Di Balik Keindahan Perkebunan Teh Gambung Ciwidey

by | Oct 2, 2021 | Essai

Sejauh mata memandang terhampar perkebunan teh laksana hamparan karpet hijau yang empuk dan nyaman atau laksana kue lapis hijau yang manis dan legit. Begitulah kira-kira imajinasi kita ketika menikmati pemandangan kebun Gambung di Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Ciwidey, kabupaten Bandung, sekitar 35 km dari Kota Bandung.

Tidak cuma hamparan perkebunan teh yg menghijau, Gambung pun sekelilingnya dipagari gunung- gunung yg membiru. Sungguh sebuah pemandangan eksotis yang mengundang decak kagum seraya memuji kebesaran Sang Pencipta yang telah menganugrahkan alam Priangan nan begitu elok mempesona.

Pemandangan indah, semilir angin pegunungan, dan udara sejuk membuat semakin betah untuk berlama-lama di tempat ini. Sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat ‘pelarian’ dari rasa penat dan jenuh akibat rutinitas kerja yang sarat tekanan juga dari hiruk- pikuk kota besar yang rentan akan stres.

Perkebunan ini memiliki lahan seluas 636,11 hektar. Mayoritas menjadi perkebunan teh seri Gambung dan sisanya hutan alami. Gambung termasuk daerah penghasil klon teh assamika dan sinensis seri Gambung. Perkebunan teh Gambung ini tak ubahnya laksana harta karun peninggalan Rudolf Eduard Kerkhoven “Sang Juragan Teh” bagi warga Jawa Barat maupun bangsa Indonesia.

Namun apakah pernah membayangkan bagaimana keadaan Gambung ketika pemuda Belanda itu untuk pertama kalinya tiba di sana, seindah sekarang kah?

Kehadiran perkebunan teh Gambung memang tidak bisa dipisahkan dengan seorang pengusaha muda Belanda bernama Rudolf Eduard Kerkhoven yang bekerja keras dalam mewujudkan ambisinya menjadi juragan teh, sebagaimana tercantum dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Hella S. Haasse “Herren van de Thee (Sang Juragan Teh)”.

RE. Kerkhoven berlayar dari Belanda menuju tanah harapan bernama tanah Priangan. Dalam impiannya yang paling dalam, ia ingin menjadi seorang juragan perkebunan teh.

Tamparan angin laut dan deburan ombak samudera dalam pelayarannya semakin membuat khayalan dan imajinasinya mengental dan menancap pada sebuah lahan di tanah Priangan yang indah dan mempesona. Sesampainya di tanah harapan yang bernama Gambung, pemuda itu sempat dilanda kegalauan. Betapa tidak, eksotisme alam Priangan yang indah itu ternyata tak lebih dari hutan belantara, dimana hewan-hewan buas sedang bersembunyi di balik semak. Lahan di Gambung ketika ia tiba di sana berupa hamparan kebun kopi milik pemerintah yang terbengkalai. Mimpi menjadi sang juragan tidak langsung terwujud. Ia harus membabat hutan, membuka lahan, menyiangi semak belukar, hingga melakukan uji tanam persemaian bibit teh pertama di lahan percobaan.

Setelah 45 tahun yakni terhitung sejak tanggal 1 Januari 1873 Rudolf menyemai bibit teh pertamanya hingga tanggal 1 February 1918, kesuksesan itu baru datang. Harga teh Gambung di pasaran Eropa meningkat dan usaha perkebunan teh rintisannya pun membuahkan hasil yang melimpah. Ambisi menjadi juragan teh pun menjadi kenyataan.

“Aku senang sekali tanaman teh Jawa muda…tumbuh subur, rumpun-rumpun siap untuk dipanen…setelah musim hujan.”

-“Sang Juragan Teh” hal 22-

(Dikutip dari berbagai referensi)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This