Hukum Piciak Jangek Kembalikan Aku pada Norma

Apr 4, 2024 | Essai

Views: 2

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Setiap individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam hubungan bermasyarakat. Interaksi bisa berjalan dengan baik jika para individu saling memahami. Menyampingkan perbedaan status mereka. Status sosial seseorang dapat menghadirkan tembok pemisah di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Agar perbedaan tersebut tidak menjadi kendala dalam hubungan antar individu dalam lingkungan masyarakat, maka muncullah kesepakatan untuk membentuk norma sebagai pengontrol. Norma merupakan kumpulan kaidah-kaidah atau aturan-aturan untuk mengatur tingkah laku manusia. Norma berisikan perintah, larangan dan sanksi tertentu.

Berdasarkan fungsi tersebut di atas, norma memiliki peran penting dalam mewujudkan ketertiban sosial kehidupan bermasyarakat. Ada beberapa contoh norma dalam masyarakat, seperti norma agama, norma hukum, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma kebiasaan.

Norma-norma tersebut berlaku secara umum. Jadi dalam norma, kedudukan manusia itu sama. Setiap pemberlakuan norma-norma baru, tentu ada sosialisasi dari pihak tertentu, agar masyarakat tidak salah paham akan maksud dan tujuan dari norma tersebut. Dalam sosialisasi ini kembali terjadi interaksi.

Andaikan saja dalam berinteraksi tersebut ada beberapa individu dalam masyarakat memiliki ego (egois) dari individu lainnya karena alasan tertentu, misalnya merasa lebih kaya, merasa lebih pintar atau merasa lebih berkuasa. Dan keegoisan mereka tersebut mampu untuk mempengaruhi cara berpikir individu lainnya. Tentu hal ini akan merusak tatanan kehidupan. Norma-norma bisa mereka ubah. Dan adanya kemungkinan terjadinya tebang pilih dalam penerapan aturan.

Hal inilah seharusnya perlu diantisipasi. Agar norma bisa menjadi pilar. Jangan biarkan segelintir orang bisa menguasai dan mendikte kebijakan dan keputusan para pejuang ketertiban. Bagaimana cara agar bisa mengontrol ego?

Menurut penulis, ego bisa dikontrol oleh setiap individu, kalau individu tersebut memahami Hukum Piciak Jangek (Hukum Cubit Kulit). Hukum Piciak Jangek mengingatkan setiap individu dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Cubit dulu kulit sendiri, kalau terasa sakit, berarti orang lain juga merasakan sakit. Begitu juga dalam bertutur. Lisan benar-benar harus dijaga.

Terkadang ego itu bisa muncul tanpa kita sadari. Ini sering sekali terjadi pada saat kita berbicara. Misalnya, pada saat berbicara atau bercerita dengan orang lain, kita sering memakai kata “saya” atau “aku” untuk mewakili diri kita sendiri. Menurut penulis, dalam dua kata, yaitu “saya” dan “aku”, ada perbedaannya. Meskipun kedua kata tersebut mempunyai arti sama.

Ketika penulis menggunakan kata “saya”, penulisan merasakan ada kenyamanan, ada kesetaraan, ada kesamaan derajat di dalamnya. Berbeda pada saat penulis memakai kata “aku”. Setiap penulis mengucapkan kata “aku” dan mendengarkannya melalui telinga penulis sendiri, penulis merasa seolah-olah penulis berada di atas lawan bicara. Mengintimidasi lawan bicara. Penulis merasakan level penulis berada di atas lawan bicara. 

Jadi, menurut penulis, kata “aku” bisa menghadirkan keegoisan, keangkuhan dan kesombongan. Mementingkan diri sendiri, meninggikan diri sendiri dengan cara menganggap rendah orang lain atau dengan cara memamerkan kelebihan.

Memang di negeri kita ini banyak ragam budaya dan bahasa. Setiap daerah memiliki bahasa masing-masing. Tentunya untuk kata ganti orang pertama tunggal ini, ada bahasa tersendiri pula di setiap daerah. Misalnya di daerah Muara Bungo, Jambi. Masyarakat di sana pada umumnya memakai kata “ngan”, “aku” atau “sayo”. Kata “aku” dipakai dalam keseharian, namun tetap ada kata “sayo” sebagai kata hormat. Kalau kata “ngan”, biasanya digunakan oleh warga dusun. Jadi, setiap kenal orang baru dan dia berbicara memakai kata “ngan”, seperti “Namo ngan Andi” (Nama saya Andi). Pasti lawan bicaranya menanyakan asalnya, “Dari dusun mano, Kawan”? (Dari dusun mana, Kawan). 

Dan masih bayak kata-kata lain sebagai kata ganti orang pertama tunggal di negeri ini. Menurut penulis dalam setiap daerah, ada penggunaan kata halus dan kasar dalam berbahasa. Seperti di Minangkabau, ada kata “ambo” (halus) dan “aden” (kasar).

Kembali ke kata “saya” dan “aku”. Penulis berpendapat bahwa “saya” adalah kata halus sedangkan “aku” adalah kata kasar. Alasan penulisan beranggapan demikian adalah dalam aku ada keegoan, seperti penulis uraikan di atas.

Dan salah satu cara agar bisa mencegah munculnya keegoan dari diri sendiri adalah dengan cara membiasakan diri berbicara sambil mendengarkan dan menerapkan Hukum Piciak Jangek. Dengan demikian “aku” akan kembali ke “saya”. Tidak ada lagi rasa ter-aku dalam diri.

Kesimpulan

Membiasakan diri menekan keegoisan dalam ha-hal kecil, seperti pemakaian kata dalam berbahasa pada saat berbicara. Berbicara ada normanya. Jangan sampai kita ikut serta melanggar norma-norma tersebut. Jika kita sudah berani melanggar norma, maka moral sudah mulai terkikis.  Hal itu akan berdampak buruk bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Mudah-mudahan penulis bisa menerapkan isi dari tulisan penulis sendiri.

03 Maret 2024

Rickardo Cahirat

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This