Diari Bertuliskan Tinta Emas

Dec 30, 2021 | Essai

Views: 0

“Boleh tahu Tinta Emas itu apa?”, begitu pertanyaan saya suatu hari kepada Hasan Ridwan. Dia adik kelas yang beberapa kali mengunggah link Tinta Emas Negeri di grup WhatsApp (WA) pengurus alumni SMA. Jujur, pertama kali dia mengunggah media literasi itu, saya abaikan begitu saja. Namun, karena dia beberapa kali mengunggah hal sama, terlebih setelah mengetahui bahwa ada salah seorang kakak kelas bergabung di sana, timbullah rasa penasaran untuk mengetahui lebih banyak lagi.

Dengan antusias Hasan pun menerangkan media yang masih asing di telinga saya itu. ”Hayu atuh! Teteh juga nulis di Tinta Emas!”, ajaknya tanpa ragu-ragu.

Menulis memang bukanlah hal asing buat saya karena saya juga senang menulis. Saya belum menjadi seorang penulis, tapi saya senang menuangkan apa saja dalam bentuk tulisan. Selama ini, beberapa karya tulisan saya dimuat di sebuah majalah dan menjadi kontributor untuk media massa tersebut. Ditambah latar belakang pendidikan di bidang jurnalistik yang akrab dengan dunia tulis-menulis dalam kesehariannya, dunia menulis menjadi tidak asing lagi. Apalagi, sebelumnya, saya pernah bekerja di salah satu penerbitan buku di Bandung yang tentunya akrab dengan berbagai jenis tulisan.

Setelah bertanya dan mendapatkan penjelasan dari Hasan di bulan September 2021, sekitar sebulan berikutnya, di awal Oktober 2021, saya mulai mengirimkan beberapa tulisan ke Tinta Emas Negeri. Tulisan pertama yang dimuat yakni tentang perkebunan teh di Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Disusul tulisan sejarah batik serta beberapa tulisan lainnya. Kini, tiga bulan sudah saya bergabung dengan Tinta Emas. Setiap minggunya rata-rata tiga tulisan saya kirimkan ke redaksi. Jika dihitung-hitung, ya, lumayan banyak juga tulisan yang telah saya kirim. Walaupun ada target minimal tiga tulisan setiap minggunya, alhamadulilah sejauh ini tidak ada kendala atau masalah.

Saya senang menuliskan berbagai hal dengan gaya dan cara saya sendiri. Saat menulis pun tidak bisa dalam.keadaan terpaksa. Saya tidak melulu menulis, profesi saya memang bukan penulis.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan anak dan juga kegiatan sebagai istri, saya hanya menulis di waktu-waktu senggang setelah tugas di rumah beres. Kewajiban tetap utama, tanpa melupakan keasyikkan menulis.

Menulis merupakan hal yang menyenangkan. Seperti memotret, dengan menulis saya dapat mendokumentasikan berbagai hal yang dapat saya baca atau lihat kembali sewaktu-waktu. Jika diperlukan, bisa dibagi kepada siapa saja yang membutuhkan, terutama untuk dijadikan sebagai referensi. Siapa tahu memberikan guna dan manfaat berarti.

Memotret, melukis, membuat hiasan dari barang bekas, memasak, dan jalan-jalan ke alam terbuka adalah kesukaan saya selain menulis. Dan, semua kesukaan itu menjadi ide atau inspirasi dalam.menulis. Awalnya, saya sering mengunggah tulisan saya media sosial di Facebook (FB). Tidak peduli berapa banyak yang suka yang penting ada yang membaca. Bagi saya, menuliskan sesuatu yang bermanfaat dan mengekspresikan diri lewat tulisan, jauh lebih penting. Selain berguna dan bermanfaat, tentunya besar harapan, tulisan-tulisan saya dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Nah, sekarang setelah saya mengenal dan bergabung dengan Tinta Emas Negeri, saya seperti mempunyai wadah yang merupakan diari atau catatan harian. Saya bisa leluasa menulis berbagai hal berkaitan dengan kesenangan dengan cara saya sendiri. Ke mana saya pergi, saya bisa bercerita lewat karya, baik foto maupun tulisan.

Di Tinta Emas Negeri, saya juga jadi mengenal banyak teman yang senang menulis, bahkan memang sudah menjadi Penulis dengan tulisan-tulisannya yang berkelas dan patut diacungi jempol. Di Tinta Emas Negeri pun saya mengenal beberapa orang yang layak disebut guru menulis. Semakin saya belajar kepada mereka semakin tahu bahwa masih banyak kekurangan saya dalam menulis. Dari merekalah saya peroleh ilmu-ilmu baru tentang menulis yang dapat memperkaya ilmu yang telah saya peroleh di bangku kuliah dulu. Semuanya dapat memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas tulisan tentunya. Suatu saat nanti, tulisan dalam diari itu tidak sekedar orat-oret dengan tinta biasa lagi, tapi menjadi sebuah diari berisi penuh tulisan luar biasa yang ditorehkan dengan tinta emas sebagai sumbangsih saya kepada negeri tercinta ini.

Terima kasih saya haturkan kepada Tinta Emas Negeri yang telah banyak memberi dan menginspirasi anak-anak negeri untuk mengukir karya yang lebih baik. Semoga di tahun 2022 Tinta Emas semakin kokoh berdiri sebagai media literasi alternatif yang tidak mainstream dengan tulisan-tulisan mencerahkan bukan tulisan-tulisan menyesatkan. Semoga suatu saat Tinta Emas tercatat dalam sejarah literasi negeri ini dengan goresan tinta emas pula. Amiin.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This