Semburat awan hitam menggantung
Ledakan meriam Belanda berdentum
Bersahutan dengan satu dua Tekidanto, Mortir Jepang hasil rampasan kami kemarin
Memekakkan telinga para pejuang
Dan menyulut bara api perjuangan
Menantang hati melawan
Bau mesiu mengambang
Aku terpaku tanpa bersuara
Terbayang dalam benakku
Barisan pejuang berjatuhan
Tumbang rebah gugur
Darah berceceran disudut Kota Toea
Rintihan sakit para pejuang menggigit sukma
Derit langkahku menyusuri setiap Front
Mencari sosok pemuda yang aku kenal
Yang tempo hari dadanya berdarah
Terkena letupan pecahan mortir tentara Dai Nipon, ketika kami mencoba merebut gudang persenjataan mereka
Yang kini menjadi kekasihku, menjadi pendamping mahligaiku
Binar- binar cahaya matahari seolah mati
Kedukaan terlihat pada mata para permpuan tua
Mereka kehilangan anak – anaknya dimedan laga
Pulang membawa berita duka tuk sanak keluarga
Anak menjadi Yatim, istri menjadi Janda, dan orangtua kehilangan anaknya
Tak terkecuali dengan diriku
Pemuda yang kemarin kusematkan rindu
Kini telah pergi dan tak kembali
Membawa seuntai cita-cita untuk kemerdekaan ibu pertiwi
Kandaku pahlawan hati dan negara
Pamitmu membawa semangat rakyatmu
Memimpin setiap pertempuran silih berganti front
Surat surat mu kusimpan kadang berbaur dengan airmataku
Hatiku terluka menderita kehilangan
Asa dan cita-citaku melayang berhamburan
Namun ku coba ikhlas tanpa batas
Sebab perginya untuk mengukir sebuah nama
Nama yang dicatat dengan tinta sejarah perjuangan
Sepenggal Do’a untukmu selalu
Setangkup rindu ku titipkan
Aku bangga dengan derap perjuangan yang kau lantunkan
Kutaburkan bunga di pusaramu
Sembah sujud ananda, yg lahir kala kanda berjuang
Dirgahayulah kakanda
Demi keagungan negara
0 Comments