Curhat yang Menggedor Langit

May 4, 2024 | Opini

Views: 22

Hari ini aku belajar banyak dari Al Mujadalah (perempuan yang menggugat) Ayat 1, awal Juz 28 dalam Al Qur’an. Ayat tersebut mengandung tentang Khaulah binti Tsa’labah yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah atas suaminya, Aus bin ash-Shamit. Ini tentang kasus verbal bullying dalam rumah tangga.

Perempuan tua renta dan banyak anak itu tak hanya menggugat. Ia meratap dan mengharap banyak pada Allah, agar memberikan solusi terbaik baginya. Ia merasa diperlakukan semena-mena. Pasalnya, sang suami melakukan zihar. Ia berkata bahwa punggungnya seperti punggung ibunya. Kalimat itu pedas menghunjam di dadanya dan diangkat ke langit. Ia meminta keadilan. Kalimat itu seberat kalimat talak.

Curhatnya didengar dengan seksama. Turunlah ayat ini. Sebuah jawaban Allah bagi Khaulah, dan bagi banyak perempuan yang diperlakukan sama dengannya. Allah Maha Mendengar. Maha Lembut. Tangisan Khaulah menggedor pintu langit. Padahal, kasus itu bagi kita yang sudah terintoksikasi kasus bullying bertubi-tubi, seakan kasus yang remeh. Masih banyak yang berkaliber super berat. Tak jarang bullying kasus rumah tangga berujung maut. Dicekik, ditikam, disiram air keras. Bahkan mutilasi. Na’udzubillah min dzalik.

Curhat Khaulah berbuah turunnya syariat yang menetapkan zihar sebagai perkara haram dan sebab putusnya hubungan sah suami istri. Seperti layaknya menceraikan istri. Untuk menggugurkannya, sang suami diwajibkan memerdekakan budak. Jika tak mampu, alternatifnya wajib berpuasa dua bulan. Jika tak mampu puasa, alternatifnya memberi makan 60 orang fakir miskin.

Tak ayal Aisyah, istri Nabi, ikut menghiburnya. Rasulullah menangani kasus ini dengan serius. Ia memanggil suaminya. Di ending kisah inilah yang mengharukan. Suami Khaulah adalah seorang miskin. Ia menyesali perbuatannya. Ia katakan, setan membisikiku. Mungkin kemiskinan menderanya begitu kuat, dan muncul verbal bullying itu. Yang jelas, syariat itu begitu berat baginya. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Ia berikan 15 sha untuk suaminya untuk disedekahkan. Sebuah ending yang haru.

Dari sekian banyak kisah bullying, kisah Khaulah adalah sesuatu yang luar biasa. Bahkan dalam kisah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud itu, diteruskan oleh kisah Umar bin Khattab yang sangat menghormati Khaulah, setelah turun ayat itu. Umar bahkan bersedia mendengarkan keluh kesah dan nasihat Khaulah kapan saja dan di mana saja. “Jika Allah saja mendengarkannya, apalagi saya,” ujar beliau.

Barangkali dada kita telah sesak oleh jutaan kasus bullying yang mendera perempuan. Hingga nurani kita menjadi mati rasa dan menganggapnya biasa. Kisah Khaulah mengingatkan kita agar senantiasa curhat kepada Allah. Sebab Ia Maha Mendengar semua keluh. Kisah ini juga mengungkapkan indahnya persaudaraan dalam Islam. Juga akhlak mulia Rasulullah yang mencontohkan leadership sebagai sosok kepemimpinan yang senantiasa memperhatikan kemanusiaan.

Aku tercerahkan oleh kisah ini. Tak hanya soal sikap terhadap bullying. Tapi juga tuntutan untuk berlatih mendengar keluhan orang yang dalam keadaan lemah dan perlu pertolongan dan memberi solusi yang terbaik. Seperti Rasulullah, Aisyah dan Umar bin Khattab. Sebab Allah saja mendengarnya.

Purwokerto, 1 Mei 2024

Bon Yosi

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This