Dalam Satu Wadah

by | Oct 27, 2022 | Cerpen, Tunas Muda

Oleh : Heri Prasetyo

Selepas roda truk melayang ke arah kakinya, laki-laki dengan setinggi leher kuda yang berdiri itu harus terpaksa memegang besi di kedua tangannya ketika berjalan. Meskipun dengan kondisi seperti itu, tak pernah ada rasa untuk menundukkan semangatnya untuk selalu memperoleh tetesan ilmu.

”Mau bagaimanapun ini takdir yang diberikan oleh Tuhan. Aku harus bersyukur,” gumamnya setiap kali lekas mengangkat wadah perpustakaan ke pundaknya.

Setiap kali mau melangkahkan kakinya menuju roda empat, ia harus dibantu oleh Bibi dan dua besi yang menggunakan karet sebagai pegangannya. Rumah semi kerajaan tersebut mustahil bisa diurus hanya dengan seorang laki-laki yang ditinggal istrinya menemui sang pencipta tepat sang anak baru keluar dari rahimnya. Segala perabotan dan peralatan yang ada di rumah tersebut Bi Sumi lah yang mengurusnya.

Tepat sang fajar setinggi dua tombak, mobil putih dengan pelat merah tersebut langsung memutar rodanya. Menyusuri setiap sudut kota yang bertujuan di pusat kota. Hanya ada dua orang laki-laki yang ada dalam mobil tersebut. Laki-laki dengan hubungan darah yang saling mengalir di setiap nadinya. Di tengah Pak Burhan menginjak gas dan mengendalikan setir mobil, terlontar pertanyaan dari Abdul Sargawi yang membuatnya tidak langsung berani menjawab.

“Pa, suatu hari nanti aku bisa ikut lomba lari kan?”

Pertanyaan yang sangat tidak logis untuk seseorang yang memiliki kondisi kaki yang tidak normal tersebut cukup membuat Pak Burhan mengelus dada dan menghela nafas. Perasaannya sangat di sentuh oleh pertanyaan anak tunggal yang tak pernah digendong oleh tangan seorang perempuan yang bernama “Ibu”.

Setengah jam sudah roda mobil berputar. Pak Hasan, security SMA NAGATAMA tersebut sudah berseragam rapi di tengah jalan sembari meniup peluit dengan diikuti tarian tangan.

“Prit, prit, prit.”

Mobil berbelok tepat pintu gerbang masuk. Lapangan tengah penuh orang-orang berseragam yang dengan antusias ingin menuntut ilmu dengan baik. Mereka menggantungkan segala mimpi dan angan-angan di sekolah tersebut. Mobil berhenti di depan lobby. Segeralah Abdul Sargawi menitahkan kakinya ke lantai. Tak seperti hari biasanya. Hari itu cukup aneh bagi Abdul Sargawi untuk bersekolah. Ia melihat sekelompok anak kulit putih tepat di balik bunga pohon palem setinggi tiga meter. Pandangannya berubah ke sisi lain, dilihatnya seorang anak dengan kulit gelap sedang duduk di kursi taman dengan buku tebal di genggamannya berwarna hitam. Buku tersebut memiliki font tulisan yang cukup besar di bagian sampulnya, sehingga Abdul sedikit bisa membacanya. Menurutnya, buku tersebut berjudul “Keistimewaan Orang Timur”. Anak di taman tersebut selain menggenggam buku juga meneteskan air matanya. Padahal apabila ia menangis karena dianggap jelek oleh teman-temannya, ada sekelompok anak yang memiliki warna kulit sama persis sepertinya sedang bergelegak tawa.

Ketidakinginan Abdul memasukkan kondisi tersebut ke dalam otaknya cukup besar, ia tak mau mengambil pusing langsung menggerakkan kruk yang digenggamnya menuju kelas. Udara dingin sekolah itu membuat tengkuknya terasa seperti ada yang menyentuh. Di tambah gemercik air mancur membuat suasana semakin dipenuhi kedamaian. Namun pada kenyataannya tidak begitu. Tepat kakinya melangkah di Gang antar kelas. Ia melihat seorang perempuan yang berambut ikal sedang dihajar oleh perempuan lain berambut lurus yang diurai. Dengan segala rasa tidak tega melihat perempuan tersebut dijambak rambutnya, Abdul ingin segera menolong. Tapi dengan kakinya yang tidak bisa melangkah itu membuat rasa untuk menolong dengan tangannya sendiri patah. Apabila ia memaksakan maka akan babak belur sendiri dan membuat masalah baru. Dengan segala keputusan di kepalanya yang cukup berat karena merasa malu seorang laki-laki tidak bisa menolong, akhirnya ia berteriak sekeras mungkin.

“Berhenti!!!”

Perempuan berambut lurus tersebut langsung berhenti karena mendengar terikan Abdul. Ia menoleh ke arahnya dengan raup wajah penuh amarah. Matanya melotot seakan Abdul menjadi korban selanjutnya.

“Lo mau gue cincang seperti anak ini?”

“Anak itu salah apa sih kok kamu tarik-tarik rambutnya?”

“Tidak usah banyak tanya, mending lo lanjut berjalan dengan besimu itu!” “Iya, tapi lepasin dulu rambutnya! Apa kamu tidak memiliki rasa kasihan?”

Perempuan itu melepaskan dengan melemparnya ke tanah. Matanya berapi. Tangannya membatu. Langkah kakinya menuju Abdul. Kepalan tangganya siap diterbangkan ke wajah Abdul. Kondisi semakin panas, Abdul tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri, minta pertolongan.

“Tolong!!!”

“Tolong!!!”

Seluruh warga sekolah yang mendengar langsung memadati tempat tersebut. Tak menunggu instruksi dari Abdul, beberapa siswa langsung memegangi perempuan tersebut dan langsung membawanya ke BK. Kondisi berubah seratus delapan puluh derajat. Perempuan berambut ikal yang kerap dipanggil Lili itu langsung mengucapkan terima kasih kepada Abdul. Ia menjelaskan kepada Abdul mengapa rambutnya ditarik tarik. Lili mengatakan, “Perempuan itu tidak mau melihat orang-orang dengan rambut ikal sepertiku. Hal ini dianggap sangat buruk baginya.”

Usai mendengarkan penjelasan Lili, Ia langsung beranjak melanjutkan langkah kakinya. Lagi- lagi ia berpikir mengenai keanehan hari tersebut. Di tengah-tengah pikirannya yang menggerutu, Abdul menuju ke toilet untuk mencuci muka. Kran air dibuka, tangannya menengadah menampung air untuk dibasuh ke muka. Tepat mata menyoroti air itu, dilihatnya sebuah gedung-gedung tak beratap dalam genangan air ditangannya. Selain gedung tak beratap, banyak manusia kurcaci dan manusia setinggi tiga meter bermain jungkat-jungkit. Ini merupakan suatu hal yang tidak masuk akal baginya. Rasa penasaran Abdul Sargawi semakin merayap dan menggerakkan segala hasratnya untuk mengetahui lebih jelas di dalamnya.

“Dunia apakah ini? Aku harus masuk ke sana,” ujarnya seraya mengernyitkan dahi.

Kurang dari setengah detik, Ia berhasil memasuki tempat tersebut. Aneh, kondisi tak sama seperti yang dilihat sebelumnya. Suasana berubah menjadi sebuah pedesaan yang sangat hijau. Pedesaan tersebut amat sangat damai karena dihuni berbagai etnis, agama, warna kulit dan segala perbedaan manusia. Hal yang paling membuatnya merasa terkagum-kagum yaitu sesaat setelah melangkah sekitar empat meter ke arah matahari mulai menampakkan diri. Tempat ibadah berbagai agama terbangun sejajar begitu megah. Setiap umat melaksanakan ibadah dengan dasar rasa toleransi yang tinggi. Mereka saling menjaga apabila umat lain sedang melaksanakan ibadah. Keingintahuan alasan dibalik itu semua dalam diri Abdul Sargawi semakin menekan. Bergeraklah ia untuk mencari alasan dibalik itu semua. Pertama, ia bertanya kepada seorang Pendeta yang sedang duduk di Klenteng.

“Pendeta, kenapa tempat ibadah di sini dibangun sejajar tanpa ada jarak?” “Kenapa harus berjarak apabila berdekatan saja sudah merasa damai.”

Sambil menggaruk rambutnya yang gatal, Abdul meninggalkan Pendeta tersebut tanpa berpamitan. Tak sampai hanya di situ saja, Ia menanyakan pertanyaan serupa kepada Ustaz di Masjid. Ustaz tersebut berpakaian putih dengan sorban di kepala. Tangannya diangkat ke atas seraya mulutnya mengucapkan kalimat doa.

“Ustaz, kenapa tempat ibadah di sini dibangun sejajar tanpa ada jarak?” “Kenapa harus berjarak apabila berdekatan saja sudah merasa damai.”

Jawaban serupa masuk ke dalam telinganya. Berkali-kali ia menanyakan kepada pemimpin berbagai agama yang ada di tempat ibadah tersebut, tetapi jawabannya tetap sama persis. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, tetapi bukannya langit yang dilihat melainkan sederet tulisan. Tulisan tersebut merupakan hasil serapan berbagai bahasa. Bunyi tulisan itu yaitu, “Cegak di Negeri”. Ia mencari-cari arti kalimat tersebut. Sambil menggigit ujung kuku jempolnya ia berpikir sangat keras. Tangannya ikut bergemetar seolah telah melihat hal yang bisa mendatangkan bahaya. Bola matanya naik turun. Tangan kanannya sesekali memegangi dahi dan tangan kirinya ia tempatkan di pinggang, menekuk layaknya kaki congcorang.

Sudah tiga puluh menit ia memikirkan arti tulisan itu, tapi tak satu pun sebuah arti muncul dalam pikirannya. Ia berlari sangat kencang menjauhi arah sorot matahari. Berharap tak melihat tulisan itu lagi. Langkahnya sangat cepat. Dalam larinya ia mendengar berbagai bahasa dari orang-orang di sekitar. Mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda namun tetap bisa diterima. Padahal dalam diri Abdul Sargawi tak mengerti satu pun arti dari bahasa tersebut. Larinya seketika berhenti ketika melihat sebuah sekolah yang terbangun dari kayu Baobab yang merupakan salah satu kayu terbesar di dunia. Gapura sekolah tersebut bertuliskan, “Sekolah Dasar Keberagaman”.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This