Hari Ayah, Mengantarkan Kedewasaan

by | Nov 12, 2021 | Essai

Mengantarkan yang menghiasi isi kepala, sampai saat ini menjadi kenangan yang melekat di kala masa itu, betapa saat itu walaupun keadaan alam, situasi pada zaman itu yang menyertai sangatlah hawa perdesaan, banyaknya pepohonan bambu, pepohonan lainnya yang sangat lebat, tidak adanya lampu penerangan, yang digunakan saat itu namanya “Lampu Oblek”, bahan bakarnya dari Gas Bumi. Jarak antar rumah sangatlah jauh setelah menjelang malam, tidak ada lagi orang berkeliaran, semuanya ada dalam gubuknya masing-masing.

Dari masa itu sejak kecil berumur 9 tahun sekitar tahun 1975 sampai lulus sekolah dasar, saya tidak mengerti pekerjaannya dan apa yang dilakukan orang tua, taunya sebagai petani dan tidak mengetahui masa dewasanya yang diketahui sudah uzur/tua. Bapak dikala itu seorang pendiam, bicaranya bisa dihitung dengan jari, dan tidak banyak berkata.

Di kala masih kecil yang masih diingat hanya bermain, kalau belajar dituntun ibu, jika diajari tidak bisa penggaris kayu kecil dipukulkan dibadan, bisanya menangis dan menahan rasa sakit karena takut, entah dimasa itu dan keadaan masa itu, walaupun keluar dan bermain sampai tengah malam melihat pertunjukkan di lapangan, tidak pernah dicegah dan dicari, Karena keadaan gelap pepohonan sangat lebat tanpa lampu penerang, sehingga selesai melihat pertunjukkan, tanpa ada kawan saat itu, untuk sampai rumah harus berlari kencang, karena takutnya saat itu dalam keadaan gelap gulita.

Seorang Bapak, saat itu tidak banyak bicara, yang disampaikan yang baik-baik saja, tidak banyak berkata-kata, apakah!, Karakternya pendiam, karena sangat sabar pula, keadaan saat itu yang dilakukan juga membantu orang, jika ada kesulitan, sakit.

Di kala masa kecil sampai dewasa, seorang Bapak, tidak pernah berubah, selalu menyampaikan hal yang baik-baik, memang karakter, kepribadiannya begitu, tidak pernah mengeluh, jikalau mengeluh mungkin dipendam. Disisi lain juga tidak pernah berebut dengan harta,walaupun atas jerih payahnya dikuasai sesungguhnya yang tidak berhak tetap mengalah juga, dan selalu mengalah, tanah lebar kali panjang digerus untuk jalan pun, pepohonan dibabat habis pun, tidak pernah diganti oleh Pemerintah pun tidak pernah berontak, serta dobohongipun tidak pernah berontak pemikiran.

Mengetahui dan diketahui beranjak remaja dan mengerti, bahwa Bapak seorang prajurit, dan sebutan yang melekat saat ini Tentara Nasional Indonesia (TNI), di kala saat itu mengerti dan bertanya kepada Bapak, bagaimana masa lalu saat melawan, berjuang dan ikut bertempur terhadap prajurit Belanda, yang disampaikan bahwa tanpa senjata, hanya bermodal Bambu Runcing, dan doa dari para orang ngerti, para kyai saat itu. Sungguh sangat ironis penjajah dengan senjata, prajurit pribumi seadanya.

Pergeseran masa dan waktu, tentara jepang ingin juga mencicipi bumi pertiwi, dengan dalih-dalih membantu, dan melatih baris berbaris, serta dilatih memegang senjata dan dilatih menembak. Pada kenyataannya, katanya Bapak!, ingin menjajah pula, akhirnya senjata makan tuan, bertempurlah dengan pasukan Jepang, sehingga Jepang takluk dalam seumur jagung. Dalam kurun waktunya tentara inggris pula, hendak bermain-main dengan rakyat surabaya, bertempurlah kembali dengan tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaha. Berbagai kurun waktu negeri bergolak, baik dilakukan pasukan asing, juga oleh bangsa sendiri, sebagaimana permesta dalam negeri seperti gerakan Komunis sejak tahun 1948, terulang kembali tahun 1965, 1966 dan semuanya diceriterakan, oleh Bapak kisah-kisah pahit dalam negeri, termasuk pembebasan Irian Jaya dengan Operasi Mandala.

Walaupun Bapak, tidak banyak bicara dengan logatnya, namun dapat dipelajari, diteladani, jiwa raganya, dari selama kehidupan, penghidupannya serta perjuangannya untuk negeri. Oleh karenanya saat ini jika dilihat perjuangan dengan gigih tanpa dibayar, panggilan jiwa raganya tanpa kenal lelah, tidak mengeluh demi negerinya. Saat itu sejak saya Sekolah Menegah Pertama sekitar tahun 1980, disampaikan, kepada saya, negara tinggal merawat dan melanjutkan cita-cita perjuangan “Semua Rebutan”, hal inilah masih terngiang dikedua telinga saya.

Dan saat inilah lupa akan perjuangan masa lalu, walaupun ingat sebagai kiasan dibibir saja., generasi tanpa susah, tanpa berperang, mempertahankan negerinya, tinggal menikmati hasil perjuangan, banyak diwarnai perebutan, dengan berbagai cara dilakukan.
Dari proses masa perjuangan, masa kehidupan dan penghidupannya, menjadi pembelajaran bagi putra-putrinya, dengan susah payahnya orang tua mempertahankan kehidupannya, tidak ada lagi penyangkalan lagi, semuanya riil didepan mata. Dan tidak ada lagi pertanyaan, semuanya sudah usai, walaupun kehidupan dan penghidupan masih berjalan.

Sebagai anak terhadap Bapak, walaupun sudah tutup usia Desember 2009, dimakamkan di Taman Pahlawan Mojokerto, menjadi contoh, suri tauladan, jiwamu, ragamu bersama para pejuang yang wafat ditempat tersebut, menjadi ikrar jati diri bagi anak-anakmu saat ini, walaupun pada titik terendah.

Salam hornat selalu kepada Bapak, kesetiaanmu terhadap negeri dan tanggungjawabmu tidak akan terlupakan.

Sda, 6 Nopember 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This