Haruskah Pancasila Diubah?!

by | Aug 23, 2021 | Pojok

Views: 0

Pertanyaan yang membuat dahi berkerut, apalagi yang bertanya bukan anak muda, tetapi justru dari angkatan di mana pelajaran Pendidikan Moral Pancasila masih ada. Dapat dipahami bila generasi muda yang menanyakan hal ini, sebab pengetahuan tentang Pancasila bisa dikatakan menurun drastis sejak era reformasi. Tidak heran juga bila bahkan ada yang berpikir bahwa Pancasila itu sudah kuno dan patut diubah. Mengerti pun tidak, lantas bagaimana bisa memiliki idealisme dan pandangan filosofis, dan berani untuk mengubahnya?!

Banyak pemikiran dari orang-orang hebat serta terkenal tentang Pancasila. Menarik untuk dipelajari serius, mengingat Pancasila ini hanya ada di Indonesia, dan menjadi sebuah keunikan tersendiri. Indonesia sendiri memang sangat unik, sebab merupakan negara yang memiliki keragaman budaya, suku bangsa, bahasa yang paling banyak di dunia tetapi mampu bersatu. Belum lagi ditambah dengan jumlah pulau yang begitu banyak, jumlah penduduk yang juga banyak, tersebar ke mana-mana, sehingga tidak bisa disamakan begitu saja dengan negara lain. Amerika dan China pun tidak memiliki keragaman sedahsyat Indonesia dan meski sama-sama memiliki jumlah penduduk yang banyak, tetapi mereka berada di wilayah daratan luas, tidak tersebar di pulau-pulau sebanyak Indonesia.

Pancasila yang dijadikan dasar negara, terlepas dari kontroversi sejarah soal urutan, susunan, dan siapa pembuatnya, selama ini tebukti berhasil menyatukan keragaman atau kebhinekaan yang ada menjadi sebuah negara. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, pada faktanya demikian. Tidak mudah menyatukan pemikiran dengan keragaman yang luar biasa hingga bahkan Pancasila bisa diterima sebagai landasan negara selama ini. Pemikiran-pemikiran lain yang meski muncul dari para pemikir hebat kelas dunia, juga hingga kini belum ada yang mampu menguraikan Pancasila dan membuat lebih baik dari Pancasila untuk Indonesia.

Menurut pandangan saya pribadi, sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi kunci utama dari kesuksesan Pancasila. Terlepas dari berbagai perbedaan soal agama, tetapi pada akhirnya manusia tetap mengakui bahwa adanya Tuhan. Pemikiran atheis yang tidak percaya dengan adanya Tuhan, menurut saya bisa dipatahkan dengan mudah. Logika manusia sungguh sangat terbatas, bahkan para jenius sekelas Einstein dan Stephen Hawking pun tidak mampu menjelaskan secara ilmiah dan logis bila harus menjawab darimana adanya semesta ini. Teori G-string, M-string, theory of everything memang hebat dan sangat logis secara ilmiah, tetapi tidak menjelaskan bagaimana satu atom terkecil bisa ada bila tidak ada ruang sebelumnya. Bagaimana mungkin terjadi ledakan di angkasa bila tidak ada ruangnya?! Siapa pencipta ruangan itu?!

Agama dan kitab suci bisa berbeda, tetapi disebutkan bahwa Tuhan pada hari pertama menciptakan langit dan bumi, yang dalam bahasa matematika bisa disebut ruang. Untuk mampu memahami ruang, seperti di dalam pelajaran geometri dibutuhkan kemampuan berimajinasi. Imajinasi ini sendiri sifatnya “ghaib” atau tidak kasat mata, kecuali bila sudah dituangkan dalam bentuk nyata seperti dalam tulisan atau gambar. Lantas, untuk apa berdebat soal keyakinan tentang hal yang ghaib ini, bila pemikiran dan imajinasi kita sendiri saja “tidak kasat mata”.

Persamaan keyakinan bahwa adanya keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, dan bahwa segala sesuatu yang ada dan terkandung di dalam bumi Indonesia ini, termasuk manusianya, membuat sila pertama dalam Pancasila menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa. Apalagi bila didasari dengan niat di dalam membentuk, mempertahankan, dan memanfaatkan segala isi dari bumi Indonesia ini adalah hanya karena Allah semata. Seperti niat di dalam shalat, dilakukan hanya karena Allah. Niatnya benar maka jalan ke depannya pun bisa menjadi benar, termasuk di dalam mengelola pemerintahan itu sendiri. Dengan segala hormat, sujud, dan syukur pula, maka negara Indonesia bisa terbentuk.

Lantas, apa yang kuno dari pemikiran Pancasila ini?! Tidak ada yang kuno, bahkan tidak akan pernah kuno hingga akhir jaman. Kembali lagi saja pada pemikiran tadi, siapa pencipta ruang di semesta ini? Adakah yang mampu menjawab selain Allah?! Terbukti setinggi-tingginya pendidikan dan sehebat-hebatnya ilmu pengetahuan serta teknologi, bahkan manusia tetap tidak mampu membuat banyak hal.

Tubuh manusia yang terdiri dari organ-organ, sel-sel, dan lain sebagainya, ibarat sebuah kota dengan sistem yang sudah sangat teratur. Asupan energi yang sedikit dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan, tidak mampu dilawan oleh para ahli. Butuh wilayah besar, energi besar, tenaga banyak, dan dana yang luar biasa banyak untuk membangun sebuah kota yang memiliki sistem yang sedemikian canggihnya seperti tubuh manusia. Allah menciptakan hanya sebesar tubuh kita ini, lantas bagaimana mau bersaing dan merasa lebih hebat dari Allah?! Apalagi bila berpikir Allah itu tidak ada. Buktikan saja dengan menciptakan manusia dari nol atau dari tiada, mampukah?!

Ini belum bicara soal sila kedua, di mana pemikiran dari sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, juga menurut saya sangat dahsyat. Manusia yang selama ini dimasukkan ke dalam kategori mamalia, dan sebagai manusia modern disebut sebagai homo sapiens ternyata memang tidak sama dengan bahkan mamalia yang memiliki gen paling mirip manusia menurut hasil penelitian para ahli, yaitu babi. Manusia diberikan kelebihan akal dan budi sehingga mampu “mencipta” sementara hewan tidak, begitu juga dengan tumbuhan. Kalau urusan nafsu, makan, kerja, berkembang biak, dilakukan juga oleh makhluk hidup lainnya, tetapi “mencipta”?! Mana ada makhluk hidup lain yang mampu menulis seperti manusia?! Robot pun tidak mampu berkarya lewat tulisan seperti manusia!

Rasa kemanusiaan sebagai manusia yang berakal budi dengan kemampuan “mencipta”, bukan sekedar meniru, inilah yang membentuk keadilan dan adab. Hasil karya tulis manusia dari masa ke masa merupakan bukti peradaban dan hanya dengan keadilan maka adab yang membentuk peradaban tinggilah, maka manusia mampu terus “mencipta”. Jika hanya dengan tulisan saja takut, bagaimana mungkin ada keadilan?! Bila keadilan tidak ditegakkan, bagaimana dengan adab dan peradaban?! Kehormatan mau dikemanakan?!

Tidak cukup satu buku tebal untuk menguraikan Pancasila. Namun untuk menjawab pertanyaan, “Haruskah Pancasila diubah?”, semestinya sudah ditemukan jawaban. Pancasila seharusnya dipelajari, dihormati, dan dibanggakan. Tidak ada yang mampu membuat Pancasila selain manusia-manusia Indonesia yang mendirikan negara Indonesia. Jika ada yang merasa lebih hebat, sebaiknya buktikan saja dulu bahwa sila pertama itu salah, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak ada dan tidak patut dijadikan sebuah landasan dalam bernegara. Pancasila tidak pantas diubah sampai kapan pun, selama Indonesia ini masih ada. Tidak ada yang berhak menggantinya kecuali mampu membuktikan memiliki pemikiran yang lebih hebat untuk mendirikan sebuah negara seperti Indonesia.

Bandung, 22 Agustus 2021
02:39 WIB

Oleh: Mariska Lubis, S.E., M.Int.S.

Baca Juga

2 Comments
  1. machmud soleha

    Pancasila memang buka sebuah kitab samawi, bukan buatan Tuhan, tapi Pancasila dilahirkan dari pemimpin pemimpinyg agamis religius, sungguh luar biasa hasilnya. bukan kitab tapi rakyat berkiblat, nusantara melindungi, negara menjaga. TNI POLRI mengawal. Silakan berpendapat apapun tentang pancasila tapi Pancasila tetap pancasila, pancasila tidak berubah sampai kapanpun. kecuali negara terjajah. DenganPancasila kita bersatu walau terdiri dari ribuan suku, bahasa dan bangsa. tapi dengan pancasila semua bersatu dan menyatu. Kalau dijaman seperti ini masaih ada orang yang mempertanyakan Pancasila, pasti oang eperti itu belum tahu, belum paham, belum mengerti tentang Pancasila. Pancasila tidak berlawanan dengan kitab, pancasila tidak berlawanan dengan Etika (akhlak), pancasila cocok dan pas dengan ajaran agama manapun, baik agama samawi atau agama bumi. terus kenapa masih bernafsu untuk merubahnya. bukan pancasila yang dirubah taopi manusianya yg harus berubah…..

    • Erick

      Sepakat!

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This