Cinta dalam diam, Nyali Sebatas Di Ujung Lutut

by | Dec 11, 2021 | Essai

Semangat pagi bangun pagi, membunuh dinginnya air sumur, menepis pekatnya kabut.
Secangkir kopi terlupakan demi memburu waktu, tepat waktu di halte bus biar tidak terlambat ke sekolah. Ahh… itu cuma tujuan akhir, berangkat sepagi apapun tetap telat juga, maklum lokasi sekolah di pinggiran kota minim angkutan umum.
Bukan sekolah, teman, apa lagi guru guru yang buat semangat pagi, tapi seorang bidadari tomboy “terabaikan, seperti mutiara dasar laut” dan senyumnya setajam pisau sangkur, melukai siapa pun yang berani meski sekadar melirik jahat.
Bus datang dan pergi terabaikan, jam tangan masuk kantong, ternyata bahagia itu sederhana, tak perlu ganasnya mesin underbone, cukup mesin diesel bus kota, bergelantungan di pintu bus menjaga bidadari hingga tujuan.
Turun di halte kedua, menikmati cemilan jalanan sembari menunggu bus ke tujuanku, seperti biasa deretan buku catatan harian guru BP namaku selalu ada “terlambat lebih dari satu jam”. Yaa tak apalah, paling paling juga dimintai tolong buat kerja sosial mindahin batu bata dan material pembangunan masjid sekolah, nikmati aja.
Pikirku waktu itu, pendidikan itu harus asyik tanpa intimidasi, tanpa ancaman, kebijakan fleksibel soal biaya pendidikan dengan segala solusi dan biarkan si anak didik fokus menikmati perjalanannya, pengalamannya, cukuplah diarahkan diarah yang benar.
Biarkan si anak berkembang melewati batas segala imajinasinya, mimpi mimpinya.

Martoyosri, klaten 9/12/2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This