Es Krim Baltic, Es Krim Antik dari Jakarta

by | Dec 14, 2021 | Kuliner

Seperti halnya berkunjung ke suatu daerah, berkunjung ke Jakarta juga sepertinya belum puas bila kita tidak menikmati kulinernya. Benar tidak? Seperti kami ini yang sebenarnya pernah juga menjadi warga Jakarta hingga tahun 2009. Setiap kami berkunjung lagi ke Jakarta rasanya kurang afdol bila tidak sembari menikmati kulinernya. Kali ini mampir ke tempat es krim favorit kami sekeluarga yakni Es krim Baltic yang beralamat di jalan Kramat Raya No. 10-12 Jakarta Pusat.

Setelah puas menikmati nasi putih dipadukan bebek lado ijo, telur kakap, rendang, dan gulai ikan mas tak ketinggalan pula gulai kol dan kacang panjang serta sambal ijo yang semuanya merupakan menu khas Nagari Kapau alias Nasi Kapau di pinggir jalan Kramat arah Kampung Melayu, kami mulai celingukan mencari makanan pencuci mulut. Semula ingin juga mencoba lamang tape yang ramai dijajakan pula depan warung Nasi Kapau. Tapi apa daya perut ini sudah tak kuat jika mesti makan makanan berat lagi. Akhirnya kami sepakat untuk makan es krim, kiranya es krim cocok sebagai makanan pencuci mulut kami. Aha! Jadi teringat dengan makanan beku favorit kami yakni es krim Baltic yang tempatnya tidak jauh dari sini atau tepatnya berada di seberang jalan deretan warung Nasi Kapau ini.

Terhitung sejak pandemi Covid 19 kami tidak berkunjung ke Jakarta berarti nyaris dua tahun. Selama itu pula kami tidak berkunjung ke kadai es krim Baltic ini. Rupanya tempatnya tidak banyak berubah. Sederet freezer berisikan es krim cup atau mangkuk plastik kecil, es krim stik, dan es krim wadah plastik berjajar di depan. Beberapa perangkat kursi-meja terpasang di sekitar situ bagi yang sengaja menikmati es krim di tempat.

Lampu-lampu antik turut tergantung di plafon bangunan mempertegas umur kedai ini yang sudah tua. Bagi yang baru ke tempat ini mungkin tidak pernah mengira bahwa di sini terdapat kedai es krim jika tidak melihat papan nama segilima yang ditempel di atas bangunan. Baltic juga tidak pernah beriklan komersial. Selain itu tidak ada petunjuk lainnya di sekitar situ kecuali bertanya pada tukang parkir atau googling dulu sebelumnya.

Menurut salah seorang pekerja kedai, dulu kedai es krim Baltic berada di sebelahnya dengan ukuran lebih lebar hingga 20 meter. Kemudian sejak tahun 1975 pindah ke lokasi sekarang ini. Selain itu bagian depan toko pun makin menyempit karena beberapa kali tergusur proyek perluasan jalan.

Es krim Baltik termasuk salah satu es krim legenda di Jakarta dan satu-satunya tempat hanya di wilayah Senen ini, tidak membuka cabang di mana pun. Es krim Baltik didirikan oleh Mulya Santosa tahun 1939. Sejak awal, Baltic didesain sebagai restoran es krim. Es krim disajikan dalam mangkuk kecil. Pembeli menikmati es krim ini di kursi dan meja yang disediakan di sini. Saat itu es krim merupakan makanan restoran, yang banyak dinikmati masyarakat keturunan Belanda atau mereka yang pernah mengecap pendidikan di Belanda. Selain itu es krim mesti langsung dimakan di tempat karena cepat lumer. Hal tersebut mengingat waktu itu belum dikenal es kering (dry ice) untuk menjaga es krim agar tetap membeku selama perjalanan pulang. Baru sejak tahun 1998, es krim Baltic dapat dikemas menjadi es krim yang siap dibawa pulang dengan bantuan es kering tersebut yang dapat menjaga kebekuannya hingga 3 jam perjalanan.

Meskipun industri es krim masa kini terus bermunculan dengan teknologi pengemasan dan ragam rasa semakin bervariasi didukung iklan komersial yang menarik namun es krim Baltic tetap bertahan dengan es krim rumahannya, namun terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, kualitas bahan utama berupa susu murni yang fresh dan metode pembuatan yang terus dijaga membuat es krim ini tak mudah ditinggalkan penggemarnya. Ada beberpa varian khas es krim di sini, di antaranya es krim kopyor dan kopyor coklat, serta es krim yang bertaburkan potongan-potongan kecil kacang tanah. Ketiga varian tersebut merupakan kesukaan kami pula. Harganya pun cukup terjangkau sekitar 7 ribuan setiap variannya.

Walaupun hari mendung namun cuaca Jakarta tetap panas, memang cocok bila seperti sekarang ini di perjalanan menikmati es krim Baltic yang manis dan rasa susunya begitu pas serta menyegarkan sembari menelusuri sejarah makanan beku yang disukai segala usia ini. Mumpung masih bulan Desember, bukankah pembuatan es krim dulu itu ada hubungannya dengan musim salju di Eropa yang terjadi setiap bulan Desember hingga Februari?
Desember, Januari hingga Februari merupakan saat musim dingin di benua Eropa. Pada bulan-bulan tersebut warga benua Eropa tengah merasakan sensasi bermain salju di berbagai sudut tempat. Tahukah bahwa salju itu bukan hanya sebagai tempat berseluncur atau permainan lainnya? Awal pembuatan es krim itu juga berasal dari salju.

Alkisah Kaisar Nero, seorang kaisar Romawi pada Abad ke-64 Masehi memerintahkan pelayannya mengumpulkan salju di pegunungan untuk dijadikan hidangan pencuci mulut. Maka dicampurlah salju yang dingin itu dengan buah-buahan dan madu. Itulah asal mula pembuatan es krim. Namun termyata bentuk es krim seperti sekarang ini pertama kali diperkenalkan oleh Kaisar Tang (618-679 SM) dari Dinasti Tang di China. Kaisar meminta agar es berasal dari salju dicampur dengan adonan yang terbuat dari susu sapi, tepung, dan sedikit kapur barus. Adonan ini diaduk hingga membentuk krim. Maka, jadilah adonan es krim seperti yang kita kenal sekarang. Ada pula yang menyebutkan, Kaisar Tang membuat es krim itu dari susu yang sudah didinginkan di pegunungan Himalaya yang bersalju. Ternyata susu yang didinginkan itu terasa nikmat sekali. Pada saat itulah es krim tercipta. Kaisar Tang bahkan hingga mempunyai 94 orang pelayan untuk menyiapkan es susu dingin dari pegunungan Himalaya.

Selain Kaisar Tang, ada pula yang mengatakan bahwa adonan es krim pertama kali dikenalkan oleh Marcopolo pada abad ke -16. Saat ia pulang berlayar dan membawa resep es krim. Awalnya es krim terbuat dari es salju yang dicampur lemak susu, buah-buahan, dan diberi berbagai macam adonan sehingga lembut dan nikmat. Saat itu, es krim adalah hidangan istimewa yang hanya dapat dinikmati kaum bangsawan.

Nah, bagaimana hingga es krim atau makanan beku yang dibuat dari produk susu seperti krim (atau sejenisnya) yang digabungkan dengan perasa dan pemanis buatan ataupun alami ini bisa sampai populer juga di negeri kita? Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa populernya es krim di Indonesia tidak terlepas dari banyaknya peternakan sapi di beberapa wilayah di Indonesia tahun 1942. Koran Bataviasche melaporkan industri susu setidaknya berasal dari 25 peternakan sapi di daerah Menteng. Mayoritas terpusat di daerah Mampang Prapatan. Peternakan itu dimiliki oleh masyarakat lokal, seperti peternakan Haji Achmad Tablih, Haji Otib, dan Haji Djaeni. Ada pula peternakan sapi perah De Melbron di wilayah Kuningan dan Muhammad Robloen di Karet Pendurenan. Pada masa ini juga berkembang peternakan di Wilayah Pengalengan dan Preanger seperti Lembang (Lembangsche Melk Centrale) dan Bandung (Bandoengsche Melk Centrale) menjadi tempat produksi susu yang bagus karena didukung dengan tipografi wilayahnya. Oleh karena banyaknya suplai susu ke Batavia, berbarengan dengan semakin disempurnakannya teknologi–terutama dalam hal pendinginan dan pembuatan es yang semakin baik untuk penggunaan komersial pada dekade keempat abad ke-20-dirasa punya andil dalam semakin maraknya toko roti (bakeri) hingga kafe khusus es krim di wilayah-wilayah Batavia. Belum lagi masuknya barang-barang rumah tangga Eropa, seperti margarin dan susu kental manis. Wilayah-wilayah utama di Weltevreden, seperti sekitar lapangan Banten, Gambir, Menteng, hingga ke wilayah Senen, pun menjadi tempat ramainya toko-toko ini.

Pada 1930 ada dua kakak beradik asal Italia yang pandai menjahit. Mereka pindah ke Hindia Belanda, tepatnya Batavia untuk bekerja di perusahaan tekstil. Namun, salah satu dari mereka, Luigi Ragusa, mengenal seorang pemilik peternakan susu di Batavia. Pada suatu malam tahun 1932, Koningsplein menyala terang. Pasar Gambir telah dimulai dengan keriaannya untuk merayakan ulang tahun Ratu Wihelmina dari kerjaan Belanda. Di dalamnya, terdapat pula jajanan dan makanan yang dipusatkan di tengah-tengah lapangan. Di acara tersebut juga dihidangkan es krim dari Luigi bersaudara. Luigi tidak jadi mendirikan bisnis moden, namun membuka kafe es krim yang mereka beri nama Ragusa.

Dari situlah cikal bakal es krim Ragusa Italian Ice Cream salah satu es krim legenda itu dikenal di Indonesia. Awal berdirinya Ragusa itu sebenarnya di Bandung sementara di Jakarta gerainya hanya setahun sekali yakni di pasar Gambir atau yang dikenal dengan Jakarta Fair. Namun karena banyak disukai maka didirikanlah cabangnya di Jakarta, di belakang masjid Istiqlal. Keberadaan Ragusa lebih dulu daripada es krim Baltic di jalan Kramat Raya. Setelah puluhan tahun Luigi bersaudara memutuskan untuk kembali ke Italia dan gerai es krimnya itu diberikan kepada salah seorang karyawannya bernama Guntoro.

Sementara Ice Cream Saloon adalah toko es krim pertama di Indonesia yang hanya bisa dinikmati oleh orang Belanda yang berada di kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Malang dan Surabaya. Harganya pun sangat mahal mengingat bahan utamanya yakni susu mahal juga harganya. Untuk mengakalinya orang Indonesia membuat es krim dari tiruan susu berupa santan maka jadilah es putar atau es dung dung yang masih ada hingga kini.
Industri es krim terus berkembang di Indonesia sejak tahun tahun 1970 namun keberadaan es krim-es krim rumahan yang sudah sejak dulu keberadaannya tetap bertahan dan masih banyak diminati. Tak ubahnya makanan antik yang tetap bertahan karena memiliki penggemar fanatik.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This