Dunia di Awang-Awang

by | Oct 21, 2021 | Cerpen

Aku percaya bahwa kekuatan pikiran itu sangat besar pengaruhnya. Dari sejak kanak kanak aku sangat menghargai apa yang melintas di pikiran. Dari yang biasa hingga yang terliar sekalipun.

Ketika di bangku SD aku punya kebiasaan yang aneh. Aku suka menulis sesuatu di awang-awang. Di udara! Menulis sesuatu yang tampak kasat di mataku, tapi tak terlihat oleh siapapun.
Hanya daku seorang yang bisa melihatnya. Apapun yang kutulis bahkan harus kuhapus, dengan sapuan tangan, agar tak terus menguntitku. Sebab mereka bisa menguntitku di belakang, samping dan bahkan di depan menantangku setiap saat.

Orang tuaku begitu khawatirkan kondisiku. Aku dikira mengalami gangguan kejiwaan. Mereka bahkan sempat merencanakan untuk membawaku ke dokter jiwa.

Guru di sekolahku juga suka jengkel. Mereka tak tahu kalau aku sedang bersama duniaku yang maha asik itu.

Bu guruku salah satunya namanya Bu Nirwana. Aku sangat takut sekali dengannya. Dia suka membentak dan mengancam begitu melihat perilakuku.

Perempuan itu sangat menyeramkan. Mulutnya sangat lebar. Matanya kalau marah melotot besar besar. Lalu dia suka mengucapkan hal yang menyeramkan.” Hei kamu bayi kecil..!!! ngapain kamu! Kenapa tidak perhatikan Bu Guru?! Aku makan titit kamu nanti!!!” gertak Bu Nirwana.

Seketika itu juga semua yang sedang aku pikirkan atau “tulis” langsung ambyar dan buyar. Mereka semua lari… entah kemana. Mereka seperti ikut ketakutan melihat wajah menyeramkan Bu Nirwana. Beruntunglah aku pindah sekolah ketika naik kelas dua. Huft!
Aku menyukai sesuatu yang di awang awang. Bergerak mengikuti naluri, imajinasi, dan intuisiku. Dulu dan sekarang sama saja. Aku suka hal-hal yang transenden. Berselancar dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda beda.

Keluargaku adalah nomaden sejati. Dari Lhoksukon, Aceh hingga Merauke, Papua. Dari satu pulau ke pulau lain di seluruh Nusantara. Masa kecilku pindah SD delapan kali. SMP tiga kali. Aku begitu bahagia karena di setiap daerah baru itulah aku selalu temukan banyak hal hal baru. Membuat ruang imajinasiku semakin berkembang, semakin brutal.

Ketika lulus SMA, aku dan keluargaku tinggal di Merauke, Papua. Di desa Sarmayam tepatnya. Momen bulan purnama adalah momen yang sangat menyenangkan. Kami punya tradisi duduk bercengkerama ramai-ramai satu keluarga di halaman rumah sambil ngobrol dan mengudap camilan dari hasil kebun. Ubi bakar, pisang goreng, dan lain lain ditemani kopi. Momen yang selalu membahagiakan bagiku.
Malam itu begitu larut. Tinggallah ketika itu hanya aku dan ayahku di gelaran tikar. Lima saudaraku beranjak masuk rumah dan tidur. Aku tiba tiba dipeluk hangat ayahku. Lalu dia tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang sangat misterius dan membuatku takjub. Seperti mendapatkan pengakuan serius dari orang yang paling aku segani selama ini.

“Oto, aku percaya padamu le…aku pikir kamu itu dulu sakit jiwa. Selain khawatir karena kamu suka menulis di awang awang, kamu juga orangnya reaktif. Selalu penuh emosi tinggi. Tapi ayahmu tahu kamu selalu bermaksud baik. Untuk membela orang lain. Bapak percaya padamu, kamu orang yang selalu kaya akan imajinasi, jadi ayah tak khawatir lagi, kejarlah semua mimpi-mimpimu dan dengarkan hati kecilmu sendiri…juga bela mereka yang ditindas terus, ” kata ayahku lirih sambil memelukku di pangkuannya. Dia rupanya mengamati dengan serius perkembangan jiwaku. Termasuk kelakuanku yang suka berkelahi kalau harus membela orang lain yang dianiaya. Walaupun badanku kecil dan ringkih.

Kata-kata ayahku itu begitu magis. Entah kenapa, kalimat terakhirnya itulah yang selalu aku ingat……”bela mereka yang ditindas…”. Aku begitu terbius. Pesan ini kupikir juga jadi kunci dari semua apa yang ada dipikiranku hingga saat ini. Sesuatu yang semakin kukuh ketika aku satu ketika ketemu seorang tokoh koperasi perempuan hebat di Jawa Timur. Almarhum Ibu Mursiah Zafril Elias yang katakana, “…. Bela rakyat, jangan pernah takut lapar,” katanya sambil berbisik lirih ketika berkunjung ke kediamannya di Malang dan jadi pertemuan terakhirku dengan tokoh hebat murid Bung Syahrir dan mantan Asisten Pribadi Bung Karno ini.

Dari sejak saat itu aku selalu merasa memiliki misi besar untuk terus membangun ruang imajinasiku tentang membela orang lain. Kata-kata ayahku itu seperti mantra. Dalam perjalanan waktu, aku melihat orang orang kecil itu banyak yang ditindas, tertindas, atau menjadi korban dari sebuah sistem penindasan besar kapitalisme.

Aku ingin sekali sekolah hukum agar bisa membela orang lain. Tapi tidak kesampaian. Aku tidak jadi masuk Fakultas Hukum UGM melalui program Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD) karena tak punya biaya. Tapi aku beruntung bisa lanjutkan kuliah diploma Administrasi Keuangan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, dalam model program yang sama, masuk tanpa test tapi bedanya aku dibiayai sepenuhnya oleh satu yayayan bentukan Pemerintah dan Kampusku. Termasuk membiayai seluruh biaya hidupku selama kuliah.

Membela orang lain itu kupikir yang terpenting juga harus mampu membela diri sendiri. Apapun yang kubela itu adalah juga membela diriku sendiri. Aku tak mau ditindas. Orang yang menindas orang lain itu jika kita biarkan juga perlahan bisa saja menindas kita secara langsung atau tidak langsung.

Aku tak mau menyakiti orang lain atau melecehkan orang lain kecuali mereka memulai menyakiti dan melecehkanku. Itulah inti dari pembelaanku. Begitu aku melihat ada yang berusaha menindas, kepada siapapun juga maka aku menjadi begitu reaktif.

Aku percaya, untuk membela itu juga bukan hanya dengan membela hak mereka secara hukum. Tapi dengan banyak cara. Termasuk dengan cara mengembangkan ekonomi mereka. Seperti misalnya membela tukang becak di pangkalan kampus tempatku kuliah.
Mereka aku ajak untuk berkoperasi. Mendirikan satu paguyuban dengan nama Perjaka, Perseduluran Jalan Kampus. Perjaka ini tak hanya berfungsi untuk menjadi pengikat persatuan di antara mereka. Tapi juga berusaha keras membangun tabungan agar mereka hidup lebih baik secara ekonomi.
Tukang becak itu, aku kumpulkan di balai Desa Grendeng, dekat kampusku. Mereka ku ceramahi koperasi. Tapi baru mulai ceramah mereka ada yang menyeletuk “Mas…ora usah kakean cocotlah…yang penting kami itu modal!!!. Ndak usah banyak mulut lah mas, kami itu hanya butuh modal!!” potong salah satu peserta.

“Maaf, saya bukan pemberi modal. Saya tidak punya uang satu senpun untuk saudara semua, saya hanya mahasiswa yang kalau kiriman telat malah mungkin menumpang makan sama saudara semua!” jawabku tegas.

“Lah terus kita dikumpulkan disini untuk apa?” tukas Disun tukang becak yang memotong ceramahku dengan gaya yang khas cablaknya orang Banyumas. Omong apa adanya.

“Kita berkoperasi! Kita harus menabung! Agar kita kuat dan mandiri!!” jawabku tegas.

“Menabung gimana mas? untuk makan saja tidak cukup!” tukas Disun yang terlihat sangat kritis dan apa adanya.

Aku tersentak. Sempat bingung. Tapi di pikiranku langsung terlintas ide begitu melihat kepulan asap penuh di ruangan karena hampir semua peserta merokok.

“Coba angkat tangan yang punya pinjaman di bank ngrolasi, bank ucek ucek!”.

Tak kusangka. Semua angkat tangan. Ternyata mereka semua adalah korban pinjaman rentenir itu. Aku langsung minta izin berdiri di atas kursi agar semua orang dapat melihatku. Sebab ruang balai desa yang sempit itu penuh oleh 83 orang peserta yang semua sudah mulai gerah karena kepul asap rokok.

Bank ngrolasi atau bank titil adalah istilah lain dari rentenir. Mereka yang meminjamkan uang dengan bunga yang mencekik. Pinjam 100 ribu misalnya, dipotong 10 ribu di depan.

Peminjamnya hanya terima 90 ribu. Lalu mereka harus mengangsur pokok dan bunganya setiap hari hingga 120 ribu. Jadi bunganya adalah 30 ribu. Tiga puluh persen. Disebut ngrolasi karena pinjam sepuluh bayar dua belas. Disebut bank ucek ucek karena setiap hari akan ditagih angsuran dan bunganya dengan cara diucek-ucek ke rumah oleh tukang tagih. Debt collector yang militan!.
“Jadi begini ya saudara saudara. Anda semua ini sesungguhnya adalah orang kaya. Sebab bisa bayar pinjaman rentenir hingga 30 persen per bulan. Dalam teori yang saya pelajari di kampus, tidak ada bisnis yang hasilkan keuntungan hingga 30 persen seperti itu. Jadi sesungguhnya anda semua itu orang kaya!!!”

“Trus bagaimana mas?” jawab mereka hampir serempak.

“Jadi begini, apakah saudara saudara semua ini mau bebas dari rentenir?, tidak sewa becak lagi kepada juragan becak yang setoranya mencekik?” tanyaku lantang.

“Mau…!!!” jawab mereka serentak.

“Kalau begitu, apakah saudara-saudara sanggup mengurangi rokok satu batang satu hari..???”, tanyaku.

“Sanggup!” jawab mereka serentak.

“Kalau begitu pilih di antara saudara-saudara siapa orang yang paling jujur dan dapat dipercaya. Pilih ketua dan bendahara yang jujur, lalu kumpulkan uang dari pengurangan rokok satu batang satu hari itu kepada mereka. Dan kita rapat setiap tanggal dua,” jawabku.

Mereka memilih secara aklamasi namanya Pak Kanafi dan dibantu Bendahara yang namanya Pak Hadi. Pak Hadi ini adalah bukan tukang becak…tapi penjual makanan gorengan dan jadi tumpuan tukang becak untuk menampung segala bentuk persoalan hidup tukang becak di pangkalan. Terutama soal ekonomi. Kadang jadi tempat untuk meminjam uang tanpa bunga dan dibayar di hari selanjutnya. Uang sekadarnya untuk dibawa pulang ke rumah dikala ada tukang becak yang tarikannya benar-benar sunyi, kosong.

Bulan selanjutnya, tanggal dua kami kumpul lagi. Aku ikut hadir. Lalu setelah basa basi pembukaan, aku minta to the poin saja kepada Pak Hadi untuk laporan.

“Ehmm….anu mas. Maaf, ternyata tabungan yang terkumpul hanya Rp32 ribu perak. Pada ndak mau setor ternyata,” lapor Pak Hadi pada saya setengah lesu.

“Maaf saudara saudara…nasib satu kaum itu tak akan berubah apabila kaum itu tak mau berubah dan memperjuangkan nasibnya sendiri. Jadi karena saudara-saudara sudah tidak komitmen dengan kata-kata saudara sendiri maka saya juga langsung cukupkan sekian saja. Akhirussalam wasalamualaikum!” tutupku dengan singkat dan saya minta pamit.

Tapi Pak Hadi langsung menarik lengan saya. Dia bilang saya jangan putus asa. Dia lalu meminta kepada orang di seluruh ruangan untuk menyanggupi apa yang sudah dikomitmenkan. Mereka terlihat sangat serius. Lalu saya diminta datang lagi di pertemuan bulan depan.

Betul saja, pertemuan bulan depan suasananya sangat lain. Orang-orang terlihat begitu bergairah dan candaan-candaan khas Banyumasan juga ikut terdengar memeriahkan ruangan.

“Mas Roto….Lapor! ini uang terkumpul semua lengkap. Bahkan lebih dari target,” kata Pak Hadi di sesi pelaporan.

“Terimakasih Pak Hadi. Saya senang saudara saudara…inilah titik awal bahwa saudara-saudara akan hidup bebas dari rentenir, bebas dari tekanan setoran kepada juragan becak sewa. Terus kumpulkan tabungan sebesar-besarnya. Pinjamkan uang yang ada itu kepada saudara kita terutama yang sudah sepuh, tanggungannya paling banyak di keluarga, pinjaman di bank ucek-ucek paling banyak dan becaknya masih sewa. Jika tagihan ke rentenirnya Rp100 ribu, lalu berikan pinjaman Rp200 ribu. Lunasi itu kewajiban ke rentenirnya. Sisanya untuk bertahan. Lalu terapkan tetap bunga dua persen. Satu persen untuk tambahan modal koperasi, dan satu persennya jadi tabungan atas nama yang pinjam. Demikian…setuju?” aku sedikit mengarahkan.

“Setuju!” jawab mereka serentak.

Mereka dengan susah payah akhirnya berhasil membangun koperasi. Membebaskan diri dari rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi, dari juragan becak yang meminta setoran tinggi. Tak hanya itu, membela harga diri mereka sendiri dengan tidak hanya menjadi penerima belas kasihan dari orang lain seperti yang telah terjadi selama ini.

Para tukang becak itu juga mengagetkanku. Ternyata mereka dengan kekuatan kas organisasinya bisa ikut lelang bengkok desa dan garap tanah desa sebagai tambahan penghasilan anggota koperasi. Lurahnya sampai terheran-heran kok bisa tukang becak itu punya uang puluhan juta untuk ikut lelang. Bahkan lurahnya sampai menemuiku karena mereka katakan aku sebagai pembinanya.

“Bukan pembina pak Lurah. Saya ini juga anggota mereka. Saya juga menabung di koperasi mereka sebagai anggota. Di koperasi itu tidak ada pembina pembinaan…yang ada adalah anggota yang setara…,” jawabku ketika Pak Lurah mulai menyanjung nyanjung diriku.

“Oh gitu!??, menarik mas,” jawab Pak Lurah setengah penasaran karena ternyata beliaunya itu juga baru “ngeh” dengan apa itu koperasi.

Tukang becak itu bahkan tanpa pendidikan kewirausahaan “dakik-dakik” dari pemerintah, mereka akhirnya mampu buat usaha penggemukan kambing bersama dengan sistem gaduh kepada anggota yang sanggup kelola. Mereka ada yang usaha pribadi jualan melon, tebasan bambu dijual ke pasar, dan lain lain.

Saya begitu bahagia melihat mereka. Bahkan ketika saya dengar mereka satu ketika dikumpulkan oleh satu organisasi yang didampingi pejabat pemerintah untuk sosialisasi tentang koperasi tukang becak, mereka memprotesnya. Koperasi Tukang becak yang katanya pengurusnya sudah ada itu, maunya semua tukang becak tinggal diminta untuk pinjam uang di koperasi dengan setor KTP saja.

“Maaf Pak, kami sudah punya koperasi. Kami tidak butuh uang karena kami malah kelebihan uang, dan bingung untuk disalurkan kemana….juga setahu kami, namanya Pengurus koperasi itu dipilih dari, oleh dan untuk kami sendiri,” kata Pak Kanafi dengan nada membela diri harkat dan martabat anggotanya.

Satu hal lagi, ketika aku ikut rapat, ada yang mengagetkan. Ternyata ada satu anggota yang namanya Pak Disun. Dia ternyata menabung cukup besar setiap harinya. Jumlahnya keseluruhan dari rata-rata penghasilan tukang becak.

“Pak Disun, ini tabunganya kok besar sekali???” tanyaku setengah heran dan curiga dan marah.

“Mas Roto ini gimana? katanya suruh menabung, sudah menabung malah marah???” jawab dia tegas.

“Bukan begitu, kalau semua pendapatanmu dimasukkan semua ke tabungan terus anak dan istri di rumah makan apa? bukannya ini aniaya ke keluarga?” jawabku setengah meminta klarifikasi.

“Jadi gini mas. Alhamdulilah setelah ada koperasi ini, istri saya bisa pinjam modal untuk jualan Lotek di rumah. Semua cukup tidak cukup pengeluaran harian dari hasil jualan Lotek. Lalu hasil tarikan becak saya tabung semua…,” klarifikasi Pak Disun.

Rasanya dadaku sesak. Sangat terharu. Tak sadar aku meneteskan air mata.

“Untuk apa uang itu nanti pak?”, tanyaku setengah sesenggukan.

“Untuk biaya sekolah anak nanti mas. Masih SD. Biar nanti bisa sekolah dan tidak bodoh seperti ayahnya ini…..biar pinter seperti Mas Roto…,” jawabnya yang semakin membuatku semakin terharu.

“Tidak Pak Disun. Putramu akan jauh lebih pintar dari saya!” jawabku sambil tak kuat menahan haru dan memeluknya.


Satu ketika, pada waktu aku kuliah, kampusku menggusur tukang becak dan kaki lima yang mengais rejeki di trotoar kampus. Mereka semua digusur dan dibersihkan. Termasuk group Perjaka, Pesedulan jalan kampus.
Nuraniku berontak. Kupikir mereka itu hanya orang-orang kecil sederhana hidupnya yang mencari rejeki secukupnya untuk keluarganya. Kenapa harus diusir ? Bukankah mereka itu adalah orang-orang yang juga tanahnya sudah direlakan untuk jadi bangunan kampus agar mahasiswa bisa kuliah???

“Pak Rektor, maaf, ini saya mengajak teman-teman tukang becak dan pedagang kaki lima di sekitar trotoar kampus menghadap anda dan masuk ke ruangan kantor anda ini….. Mereka tidak pakai sepatu dan bahkan tidak pakai sandal. Tapi mereka butuh hidup pak!!!” seruku pada rektor Unsoed di hadapanku di kantornya setengah berontak.

“Gak papa. Ini kantor ini juga rumah rakyat. Rumah mereka. Ada apa ini? Kok ramai ramai? jawab rektorku Prof Rubijanto Misman, dengan tenang, yang juga sebetulnya ketua pembina Yayasanku yang siap menghabisi hidupku dan hentikan semua beasiswaku kalau beliau marah karena kelakuanku ini.

“Begini pak Rektor, saya harap kampus jangan semena-mena mengusir mereka karena mereka itu butuh hidup. kenapa musti digusur?” tegasku.

Rektor Unsoed memanggil semua pejabat di kantornya. Kami berdiskusi hebat dan saling berbantah. Mereka diminta oleh Pak Rektor mencatat semua usulan kami. Lalu Pak Rektor mengizinkan tukang becak untuk mereka tetap bekerja dan membuat pangkalan di pojok kampus. Juga diperkenankannya para pedagang kaki lima itu berjualan dengan syarat tetap menjaga kebersihan dan ketertiban. Semua disanggupi. Deal!
__
Pak Kanafi dan teman-teman telah lama tak berjumpa. Tapi aku dengar mereka telah bergabung di koperasi yang aku bangun di luar koperasi mereka. Koperasi ini diperuntukkan untuk semua orang. Ada dosen, karyawan, alumni Unsoed, bakul tenongan, bakul tempe, pedagang, dan segala rupa profesi. Koperasi ini namanya KOPKUN.

Mereka katanya masih aktif buat pertemuan rutin. Semenjak aku ke Jakarta seringkali terima undangan pertemuan rutin. Tapi karena jarang sekali hadir makanya mereka tidak lagi berkirim kabar kecuali hanya ngobrol sebentar kalau ada kesempatan pulang kampung.
Aku hari ini sedang berjuang untuk membuat gerakan pembaharuan koperasi bersama teman-teman aktifis Koperasi Kredit (Credit Union) di tanah air untuk kembangkan koperasi di semua sektor riil di bawah nasehat dan mentor koperasi utamaku, Robby Tulus, pendiri Koperasi Kredit Indonesia, dan mantan Regional Director gerakan koperasi Asia Pasifik, International Cooperative Alliance(ICA), orang yang juga pernah aku ajak untuk bertemu dengan tukang becak Perjaka kala kunjungan mengisi diskusi dengan teman teman gerakan koperasi di Banyumas.

Semua yang kukerjakan adalah berangkat dari mimpi dan juga semangat pembelaan. Hari ini aku telah bersama Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), yang jaringan koperasinya sudah 918 koperasi di sektor keuangan menyebar di seluruh propinsi dengan jumlah anggota 3,2 juta orang dan aset Rp36 trilyun. Ini juga mimpi.

Kami saat ini sedang kembangkan gerakan pemekaran (spin off) koperasi ke sektor riil agar mereka mampu melindungi diri dari penetrasi perusahaan kapitalis yang hanya jadikan masyarakat sebagai obyek bisnis mengeruk keuntungan semata demi menumpuk kekayaan pribadi mereka.

Hingga satu saat aku ingin melihat mimpi yang lebih besarku. Aku ingin melihat sebuah perusahaan itu bisa dimiliki oleh setiap orang yang menjadi pekerjanya, pelanggannya, dan para produsen kecil suplier perusahaan koperasi seperti petani, peternak, petambak, perajin, pedagang skala rumah tangga. Di semua perusahaan.

Aku ingin satu saat kelak nanti, perusahaan-perusahaan negara saat ini juga dapat dimiliki oleh para pelanggannya, pekerjanya dan dikontrol secara demokratis satu orang satu suara. Tidak seperti saat ini, dikelola secara otoriter dan hanya jadi sapi perahan elit belaka. Entah kapan, tapi aku yakin akan terjadi. Mimpiku, adalah bahwa kesetaraan itu akan terjadi di ruang ruang kehidupan sehari-hari, di tempat tempat kerja.

Purwokerto, 19 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This