Catatan Latar Jelang Meletusnya G-30/S 1965

by | Sep 21, 2022 | Essai

Oleh : Hendrajit

Salah satu paradoks perilaku politik kader-kader PKI yang mencolok khususnya pada era 1950-an dan 1960-an terlihat ketika jargon dan metode gerakan tidak nyambung. Jargon yang dipakai misalnya desa mengepung kota. Padahal dalam gerak politiknya PKI tidak melakukan perang gerilya masuk hutan keluar hutan. Atau naik ke gunung-gunung. Melainkan berpolitik lewat parlemen. Apalagi jumlah kursi PKI di parlemen terbanyak keempat sesudah PNI, MASYUMI dan NU.

Sehingga jargon yang digunakan seperti desa mengepung kota, membasmi 7 Setan Kota dan kaum kapitalis birokrat, sesungguhnya lebih pas kalau PKI menerapkan konsepsi perang gerilya di pedesaan atau gerilya kota seperti Mao Zhe Dong di Cina, Castro di Kuba atau Ho Chi Minh di Vietnam.

Jadi sebetulnya wacana untuk mempersenjatai tani dan buruh bukti nyata PKI itu tidak membumi. Sebab wacana itu pun baru tepat ketika PKI menerapkan perang gerilya dalam gerakan politiknya. Justru wacana yang digulirkan tentang angkatan kelima mempersenjatai buruh dan tani justru menunjukkan banyaknya kader komunis yang senang berfantasi dan halusinasi.

Menurut riset beberapa pakar yang dirangkum oleh Doktor Aiko Kurasawa. Saat meletusnya G30S bantuan senjata dari Cina untuk angkatan kelima pun belum terealisasi. Mungkin Mao juga mikir-mikir apa ada gunanya juga karena nyatanya PKI lebih banyak koar-koar di parlemen dan bermain dalam sistem. Bukannya berperang angkat senjata seperti Mao, Chou En Lai, Liu Shaoqi dan lain-lain, ketika berontak terhadap Jenderal Chiang Kai Shek.

Dalam riset Aiko dan teman-teman, Mao justru lebih serius menanggapi permintaan kerja sama dari Waperdam tiga Chairul Saleh. Yaitu bantuan Cina kepada Indonesia di bidang teknologi nuklir. Dari dokumen pembicaraan Mao dan Saleh, terlihat Mao lebih bergairah menanggapi proposal Saleh daripada Aidit yang omongannya kebanyakan kuah daripada dagingnya.

Chairul Saleh yang putra Minang ini memang nasionalis tulen dan anti komunis. Banyak gagasan revolusionernya lebih konkret daripada PKI. UU migas tahun 1960 hasil dari gagasan dan buah pikirnya. Konsep wawasan nusantara yang dikembangkan di era Pak Harto, juga berkat prakarsa Chairul Saleh ketika menugaskan Mochtar Kusumaatmaja menjabarkannya melalui bidang hukum laut.

Sedangkan ulah PKI mewacanakan angkatan kelima malah melakukan provokasi meletusnya G30/S 1965, yang akhirnya meruntuhkan pemerintahan Sukarno yang oleh barat dipandang sebagai kontra skema terhadap kapitalisme global. Yang mana Bung Karno dan Bung Chairul merupakan beberapa motor penggeraknya.

Berkolaborasinya orang-orang bodoh di PKI dan orang-orang munafik di lingkar dalam kekuasaan Sukarno, maka lahirlah sebuah kejahatan politik tingkat tinggi. Bukan saja kejahatan kemanusiaan, melainkan telah mendorong Indonesia mundur 20 tahun.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This