Ibu Pertiwi & Ayah Angkasa (Pemahaman Dasar Persetubuhan, Cinta dan Kasih Sayang)

by | Sep 12, 2021 | Pojok

Inilah adalah sebuah kisah yang berisi pemahaman dasar persetubuhan itu terjadi. Mengingat kesulitan bagi orang tua untuk memberikan pemahaman yang benar, tanpa harus berdusta dan pornografi, tulisan ini akhirnya saya buat. Diperluas lagi dengan kisah tentang cinta dan kasih sayang orang tua. Diharapkan orang tua bisa memberikan pemahaman yang jelas, membantu memberikan imajinasi yang lebih luas dan positif pada anak, serta sikap menghargai atas cinta, kasih sayang, alam, dan rahmat anugerah Ilahi. Selamat membaca!

Allah menciptakan bumi dan langit pada hari pertama. Keduanya menjadi ruang dan tempat bagi seluruh ciptaanNya kemudian. Keduanya diciptakan bersamaan, tentunya dengan maksud pasti yang hanya diketahui olehNya. Yang sudah terbukti adalah bahwa keduanya tidak bisa terpisah satu sama lain, saling membutuhkan, saling mengisi, dan saling mempengaruhi.

Mereka berdua seperti ibu dan ayah kita sendiri, yang saling mencintai dan bekerjasama untuk membesarkan, melindungi, menjaga, dan memberikan semua yang terbaik. Karena itulah, bumi disebut sebagai Ibu Pertiwi dan langit sebagai Ayah Angkasa.

Ibu Pertiwi menyimpan benih-benih kehidupan di dalam rahimnya. Benih-benih yang kemudian akan menjadi tanaman dan pepohonan. Pada waktu yang tepat, Ibu Pertiwi akan memberitahukan Ayah Angkasa untuk segera menyiraminya. Ibu Pertiwi akan meminta Ayah Angkasa membuka tabirnya agar air di dalam tubuh Ibu Pertiwi dapat tersinari matahari, dan lalu terangkat ke langit.

“Kekasihku Angkasa, betapa saya merindukanmu. Datang dan temuilah saya, kirimkan cintamu! Siramilah benih-benih yang ada di rahimku agar mereka dapat lahir dan tumbuh besar. Mereka adalah cinta kita.”

“Iya sayang! Sebentar, yah! Untuk cinta kita dan masa depan!”

Ayah Angkasa bergegas menurunkan hujan. Dia pun ingin anak-anak buah cintanya dan Ibu Pertiwi selalu ada mengisi kehidupan, tumbuh besar, sehat, dan berguna bermanfaat bagi semua.

Air yang diturunkan oleh Ayah Angkasa menyebar luas, menyusup ke dalam tanah sebagai yang merupakan rahim Ibu Pertiwi. Benih-benih yang ada di dalamnya pun tersiram air dan bersatu dengan vitamin serta mineral-mineral yang ada, benih-benih itu pun tumbuh membentuk tunas-tunas kecil kemudian.

“Lihaatlah sayang! Anak-anak kita telah lahir. Mereka sungguh sangat cantik. Hijau, segar, dan sehat!”.

Tidak hanya sampai di sana, Ibu Pertiwi dan Ayah Angkasa bersama-sama terus merawat, mengasuh, menjaga, dan melindungi semua tunas-tunas itu dengan penuh kasih sayang. Tidak peduli waktu dan usia, mereka terus memberi. Bahkan pada saat Ibu Pertiwi dan Ayah Angkasa sakit berat karena polusi, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Tanpa ada pamrih, tanpa ada berharap balas budi. Mereka melakukannya dan memberikannya dengan tulus dan ikhlas, sebab mereka tahu bahwa tanaman dan pohon-pohon sangat dibuuhkan oleh semua makhluk hidup. Bukan hanya sebagai sumber makanan, tetapi untuk perlindungan, obat, penyedia oksigen, dan banyak lagi. Bagaimana kalau tidak ada tanaman dan pohon? Siapa sanggup membeli oksigen setiap harinya hanya untuk bernafas?

“Angkasa kekasihku, mengapa mereka tidak mengerti juga?! Bagaimana nasib mereka bila tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup? Apakah mereka memiliko cukup uang untuk membelinya?”.

“Ibu Pertiwi sayang, saya tak sanggup melihat anak-anakmu dan semua yang berlindung di rahimmu menderita. Bagaimana mungkin saya membiarkan mereka mati hanya karena kita tidak memberikan semua yang terbaik. Biarlah mereka lakukan apa saja yang mau mereka lakukan, semua akibatnya mereka sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya dan merasakan akibatnya. Tugas dan kewajiban kita adalah memberikan mereka semua yang terbaik, beguna, dan bermanfaat bagi mereka semua.”

Sama seperti ayah dan ibu kita, kan? Mereka akan terus memperhatikan dan memberikan yang terbaik semampu mereka meskipun kita sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Tidak ada yang mereka inginkan selain kita menjadi manusia-manusia yang berbudi luhur, berakhlak mulia, jujur, adil, rajin dan tekun, serta berguna dan bermanfaat bagi semua. Itu adalah bayaran yang paling berharga bagi mereka, sebab semua uang yang kita miliki dan hasilkan, tidak akan pernah cukup membayar semua yang telah mereka berikan kepada kita. Mereka ada sejak kita masih belum lahir, belum ada, untuk kita karena cinta dan kasih sayang mereka.

Oleh karena itu, alangkah baiknya bila kita semua paham dan mengerti bagaimana perjuangan, pengorbanan, kasih sayang Ibu Pertiwi dan Ayah Angkasa, ayah dan ibu kita bagi kita. Sungguh tidak mudah untuk paham dan mengerti, lebih mudah untuk minta dimengerti, namun kita akan menjadi yang paling bahagia dan beruntung jika mampu paham dan mengerti. Berikanlah semua yang terbaik dengan tulus dan ikhlas, apa yang baik akan menghasilkan yang baik pula kemudian. Tidak ada keburukan yang diberikan Allah, semua keburukan adalah buah dari keburukan kita sendiri.

┬░Tamat –
Bandung, 7 September 2017
Salam hangat,
Mariska Lubis

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This