Dia

by | Jun 16, 2022 | Cerpen, Tunas Muda

Karya : Asriati Wahyu Indarti

SMAN 1 BALONG

Malam ini malam Minggu, hujan turun deras. Terlihat dari ventilasi rumahku, cahaya kilat menyambar. Guntur pun memekakkan telinga, serasa menyeramkan. Mungkin itu hal menyebalkan bagi sebagian orang yang sedang mempunyai kepentingan di luar sana. Dari remaja-remaja yang bermalam mingguan, pekerja yang lembur walaupun weekend, anak muda yang nongkrong dan kedinginan atau bahkan remaja-remaja yang lagi galau karena masalah cinta.

Dan ceritaku hari ini hmm? Ya, aku hanya duduk di ujung kasur, diam dan menikmati suasana. Aku sedikit ingin menangis karena hujan, kelam dan malam mendominasi. Aku memang aneh, random dan entahlah. Setidaknya menurutku.

Aku diam mematung, tatkala dia datang lagi. Dia yang hampir setiap malam menemuiku untuk meminta bantuan, namun belum kugubris karena menyangkut pada kepolisian. Dia yang bagiku adalah ‘seseorang’. Dia memakai kaus putih dan celana hitam, rambut panjang terurai. Dia menatapku, tajam lalu tersenyum. Senyumnya semakin lebar dan lebar sampai ujung bibirnya mengenai sudut matanya. Lalu dia memiringkan kepalanya, darah menetes-netes dan kepala itu putus, menggelinding ke arahku lalu tertawa cekikikan. Melengking dan kembali samar..

Aku tetap diam, mematung. Sedikit merinding dan meremang. Walaupun hampir bertemu setiap hari, tetap saja ada perasaan takut itu. Setelah aku sedikit tenang kuambil sebuah majalah di rak meja belajarku yang ada di sudut kamar. Majalah itu lusuh, buatan tahun 2011, majalah lokal daerah. Kubuka halaman demi halaman, dan di halaman ke 12, tertulis sebuah judul.

“PEMBUNUHAN TERENCANA SEORANG REMAJA PADA TEMANNYA KARENA CINTA.

  Warta berita. Kali ini salah satu remaja perempuan berbuat nekat hanya karena masalah laki-laki. Siswi ini bersekolah di SMAN 4 ** (an.P.M) Dia tega membunuh temannya lantaran….”

Aku mendengus, menghela nafas dan berusaha tenang. Aku sudah sedikit banyak mengetahui tentang kasus ini dari Papa yang bercerita dengan muka merah dan mata berkilat-kilat. Kasus yang sengaja ditutup-tutupi oleh kepolisian lantaran kepala Kapolsek saat kejadian itu terjadi, tak lain adalah Om dari si pelaku. Pelaku hanya dipenjara dengan masa 3 bulan saja dan bebas tak bersyarat. Keluarga si korban menerima saja ‘sementara’, bukan karena tidak bisa melawan tapi karena hal lain yang lebih membahayakan.

Aku kembali lagi ke kasurku, merebahkan badan dan menarik selimut. Sebelum kututup mata, aku melihat dia lagi. Aku lelah, karena hanya aku yang tahu dia. Mama Papa nggak pernah percaya hal dalam dunia lain, era modern katanya. Tapi aku? Anaknya yang bisa melihat sosok lain yang mungkin mengikutimu kapan saja? Oh tentu saja stres sendiri. Apalagi dengan mengertinya dia kalau aku bisa melihatnya, bertambahlah bebanku.

Oke, aku menatapnya balik.

“Baiklah, aku sudah nggak bisa kamu ganggu terus-terusan seperti ini. Aku akan melakukan apa yang kamu mau tentang kasusmu. Setelah itu tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tahu triknya, walaupun nanti akan ada masalah baru. Lebih baik begitu daripada kamu terus menerorku dimana pun. Dunia kita sudah berbeda, tolong kamu sadari itu. Tunggu besok dan bantu aku dengan wujud cantikmu, Kakak”

Setelah aku berkata begitu, dia berubah wujud menjadi remaja yang cantik dengan kulit putih bersih. Senyum manis menghiasi bibirnya, mengangguk padaku dan menghilang. Ya, dia Kakakku, yang harus terbunuh karena masalah hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Dia tertekan, semuanya menodongnya dengan hal-hal yang bahkan tak dilakukannya tentang dia merebut Reno dari tangan Prita, sahabatnya. Akhirnya mungkin karena benci, Prita meracuni Kakakku dan menggantungkan jasadnya seolah-olah bunuh diri di diskotek Melda, beberapa tahun silam. Ayah ingin kasus ini tetap di lanjut, namun Mama melarang dan membiarkannya karena dia tidak mau penyakit strokenya kembali lagi. Dengan berat hati, Papa menerima keadaan itu, tapi tidak denganku. Aku dendam pada Prita, dan adiknya? Velly, temanku yang satu ini akan kujadikan bonekaku, akan kubalaskan dendam Kakak dengan caraku. Ahaha, jahat? Oh ini hanya permainan saja. Maaf jika nanti aku menyakitimu Velly, tapi kakakmu akan lebih merasakannya.

Aku mengangkat ujung bibir kiriku, menatap langit-langit kamar, tersenyum licik dan membayangkan apa yang aku lakukan beberapa hari ke depan. Aku harus menyelesaikannya. Kutarik lagi selimutku dan kututup mataku.

Baiklah, tunggu semuanya, Kak. Nea sayang Kakak.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This