Hapuslah Air Matamu

by | Sep 2, 2021 | Pojok

Views: 0

Entah apalagi yang harus dilakukan, segala sesuatunya sudah seperti lepas kendali. Rasa percaya bahkan keyakinan dan iman semakin hilang dan lenyap. Resah gelisah penuh amarah, ketakutan, dan keputusasaan semakin meluas. Menyerah bukan untuk para pejuang, namun hanya keajaiban mujizat dari Yang Maha Kuasa sematalah yang mampu mengubah keadaan. Manusia hanya mampu berdoa dan berusaha memberikan yang terbaik, meski hanya sekedar setitik salju.

Jenuh rasanya melihat bagaimana perdebatan dan perseteruan terus terjadi di mana-mana. Seolah tiada bisa ada solusi yang mampu disepakati bersama lewat diskusi dan musyawarah. Masing-masing bersikukuh dengan alasan-alasan dan segala pembenaran yang bisa dibuat. Masa lalu dan kini begitu dibesar-besarkan hingga menutup langkah untuk melaju menghadapi masa depan.

Diberi tahu salah, ditegur marah, diajak maju malah diam. Terus merengek untuk diperhatikan dan diikuti segala kemauan yang salah. Menuduh dan menuding dengan segala gertak tajam yang menyesakkan menjadi senjata. Lupa bahwa setiap manusia tetap memiliki salah dan kurang, benar pun bisa menjadi salah kemudian dan salah pun bisa menjadi benar pada masanya. Dulu, manusia mengejek ide gila tentang keberadaan Televisi, kini siapa yang tidak pernah menonton Televisi?!

Terbayang penderitaan Van Gogh, seorang pelukis asal Belanda yang dituduh gila dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Diiris telinganya hanya karena berkarya lewat lukisan yang berbeda bentuk dari yang pernah ada sebelumnya. Justru setelah lama dia tiada, manusia yang berpikiran dan berhati merdeka mampu menerjemahkan apa maksud setiap lukisan yang dibuat olehnya. Segala pemujaan terhadap langit ternyata dibuat di atas kanvas, lewat titik-titik kecil perpaduan warna yang kini dikenal dengan sebutan pixel, dibuatnya di saat semua manusia saat itu belum mengerti. Lagu Stary Night karya Don Mclean menjadi bukti penyesalan. Tragis!

Tidak mudah menjadi pemikir dan pencetus ide baru, sungguh berat perjuangan manusia-manusia modern yang berpikiran lebih maju ke depan dari masanya. Tidak semua manusia mau melihat ke depan, apalagi mau berbuat untuk masa depan. Manusia yang selalu ingin perubahan, terbukti sesungguhnya sangat takut dengan perubahan itu sendiri. Untuk mengubah diri menjadi lebih baik pun menolak, meski merasa rendah hati dan ingin terus belajar. Fakta di mulut berbeda dengan di hati dan perbuatan.

Manusia memang bukan malaikat yang mampu mengubah manusia lain, apalagi hanya dalam waktu sekejap. Butuh proses dan waktu serta kesabaran dan konsistensi untuk membuat paham dan mengerti. Seringkali semuanya sudah terlambat, dan penyesalan tiada menjadi guna. Hanya ridha dan restu Allah yang mampu membuka mata hati dan telinga, hanya kepada yang dikehendakiNya ilmu diberikan. Tidak ada yang berhak memaksa dan dipaksa.

Pada saat segala susah dan pahit terasa, semestinya segala perdebatan itu dihentikan. Hilangkan amarah, kesal, dan gundah gulana. Hentikan segala alasan-alasan agar mampu bahagia. Perkuat iman dan keyakinan, berikan segala yang terbaik dengan tulus dan ikhlas untuk semua. Bersatu padu dengan diskusi dan musyarawah untuk mencari solusi terbaik hendaknya dilakulan agar semua bisa melangkah maju. Kita hanyalah manusia, yang tidak sanggup sendiri walau merasa mampu dan selama ini merasa melakukan segala sesuatunya sendiri dan untuk sendiri.

Allah Maha Baik, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bila Allah pun memberi segala manis dan pahit karena cinta dan kasih sayangNya, mengapa takut menghadapinya? Kebenaran hanya milik Allah semata, manusia selalu ada salah dan banyak dosa. Justru dari setiap salah kita belajar untuk bisa lebih baik, bila selalu benar maka tidak mungkin mampu menggapai yang benar dan bahkan mengerti kebenaran itu sendiri.

Biarlah meski hanya setitik salju yang mampu diberikan, tetapi apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin bila Allah menghendaki. Yang terpenting adalah sudah berbuat dan berusaha memberikan yang terbaik, bagaimana hasilnya, serahkan kepada Yang Maha Menentukan.

Bangkitlah Indonsiaku! Jangan pernah menyerah! Hapus air mata dan jangan lagi bersusah hati. Allah melarang kita bersedih, bersyukurlah atas semua pahit yang kita alami. Siapa yang tahu rencana Allah untuk kita semua di masa depan? Tentunya bukan sesuatu yang buruk apalagi menakutkan.

Bandung, 20 Agustus 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This