kesemek di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, pada umumnya hanya cukup untuk konsumsi lokal.

Selain itu juga, Sumatra Utara, khususnya wilayah Brastagi yang di waktu lalu pernah secara tetap mengirimkan kesemek untuk Singapura, kini terhenti karena kualitasnya terdesak oleh kesemek produk negara-negara lain. Ini pun perlu segera mendapat solusi untuk mengembalikan kejayaan kesemek Brastagi.

Tidak disangka ya, ternyata buah yang kurang populer seperti kesemek ini memiliki banyak manfaat. Nah, setelah kita menyimak berbagai hal tentang kesemek termasuk manfaatnya untuk kesehatan tubuh, kiranya kita pun dapat mulai mengonsumsinya secara rutin dari sekarang. Bila perlu kita pun dapat memanfaatkan lahan pekarangan atau kebun untuk ditanami kesemek, sehingga dapat memenuhi kebutuhan kesemek minimal untuk diri sendiri dan keluarga.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This