Hadir di Alun-Alun

by | Sep 9, 2021 | Essai

Kuingat-ingat sebelum pandemi merangsek, banyak merpati bermain di alun-alun ini. Lantas, kemana perginya merpati-merpati ini? Dari tempat dudukku, sesekali kutengok rumah merpati yang berdiri menjulang di utara alun-alun, namun sama sekali tidak ada tanda munculnya merpati. Barangkali mereka sudah muak kena pembatasan selama pandemi, sehingga pergi mencari tuan yang ikhlas memberi mereka sekepal roti. Kalau ada merpati, bocah kecil pasti mengejarnya sambil berlari.

Ah iya, terlalu asyik mencari merpati, aku hampir lupa kalau alun-alun ini juga tanpa pengunjung yang hadir. Apa mereka juga sama seperti merpati? Entahlah. Bisa jadi mereka terlalu nyaman duduk di rumah karena sudah mampu menjelajah dunia lewat ponsel pintarnya. Tanpa kehadiran mereka, alun-alun ini jadi lengang. Tapi, aku masih duduk di sini hingga waktu pelan-pelan menunjuk pukul empat, jadwal air mancur menyala. Imaji kebahagiaan orang-orang, membawa nostalgi saat air mancur menyala. Gemerciknya mengisi keheningan yang ramai di alun-alun. Sederhana, namun air mancur alun-alun ini membekas bagi warga kota.

Aku menghela napas panjang, mendongak melihat langit yang sebentar lagi tergradasi warna oranye dari barat. Menuang sedikit kerinduan akan keramaian yang ada di alun-alun ini, meski hanya duduk sendiri melihat kebahagian orang-orang yang melepas penatnya sebentar untuk anaknya, untuk dirinya, mungkin orang lain. Aku di sini. Sedikit mengais sisa memori yang hadir di tempat ini. Pun, mengiba pada hati sendiri yang bernasib seperti alun-alun mati.

Malang, 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This