Ibu, Kecintaanmu Sungguh Abadi

by | Dec 23, 2021 | Essai

Sebuah Permenungan di Hari Ibu

Setiap kita menyebut kata “Ibu” dengan cepat pikiran kita akan merespon, dan mengilas balik pada sosok perempuan yang selalu siap dalam kondisi apapun. Itulah Ibu, perempuan hebat dan kuat, dengan berjuta kemampuan dan kesederhanaannya dalam ketulusan pengabdiannya. Dalam sebuah kesempatan saya pernah membaca tulisan Mohammad Hatta, “ketika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau telah mendidik seorang lelaki, dan ketika engkau mendidik seorang perempuan, engkau telah mendidik satu generasi”.

Tentu saja tulisan ini mempunyai makna yang sungguh besar, karena Ibu adalah sosok pertama yang akan membentuk pola perilaku dan karakter anak. Ibu menjadi salah satu tokoh penting yang akan menentukan masa depan peradaban generasi penerus suatu bangsa dan negara.
Peran Ibu sebagai pendidik pertama di rumah memiliki andil yang begitu besar dalam pembentukan karakter, kepribadian, peradaban, intelelektualitas, budi pekerti, kemampuan berkomunikasi, dan keseriusan anak dalam membangun mimpi-mimpi besarnya guna menggapai cita-cita dan keinginan di masa depannya nanti.

Sosok Ibu, dan tentunya juga figur Ayah, akan tetap menjadi panutan bagi seorang anak, menjadi tokoh yang dikagumi, diimpikan, dirindukan di setiap hela nafasnya. Menjadi contoh dan diteladani dalam perilaku keseharian, termasuk di dalamnya adalah tutur wicara, kesantunan berbahasa, bersikap dan berperilaku, serta cara tampil yang ditunjukkan seorang Ibu di hadapan anak-anaknya.

Peran Ibu sungguh luar biasa, Ibu menjadi tokoh utama dan fundamental terkait pembentukan watak anak dalam membangun sikap dan mental positif guna merangsang tumbuhnya kemampuan afektif anak, kemampuan kognitif, dan psikomotorik atau keprigelan “keterampilan anak”. Dan tak kalah penting adalah perilaku ketaatan seorang Ibu dalam beribadah dan menyembah Rabb semesta alam yang akan menjadi pilar kokoh bagi seorang anak dalam kehidupan beragamanya kelak di kemudian hari.

Tentunya kita tak pernah lupa pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disitu dijelaskan bahwasanya Rasulullah SAW pernah didatangi seorang laki-laki yang bertanya “Wahai Rasulullah siapakah yang paling berhak aku berbakti kepadanya?”, Rasulullah menjawab “Ibumu”, kemudian dia bertanya lagi “kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab “Ibumu”, dan dia bertanya lagi “siapa lagi ya Rasulullah?” Rasul pun menjawabnya lagi “Ibumu”. Dan pada pertanyaan keempat Rasulullah baru menjawabnya dengan kalimat “Ayahmu”.

Secara rasional kita dapat bernalar betapa hebat dan luhurnya kedudukan seorang Ibu yang dalam kehidupan sehari-hari dapat menduduki “jabatan strategis” apapun. Seorang Ibu tidak mudah dan tidak akan mungkin tergantikan oleh siapapun.

Tentunya kita juga pernah membaca sebuah literatur tentang presiden Amerika pertama George Washington yang mengatakan, “Ibu adalah orang yang paling indah, apapun yang saya capai tak lepas dari sosok Ibu. Saya berhutang padanya, segala kemampuan, intelelektualitas, dan peran yang saya curahkan semuanya berasal dari Ibu”.

Terkait dengan hal di atas maka hari ini yang bertepatan dengan peringatan hari Ibu, tidak ada kata yang mampu saya tuliskan dalam menggambarkan kecintaan, ketulusan, dan kepahlawanan seorang Ibu kepada anak-anaknya. Rasa “Terimakasih” yang tak terhingga kepada Ibu. Cinta Ibu adalah cinta yang tak terbatas, cinta yang tak pernah pudar, kini hingga nanti.

Selamat Hari Ibu, selamat berjuang mengantarkan generasi mulia yang paling bermartabat. Dan Allah telah menyiapkan kemuliaan kepadamu Ibu, atas semua pengorbanan, rasa cintamu tanpa pamrih kepada kami anak-anakmu ini.

Ponorogo, desember 2021
Selamat Hari Ibu, untukmu Ibu

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This