Catatan Soal Firaun Dan Nabi Musa (Percakapan Pribadi Dengan Alm. BJ. Habibie)

by | Sep 20, 2022 | Pojok

Oleh: Mariska Lubis

Para pemimpin zalim di masa saat ini sering kali dikaitkan dengan Firaun dan kroninya, dan Nabi Musa bersama pengikutnya adalah orang-orang yang bersikukuh memegang erat kebenaran Allah. Saya jadi teringat percakapan saya dengan Alm. BJ. Habibie di rumah beliau, di daerah Kuningan, Jakarta. Pada waktu itu, kebetulan perpustakaan baru beliau saja selesai didirikan, di rumah Alm. Ibu Ainun. Percakapan menuju ke perpustakaan tersebut, yang masih saya ingat, terkait dengan pemikiran banyak orang saat ini, yaitu tentang Firaun dan Nabi Musa.

Begitu masuk ke dalam rumah almarhum, saya dijelaskan soal Indonesia sebagai negara agraris dan ragam budayanya. Lengkap dengan sebuah peta Indonesia besar di lantai dan hiasan simbol ragam budaya dari tembaga yang menghiasi ruang masuk. Setelah ruang kerja dan ruang tamu yang banyak berisi koleksi lukisan, kira bisa melihat taman “berpikir”. Di taman ini, ada banyak simbol berpikir dari berbagai budaya, agama, dan negara, termasuk patung “The Thinker”.

Di sampingnya ada sebuah lorong dengan dinding berisi perjalanan masuknya agama ke Indonesia, dan di sebelahnya ada dua kolam ikan besar. Di antara dua kolam ini, ada jalan menuju sebuah pintu besar. Menuju ke pintu inilah beliau bercerita bahwa dua kolam tersebut adalah simbol laut terbelah pada jaman Nabi Musa ketika dikejar oleh Firaun. Nabi Musa dan para pengikutnya menuju ke sebuah titik, yaitu pintu tersebut. Titik atau pintu tersebut adalah gerbang, gerbang ilmu pengetahuan, sebab hanya dengan berilmu maka kita benar-benar bisa selamat.

“Allah pemilik ilmu, dan Firaun kalah karena meski cerdas tetap tidak berilmu. Kewajiban pertama umat muslim adalah Iqra, tentunya bukan tanpa sebab, saya yakin Allah ingin umatnya tidak menjadi seperti Firaun atau dikuasai Firaun,” demikian ucapan Pak Habibie ke saya waktu itu.

Ucapan itulah yang membuat saya jadi mengenang beliau saat ini, apalagi banyak tulisan dibagikan soal Firaun dan Nabi Musa di era sekarang. Saya memang sering bertanya dalam hati dan berpikir keras, mengapa orang saat ini, meski sekolah tinggi, menggunakan teknologi, banyak sumber informasi, tetapi tidak mampu membuat negeri sendiri memiliki kehidupan yang lebih baik?! Salah pemimpin?! Tidak juga, sebab disebutkan bahwa pemimpin adalah cermin dari rakyatnya.

Lantas, bagaimana mengubah keadaan yang sudah sangat buruk ini? Marah, memaki, bicara cerdas meyakinkan tapi tidak ada solusi. Berkutat di itu-itu saja dan tidak ada kemajuan pemikiran. Bagaimana mau memiliki pemimpin adil bijaksana sesuai harapan? Revolusi berdarah pun tidak akan memberikan perubahan menuju yang lebih baik bila tetap “primitif dan ketinggalan” dalam berpikir dan berilmu.

Nabi Musa adalah Nabi, dan tidak bisa disamakan dengan siapa pun saat ini, sebab “Nabi” adalah pilihan Allah dan Nabi terakhir adalah Rasullullah SAW. Saya tidak mau menjadi dosa karena menyamakan Nabi dengan manusia biasa. Lantas apakah tidak ada yang mampu menyelamatkan rakyat Indonesia saat ini?

Kembali kepada percakapan saya dengan Pak Habibie, yaitu ilmu pengetahuan sebagai penyelamat. Alquran berisi ilmu pengetahuan yang bisa menyelamatkan bila mau dipelajari baik-baik untuk benar berilmu. Semua ilmu milik Allah, hanya dengan kerendahan hati dan benar bersujud, manusia bisa berilmu. Toh, belajar adalah salah satu cara bersujud dan hormat pada Allah.

Bila sekarang semua merasa sudah pintar, sok tahu, paling baik, paling hebat, paling benar, paling suci dan tidak pernah salah, selalu menunjuk jari, maka bagaimana bisa berilmu? Ingin perubahan tapi takut dengan perubahan, contohnya saja soal teknologi. Diajak untuk berpikir soal masa depan, era industri 4.0 dan 5.0, bersikukuh dengan pemikiran era 3.0. Ngotot pula! Padahal, teknologi pasti berkembang dan berubah seiring perkembangan waktu. Sejarah perjalanan manusia sudah membuktikan, masa tidak paham juga?!

Yah, ini sekedar rasa dan pemikiran pribadi saja, benar salah lain cerita. Berbeda biasa, yang penting masih berpikir, sekaligus mengingat dan mengenang sebuah percakapan dengan pemikir jenius, Alm. BJ. Habibie. Semoga Allah memberikan tempat terindah terbaik bagi beliau di surga.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This