Kapan Aku Bahagia

by | Aug 24, 2021 | Tunas Muda

Sakit…
Sedih…
Lapar…
Pusing…
Aku ingin sekali merasakan kebahagiaan seperti anak-anak di luar sana. Namaku Sarah. Ibuku sudah tiada, saat melahirkan adik-adikku. Ya, adikku kembar. Ayahku juga sudah mulai tidak waras, mabuk-mabukan tiap malam dan tidak mempedulikan anak-anaknya yang masih kecil ini.
Aku anak sulung yang sebenarnya masih kecil, kelas 2 SD. Seminggu sejak ibuku meninggal, ayahku meminta kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan aku dari sekolah. Ayahku baru saja mengeluarkanku dari sekolah kemarin. Lalu aku dan adik-adikku pun dikurung di sebuah kamar. Aku tidak boleh makan, mandi, apalagi keluar kamar. Jika aku tidak menuruti perintah ayahku, dia mengancam akan membunuh kedua adikku yang baru berusia seminggu.

Aku dan adik-adikku dikurung selama sebulan. Kami sangat lapar. Adik-adikku menangis kelaparan. Aku berusaha menenangkan mereka tetapi tetap saja, mereka tidak berhenti menangis. Aku juga tidak tahu bagaimana aku harus makan. Aku mencari seluruh kamar dan tidak ada makanan, minuman maupun susu. Setelah sekian lama kutenangkan akhirnya mereka tidur. Gelap sekali kamarku, mana pintunya dikunci, kamar mandi jauh dari kamar.
Tetangga-tetanggaku sudah mengetahui ketidakwarasan ayahku. Beberapa tetanggaku berusaha membujuk ayahku dan mengasihani aku dan adik-adikku. Tetapi tetap saja, mereka diancam oleh ayahku.

Suatu hari aku sedang mempunyai nyali ke kamar mandi untuk buang air. Ayahku sedang tidak ada di rumah, aku juga berhasil mendobrak pintunya. Setelah aku keluar kamar mandi ayahku pulang dari mabuk-mabukan. Lalu aku disakiti, dipukuli sampai mulutku berdarah. Ah, menyedihkan sekali hidupku ini. Hingga keesokan harinya aku pun diikat badannya dan ditarik oleh ayahku sendiri. Aku dijual.

Lalu akupun bertemu dua kakak-beradik perempuan yang kemudian menanyakanku, “Siapa namamu? Kenapa badanmu diikat seperti itu?”
Ayahku menjawab, “Anak ini tidak punya nama. Jika ingin berbicara dengannya, bayar dulu!” Ucap ayahku seraya ingin memukul kakak yang bertanya. Lalu si adik menangkis tangan ayahku dan dia memberikan ayahku uang yang lumayan banyak sekira Rp3 juta.

“Udah cukup banyak tuh, uangnya! Ambil aja keburu dicolong orang!” Ujar si adik tersebut.

“Ah, kamu yakin ‘nih buat beli adek ini?” Kata kakaknya. “Ah nggak papa, lagian anak ini juga kasian.” Ujar si adik.

Kepalaku berbunga-bunga ketika mereka akhirnya mengadopsi aku. Aku segera dimandikan dan dibersihkan. Aku diberi nama Sarah, itulah namaku. Dan akhirnya, aku bisa merasakan yang namanya kebahagiaan. Seperti kata pepatah, yang mengatakan bahwa hidup itu sama seperti roda, kadang diatas, kadang dibawah.

Malang, 21 Agustus 2021
Anindya Larasati

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This