Ibu Sejati

by | Dec 22, 2021 | Essai

Sejarah lahirnya Hari Ibu bermula dari Kongres Perempuan Indonesia III yang digelar di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938. Dengan ditetapkannya Hari Ibu tersebut diharapkan perjuangan para perempuan Indonesia akan selalu dikenang dan dihargai atas jasa-jasanya dalam membantu meraih kemerdekaan RI.

Diketahui, organisasi perempuan sebenarnya sudah ada sejak tahun 1912. Adapun para pejuang dikalangan perempuan tersebut yaitu R.A Kartini, Cut Nya Dien, Christina Tiahahu, Cut Mutiah, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Rangkayo Rasuna Said, Nyai Achmad Dahlan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dengan demikian bahwa peran ibu begitu sangat besar dan mulia, tidak hanya berjuang namun bagaimana mewujudkan sebagai kodrati kaum hawa di mata Allah swt. Jika amanah dalam kehidupan penghidupan dilaksanakan dengan ketulusan dan tanggungjawab berimbang, sungguh indah rasanya di dalam penyanggahannya.

Ibu tetaplah ibu, sampai kapanpun yang memiliki jiwa seorang ibu, tanpa ibu rasanya hambar. Dan ibu juga manusia biasa, manusia lemah Juga memilliki kekurangan, kelebihan namanya manusia. Bukan berarti bahwa segalanya benar dan yang disampaikan benar, tetap ada dalam jiwa seorang ibu pilih kasih terhadap anak-anaknya, hal-hal yang menjadi kekurangan, kelebihan namanya insan manusia.

Kalau dikaitkan dengan sebuah perjuangan sebuah hal normal, karena manusia tertakdir, terkodrat demikian. Perjuangan perbuatan dan tindakan bukan hanya soal untuk negeri, di wujudkan dalam kehidupanpun sehari-hari dalam lingkungan keluarga, kemasyarakatan menjadi sebuah hal luar biasa, dan bisa dikatakan ibu sejati sejatinya ibu, jika hal yang dilakukan untuk kebagusan bukan untuk hal yang tidak baik.

Tidak adanya klaim tanpa ibu di dunia tidak ada isinya, kembali berpikir secara alami, dengan sangat sederhana, mendasar bahwa Allah berkendak adanya kehidupan berdampingan dua insan manusia yang berbeda menjadi tali satu ikat.

Hari ibu diperingati sebuh penghormatan setinggi-tingginya bahwa seorang perempuan memiliki kiprah yang sama sebagai pengisi di bumi dan perjuangan terhadap negeri sedikit dan banyak terpanggil jiwa raganya di kala saat itu hingga saat ini bahwa seorang perempuan, ibu memiliki andil dalam setiap langkahnya.

Dengan diperingati hari ibu untuk meletakkan dasar ke jati diri yang sejatinya, bahwa peran ibu tidak hanya berjuang untuk negeri juga berjuang dalam ruang lingkup keluarga, kemasyarakatan. Hal demikian menjadi pemikiran yang mendasar sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana kedepan dan keberlangsungannya peran seorang ibu berperan kembali dan mengukir jati diri sebagai anak, manusia dewasa yang mempatrikan nilai-nilai kepribadian Bangsa Indonesia.

Selamat hari ibu ke 93 tahun 2021 semoga perjuanganmu, kiprahmu masa itu dan masa sekarang, sebagai proses pembelajaran bagi perempuan saat ini dan akan menjadi ibu pada masanya untuk lebih baik, berdaya guna untuk ruang lingkup keluarga, kemasyarakatan dan untuk negeri tercinta Indonesia, sebagaimana warisan para leluhur, pendahulu dalam merawat, menjaga dan meningkatkan keberlangsungannya yang penuh tantangan di masa ke depannya.

Sby, 22 Desember 2021.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This