Cara Melawan Kapitalisme

Nov 8, 2023 | Essai

Views: 0

Sistem kapitalisme itu menindas, memeras, merusak, dan membuat rakyat banyak melarat dan segelintir orang menjadi kaya raya. Jurang kesenjangan sosial ekonomi menjadi semakin lebar. Sistem ini membuat segelintir orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kenyataan itu persis seperti yang dipraktikkan di negara kita saat ini.

Sistem kapitalisme itu yang membuat empat keluarga di Indonesia ini kekayaannya sama dengan 100 juta rakyat Indonesia dari yang termiskin (Oxfarm, 2021). Sistem kapitalisme juga yang ciptakan sistem pemerasan terhadap buruh, perusakan lingkungan, perubahan iklim, polusi tak terkendali dan lain sebagainya. Bahkan merusak sistem demokrasi kita, merenggut kemerdekaan, dan menggasak cita cita berdirinya republik ini, ciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

HOS Cokroaminoto mengatakan kapitalisme itu, ”zondig!” alias jahat. Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan tokoh pejuang nasional secara terang-terangan menentang sistem kapitalisme dan imperialisme. Di Konstitusi kita, UUD 1945 secara gamblang ingin mengganti sistem kapitalisme dan imperialisme yang diwariskan oleh penjajah agar diganti dengan sistem demokrasi ekonomi. Namun, sampai hari ini sistem kapitalisme ini tetap dijalankan dan bahkan eskalasinya semakin parah.

Pemimpin di republik ini bahkan melanggengkannya untuk mengawetkan sistem kekuasaan mereka. Praktik sistem kapitalisme dilanggengkan dengan membangun kongkalikong antara elite kapitalis kaya dengan para elite politik atau penguasa melalui regulasi dan kebijakan negara ini agar memberikan keuntungan bagi mereka.

Contoh konkretnya seperti sistem Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja, UU Omnibus Law Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan dan lain-lain. Baru-baru ini sistem kolusi yang kasat mata dilihat rakyat dan itu diterapkan untuk melanggengkan praktik dinasti dengan mengakali UU yang dilakukan elite. Padahal ini akar di mana sistem kapitalisme bekerja.

Sistem kapitalisme, walaupun jahat dan ditentang oleh beberapa kalangan, terutama oleh segelintir para aktivis atau reformis sosial, sistem ini sesungguhnya tidak banyak dipahami masyarakat. Sehingga sistem ini tidak banyak yang mengkritik atau menolaknya. Bahkan secara ngawur, mereka yang tidak paham itu bahkan justru membelanya atau setidaknya mengafirmasi atau mewajarkan sistem ini dijalankan. Dianggapnya sebagai keniscayaan.

Orang awam, atau mereka yang bukan kelompok intelektual ilmu-ilmu sosial atau para aktivis gerakan perubahan sosial memang jarang membicarakan istilah kapitalisme, sistem ekonomi kapitalis atau menyebut orang kapitalis. Di kampus saja bahkan istilah ini jarang dibahas atau didiskusikan oleh mahasiswa dan dosen kecuali di fakultas ilmu sosial dan politik, atau ekonomi. Biasanya itu pun terbatas di kalangan mahasiswa jurusan ilmu ekonomi pembangunan ketika membahas misalnya soal sistem ekonomi. Di sekolah setingkat sekolah menengah malahan sama sekali tidak dipelajari atau diajarkan. Jadi wajar kalau banyak yang sesungguhnya tidak paham.

Dikarenakan banyak yang tidak mengetahuinya, akhirnya ketika sistem ini dipraktikkan dalam keseharian atau dalam praktik penerapan sistem sosial dan ekonomi di negara kita, nyaris jarang ada yang mengkritiknya, apalagi menolaknya. Kadang kala ketika ada yang mengaku paham, secara serampangan menyebut para kapitalis adalah orang yang memiliki modal, atau kapital dalam jumlah besar. Bagaimana mau mengkritik dan menolaknya jika tidak memahaminya?

Dari pemahaman yang minim tersebut pada akhirnya kata ini bahkan ada yang menginterpretasikan sebagai sesuatu yang bahkan baik. Mereka yang menganggapnya buruk, atau membencinya juga karena sistem ini sudah jadi praktik keseharian mereka tidak menyadarinya jika praktik yang dilakukan dalam keseharian itu adalah praktik kapitalisme.

Apakah Kapitalisme, Sistem Ekonomi Kapitalis dan Para Kapitalis Itu?

Di dalam tulisan ini, sengaja saya ingin menjelaskan sistem kapitalisme itu secara sederhana. Supaya mudah dipahami dan dianalisis lalu syukur mau mengkritik atau menolak dan bahkan melawanya.

Kapitalisme itu secara sederhana adalah suatu sistem yang tempatkan modal atau kapital itu sebagai basis penentu dari proses pengambilan keputusan di perusahaan sebagai jantung dari sistem ekonomi bekerja. Maksudnya, ketika perusahaan itu dijalankan proses pengambilan keputusan perusahaan itu ditentukan oleh mereka yang menjadi investor, pemodal finansial.

Bukan didasarkan kepada keputusan semua orang yang terlibat di perusahaan itu. Seperti buruh, atau bahkan konsumennya. Sehingga apa pun itu keputusan perusahaan, semua ada di tangan pemilik modal atau penganut sistem kapitalis ini. Buruh, apalagi konsumen tidak punya hak untuk menentukan keputusan perusahaan.

Modal itu jadi alat penentu, bukan dijadikan sebagai alat bantu untuk orang memutuskan apa yang terbaik untuk hidup mereka di perusahaan. Semua keputusan didasarkan pada berapa besarnya kepemilikan modal semata. Mereka yang menguasai atau memiliki modal (equity) di terbesar di perusahaan maka mereka yang menentukan.

Jika di perusahaan itu saham mayoritasnya hanya dikuasai oleh segelintir pemilik modal yang serakah, yang tujuannya hanya mengejar keuntungan, tidak pedulikan kesejahteraan buruh, tidak peduli kerusakan lingkungan (perubahan iklim dan polusi), maka perusahaan yang dikuasai para kapitalis itu menciptakan kesenjangan pendapatan, kekayaan, dan otomatis kerusakan lingkungan, dan lain-lain.

Sistem kapitalisme ini dapat bekerja dan mereka mendapatkan lahan subur, jika sistem persaingan itu dijadikan doktrin. Sistem ekonomi kita dijalankan dengan terapkan sistem persaingan bebas, motif bisnis semata melakukan pengejaran keuntungan, dan akumulasi kekayaan dibiarkan tanpa batas.

Orang dibiarkan bersaing secara bebas. Mereka yang memiliki kekuatan untuk memenangkan persaingan dan jadi pemenang akhirnya yang kuasai pasar. Dikarenakan profit atau keuntungannya terakumulasi akhirnya ciptakan kekuatan yang melampaui negara atau pemerintahan sekalipun.

Pemerintah atau penyelenggara negara seperti DPR, Presiden, dan Hakim akhirnya ketika membuat regulasi dan kebijakan, keputusan menjadi begitu mudah diatur oleh mereka. Sebut saja misalnya oleh kelompok kapitalis sembilan naga. Semua dibuat agar menguntungkan kepentingan elite kaya kapitalis dan elite politik/penguasa.

Rakyat jelata, mereka yang ruang-ruang hidupnya telah dimonopoli dan dikuasai oleh kekuatan kongkalikong elite kaya kapitalis dan elite politik/pemerintah itu akhirnya menjadi tak berdaya. Kesempatan hidup mereka hanya bisa bertahan jika mau bekerja lembur menjadi buruh dengan gaji rendah, petani, nelayan, perajin, petambak, peternak kecil.

Akhirnya mereka hanya bertahan hidup dengan harga yang sudah secara monopsoni ditentukan oleh elite mafia. Pedagang kecil dengan modal kecil hanya bisa bertahan dengan batasan keuntungan yang sesungguhnya sudah ditentukan oleh mereka para elite kaya dan penguasa itu.

Pada intinya kapitalisme itu telah membuat elite kaya dan elite penguasa terus berkongkalikong di atas untuk tujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, menumpuk hartanya hingga tak habis tujuh turunan, menumpuk kekuasaan, dan membiarkan rakyat banyak, para jelata berebut remah-remah dengan saudara dan tetangganya di bawah.  

Cara Menghancurkan Sistem Kapitalisme

Sistem kapitalisme sebagaimana disebut di atas hidup karena doktrin persaingan saling tikam agar diamini semua orang, lalu motifnya kejar keuntungan, tujuannya menumpuk kekayaan dan kekuasaan. Alat terpenting untuk menjalankan sistem itu adalah korporasi atau perusahaan yang terapkan sistem siapa yang kuasai mayoritas modal sebagai penentu keputusan. Mereka para kapitalis itu menggunakan perusahaan sebagai organisasi penting untuk mencapai tujuan mereka.

Jadi tidak mungkin kita lawan itu kapitalisme, sistem ekonomi kapitalis itu jika kita tidak melakukannya dengan instrumen atau alat yang sama. Juga membalik motif dan tujuannya dari perusahaan itu dengan sesuatu yang berbeda.

Kapitalisme itu dijalankan dengan organisasi yang rigid. Perusahaan-perusahaan kapitalis diatur dan diperkuat sedemikian rupa. Bahkan jika bangkrut mereka bahkan gunakan negara untuk selamatkan perusahaan mereka. Sebut misalnya meminta bail out atau dana talangan negara. Masih ingat dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang digunakan untuk talangi bank-bank milik kapitalis konglomerat itu kan? sudah habis uang negara untuk talangi mereka dikemplang dan dibawa lari ke luar negeri pula. Itu sekedar salah satu contoh saja. Penguasaan oleh elite kapitalis terhadap negara telah dilakukan dengan banyak cara sesungguhnya.

Untuk melawannya maka ada beberapa cara penting :

1. Rakyat jelata, rakyat biasa yang jumlahnya banyak itu harus ganti doktrin persaingan dengan kerja sama. Rakyat banyak korban kapitalis harus membangun kesadaran bahwa jika terus bersaing antar saudara dan tetangga justru akan semakin melemahkan mereka. Rakyat yang lemah akan memudahkan kapitalis dan elite penguasa mencekik rakyat jelata.

2. Rakyat jelata itu di mana-mana harus membangun kesadaran kerja sama untuk dirikan perusahaan yang sama seperti kapitalis. Bangun perusahaan milik bersama yang terapkan sistem pengambilan keputusan bukan didasarkan pada mayoritas banyaknya modal tapi didasarkan setiap satu orang satu suara.

Dirikan dengan modal bersama sama dan dikontrol, dikembangkan dan diawasi bersama di mana-mana, di lingkungan tempat kita bekerja, di daerah perumahan atau lingkungan tempat kita tinggal dan di berbagai komunitas/organisasi tempat kita kumpul bersama.

Setelah modal sudah terkumpul, buat putusan untuk dirikan perusahaan di semua sektor dari konsumsi, produksi, jasa apa pun juga. Bagi keuntungannya dengan sistem yang adil bukan hanya atas modal finansial yang disetorkan tapi juga besaran transaksi dengan perusahaan. Selenggarakan seluruh kegiatan perusahaan secara demokratis dan transparan.

3. Buat persatuan di tingkat daerah dan nasional dari perusahaan-perusahaan yang ada untuk tujuan perusahaan milik bersama itu. Selenggarakan kegiatan pendidikan pelatihan, riset dan pengembangan, supervisi, konsultasi dan lain sebagainya. Undang dan biayai para ahli dan intelektual yang memang mau mengabdi untuk kepentingan bersama memperkuat gerakan rakyat tersebut.

4. Setelah organisasi-organisasi itu kuat maka buat advokasi politik serius. Ganti pemimpin-pemimpin yang ada dengan memilih dari para pejuang-pejuang gerakan. Minta mereka ganti regulasi dan kebijakan negara yang hanya untungkan segelintir elite kapitalis dan elite politik.

5. Selenggarakan perubahan sistem politik negara melalui pemimpin pejuang yang sudah teruji karya dan pembelaannya untuk gerakan cerdaskan kehidupan bangsa, sejahterakan rakyat banyak, lindungi tanah tumpah darah, dan kembangkan perdamaian dunia melalui satu misi besar kerja sama.

Demikian skema untuk menghancurkan sistem kapitalisme yang jahat itu. Bagaimana mengganti sistem ekonomi kapitalis dan melawan para kapitalis penindas, pemeras dan perusak itu.

Jakarta, 7 November 2023

Suroto

Ketua AKSES (Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis) dan CEO INKUR (Induk Koperasi Usaha Rakyat)

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This