Introspeksi Seorang Ibu di Hari Ibu

by | Dec 22, 2021 | Essai

Tanggal 22 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ibu. Ucapan selamat pun bertebaran di timeline maupun di grup-grup WhatsApp (WA). Lantas pantaskah diri ini mendapat ucapan “ Selamat Hari Ibu”? Sementara menurut sejarahnya, Hari Ibu itu bermula dari Kongres Perempuan Indonesia III yang digelar di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938. Peringatan tersebut tercantum dalam keputusan Presiden Soekarno dalam Dekrit Presiden No. 316 th 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional. Dengan ditetapkannya Hari Ibu tersebut diharapkan perjuangan para perempuan Indonesia akan selalu dikenang dan dihargai atas jasa-jasanya dalam membantu meraih kemerdekaan RI.

Siapa saja para perempuan pejuang yang berjasa dalam membantu meraih kemerdekaan RI itu? Mereka adalalah R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Christina Tiahahu, Cut Mutiah, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Rangkayo Rasuna Said, Nyai Achmad Dahlan, dan masih banyak lagi perempuan lainnya yang berjasa pada negeri baik di masa lalu maupun di masa kini. Mereka itulah yang sebenarnya lebih layak mendapat ucapan “Selamat Hari Ibu”.

Ah, apalah andil diriku ini untuk bangsa dan negara walaupun benar adalah seorang ibu. Untuk disejajarkan dengan ibuku atau mertuaku saja aku belum pantas. Ibuku seorang yang telah melahirkan sembilan orang anak dengan normal walaupun mesti kehilangan 3 anak saat mereka masih kecil bahkan ada yang masih bayi. Ibuku seorang perempuan yang sederhana dan penyabar serta menerima apa adanya. Lantas mertuaku adalah seorang perempuan tangguh, tegas, dan mandiri sekaligus ibu tunggal yang membesarkan 4 anaknya setelah suaminya meninggal dunia. Apalah artinya aku jika dibandingkan dengan kedua perempuan itu? Aku hanya bisa belajar dari mereka, bagaimana menjadi seorang ibu penyabar, tangguh, mandiri, dan berkepribadian sehingga menjadi inspirasi terutama buat anak perempuanku.

Hari ini tepatnya hari untukku berintrospeksi. Sudahkah aku menjalankan kodratku sebagai seorang ibu? Sudahkah aku menjaga amanat yang Allah titipkan padaku berupa kedua anakku dengan sebaik-baiknya? Sudahkah aku menjalankan pola pengasuhan sesuai dengan yang disyariatkan oleh-Nya? Duh, sepertinya belum. Astaghfirullah, ampuni hamba ya Rabb. Izinkan aku untuk terus menimba ilmu untuk dapat menjalankan amanah-Mu yang mulia itu meski kedua buah hatiku itu sudah mulai beranjak dewasa. Namun tugas hamba belum tuntas. Masih banyak tugas dan pekerjaan rumah yang mesti diperbaiki. Mohon berikan waktu untuk itu.

Teruntuk kedua buah hatiku tercinta, Raihana dan Hilmy, maafkan mama jika belum bisa menjadi ibu yang sempurna bagi kalian. Menjadi ibu yang kalian idamkan. Mama masih harus belajar dan terus belajar untuk menjadi seorang ibu semestinya. Mamamu ini bukanlah seorang seperti RA. Kartini dan Raden Dewi Sartika yang begitu berjasa pada negeri. Perempuan-perempuan inspiratif yang menggugah dan menyadarkan kaum perempuan akan pentingnya pendidikan. Pejuang tangguh seperti Cut Nyak Dien yang makamnya pernah kita ziarahi beberapa waktu lalu di Sumedang. Atau seperti pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia lainnya. Hanya bisa membekali sedikit ilmu dan pengetahuan buat kalian berdua pun mama sudah bersyukur.

Raihana, anak perempuan mama, sejak dirimu dalam kandungan kamu sudah mama bawa-bawa bekerja dan mengisi beberapa acara kantor di luar kota. Saat kamu kecil, masih ingatkah sebelum kamu tidur mamamu ini biasa mengantarkan tidurmu dengan membacakan Juz Amma dari Surat At- Takatsur hingga An-Nas, karena memang hanya surat-surat itu yang mama hafal. Mamamu ini juga hanya bisa mengajarimu mengaji kata-perkata tanpa metode apa pun seperti yang kamu peroleh di sekolah karena memang hanya itu yang mamamu mampu. Untuk itu kamu disekolahkan ke TK, SD bahkan SMP Islam agar kamu lebih banyak belajar daripada yang telah mama berikan di rumah. Maafkan mama saat mama sakit tidak bisa mendampingimu ketika kamu menjadi anak baru di sekolahmu dan mendapat bulian dari teman sekelasmu. Tidak bisa mendampingimu saat kamu wisata sekolah, sementara yang lain bergembira bersama ibu-ibu mereka. Tapi mama senantiasa yakin kamu kuat dan mandiri sebagai anak sulung. Ada kata-katamu yang masih diingat saat mama belum sembuh betul dan itu masih terngiang-ngiang di telinga hingga saat ini,, “Aku kangen masakan mama”, begitu katamu waktu itu. Sehingga setelah sembuh bahkan hingga kini mamamu ini senantiasa berusaha memasakan makanan untukmu agar kamu pun terbiasa dengan masakan mama.

Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa usiamu 21 tahun kini.

Alhamdulillah kamu tumbuh dengan dianugrahi kecerdasan verbal sejak kecil. Sehingga kamu pun menonjol dalam berbahasa. Kamu juga pandai berbagaul dan seringkali menjadi tempat curhatan teman-temanmu. Kamu pun pandai bernyanyi. Beberapa kali mendapat penghargaan untuk lomba nyanyi di sekolah juga karya ilmiah di kampus. Terima kasih ya Nak sudah menjadi kebanggaan ayah dan mama. Maafkan mama bila selama ini mama belum bisa menjadi seorang ibu yang kamu dambakan. Saat mama kesal bahkan marah mungkin saja ada kata-kata terucap yang semestinya tidak terucapkan. Semoga kata-kata itu tidak membekas di benakmu ya Nak dan tidak berakibat buruk untukmu. Tolong ingatkan mama juga bila selama ini banyak kelakuan yang tidak seharusnya mama lakukan sebagai seorang Ibu.

Untuk anak lelakiku Hilmy, sejak kecil sudah mama ajak mengantar dan menjemput kakakmu sekolah maupun mengaji sehingga kamu terbiasa dengan lingkungan sekolah dan mengaji. Seperti kakakmu, sejak kecil sudah mama ajari mengaji dengan cara yang sama seperti saat mengajari kakakmu. Saat usiamu 5 tahun, kamu pernah menjadi tongkat mama ya Nak. Saat mama masih harus terapi dan check up ke dokter. Kamulah yang senantiasa menuntun dan menemani menggantikan ayahmu yang tengah bertugas di Malaysia. Terima kasih ya Nak. Apa yang tidak sempat mama lakukan terhadap kakakmu saat mama sakit akhirnya tertumpah kepadamu.

Kamu pun tumbuh dengan bakat berbeda dengan kakakmu, bela diri adalah bakatmu. Puluhan kejuaran telah kami ikuti semenjak kamu SD hingga SMA kini. Pesan mama tetaplah rendah hati, tirulah ilmu padi, semakin berisi maka semakin merunduklah. Hilmy, anak kebanggaan ayah dan mama juga yang saat kelas satu SD sudah bisa berujar “ janji laki-laki adalah janji matahari yang senantiasa ditepati”, entah dari mana kamu peroleh kata-kata itu. Semoga saja kata-katamu itu senantiasa terpatri di hatimu. Kamu juga yang senantiasa mengingatkan mama agar jangan sembarangan berkata-kata sebab kata-kata seorang Ibu adalah do’a. Kamu juga sangat takut saat mama marah karena kamu takut kehilangan surga yang berada di telapak kaki mama, katanya. Meskipun seringkali kamu juga bikin kesal mama.

Maafkan mama yang Nak, jika selama ini belum mampu menjadi ibu yang kamu idolakan. Maafkan juga mama bila saat marah terlontar kata-kata yang tidak berkenan di hatimu. Mamamu ini bukanlah seperti ibunda Syeikh Abdurrahman as- Sudais, Imam Besar Masjidil Haram, yang saat marah pun kata-katanya tetap terjaga bahkan berisi do’a yang mulia. “Idzhab ja’alakallahu imaaman lil haramain (pergi kamu, biar kamu jadi Imam di Haramain),” ujar sang ibu dengan nada marah. Dengan izin Allah terkabullah kata-kata ibunda Syeikh Sudais itu dan Syeikh Sudais menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Tapi mama bersyukur sekalipun kamu baru bisa mengimami mama dan kakakmu saat tak pergi ke masjid. Beberapa kali pula menjadi imam shalat Ied di keluarga besar saat musim pandemi Covid 19.

Melihat anak-anak tumbuh dengan sehat wal’afiat dan tersenyum bahagia setiap harinya itulah kebahagianku sebagai ibu. Apalagi jika menyaksikan mereka tumbuh menjadi manusia bermanfaat bagi dirinya sendiri terutama, apalagi buat orang lain, maka bertambah-tambah pulalah kebahagiaan dan rasa syukur itu. Harapku tidak hanya menjadi seorang ibu buat anak-anakku tetapi juga menjadi teman mereka bercerita, mencurahkan segala isi hatinya. Harapku pula dapat senantiasa hadir saat mereka membutuhkanku sekalipun hanya lewat do’a saat mereka tidak berada dalam jangkauan mata. Dalam do’aku senantiasa kutitipkan pada-Nya kemana pun mereka pergi dan di mana pun mereka berada karena hanya Dia-lah sebaik-baiknya penjaga.

Sementara tugasku bersama suami sesesungguhnya adalah menjaga keluarga kami. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6).

Baca Juga

1 Comment

  1. dina triana

    jadi pengen nangis bacanya, bismilllah wahai semua ibu semoga selalu bahagia dalam perlindungan Allah dan keluarga Aamiin

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This