Dekapan Malam

by | Sep 28, 2022 | Tunas Muda

Oleh: Anes Febri N.P.Y.N

Sebuah peradaban yang tak lagi sama membuat diri terpaksa untuk mengikuti semua alur perjalanan. Bukannya mengeluh, namun hanya bercerita kepada Yang Maha Kuasa tentang segala hal yang terjadi. Mata yang sebelumnya berbinar saat menatap semesta, kali ini memilih untuk terpejam dan mengalirkan luapan emosi. Semua orang tahu bahwa bukan hal yang mudah untuk menerima sebuah keadaan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Namun, apalah daya kita sebagai manusia yang hanya bisa berusaha, berdoa, dan berserah.

Singkat cerita saat mentari masih memperlihatkan kegagahannya. Gelora tawa yang dahulu masih menjadi hal yang menyenangkan, saat ini tinggal ruang rindu yang merajalela seperti amukan semesta. Tubuh ini tengah meringkuk dalam kesunyian di antara kepungan kebingaran, lelah dengan kenyataan. Menengadahkan kepala pada langit, berharap waktu berlalu dengan cepat tanpa adanya rasa lelah. Sayangnya, hanya bisa berharap dan bukan sebuah kenyataan. Otak ini tengah berusaha menahan dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja tak bisa terbendung. Hanya satu kata yang terlintas dan ingin terwujud, yaitu “Pulang”.

Saat surya tengah tenggelam, keinginan itu terwujud. Namun, bukan ini yang dimaksud. Apalah daya, diri ini hanya bisa menunggu detik demi detik yang bergulir dengan asyiknya tanpa memikirkan yang lain. Menanti akan hadirnya sebuah keajaiban sebagai obat dari jiwa dan raga yang telah layu serta otak yang berpikir tidak sesuai kenyataan yang ada. Hanya sujud yang ku bisa, menenggelamkan diri dalam harapan dan doa yaitu jadi kebanggaan yang telah tertanam di dalam hati. Sebenarnya raga ini telah berusaha mengembalikan kesadaran, tapi sayangnya masih harus bernegosiasi dengan waktu. Sosok yang selama ini tengah menjadi salah satu alasan tersenyum, tak sedikit pun tergerak membalas panggilan ponsel. Hanya bersama kenikmatan malam diri ini bercerita tentang lara yang membekas. Menjadikan segala sesuatu yang telah terjadi sebagai benteng evaluasi diri yang kokoh.

Jember, 3 September 2022

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This