Candala

by | Dec 12, 2021 | Cerpen

“Boleh ngga Ma kalo aku menabung untuk belikan Ibu baju,” ucapan itu begitu saja meluncur dari anak bungsuku yang sudah satu tahun melewati Sweet Seventeen.

Kutatap dalam-dalam wajahnya yang innocent dengan dilengkapi jerawat dua kelompok kecil, berat badan 95 Kg, tinggi badan 165 cm divonis obesitas level 2 oleh dokter puskesmas tempat aku biasa berobat.
“Boleh Ma…?” tanyanya lagi sambil tangannya mengguncang pelan tanganku yang sedang mengangkat gelas berisi air putih hangat.

“Boleh…bagus…kenapa mau membelikan Ibu baju, engga yang lainnya…?” balasku seraya berusaha menurunkan getaran jantungku yang berdetak lebih cepat.

“Kasian Ibu Ma, bajunya ngga ada yang bagus, bahannya murahan, kucel ngga pernah disetrika, ngga seperti baju Mama yang bahannya mehong aneka model, rapi seragam setiap hari dan disetrika rutin setiap Minggu,” mulutnya berucap lagi sambil menaruh kepalanya dipahaku dengan kaki yang diselonjorkan. Detak jantungku belum normal.

“Ya pasti beda lah nak, Ibu dengan Mama beda profesi, Ibu sehari-hari jualan sayur mayur keliling, kalo musim buah juga membawa buah-buahan, tapi mama kerja di kantor ada peraturan yang harus diikuti dari ketentuan baju seragam harian sampai pekerjaan yang sudah terjadwal ketat, dan kami juga dituntut untuk tetap menjaga penampilan agar selalu rapi, jadi penampilan Mama harus beda dengan Ibu karena aktivitas keseharian kami beda, paham anak mama yang guanteng…” ku coba cairkan suasana sambil mencubit hidungnya yang bangir.

“Aku senang juga bangga bisa memiliki Ibu dan Mama, Ibu memberiku kasih sayang dan Mama ajari aku kemandirian untuk semua hal…” jantungku kembali berdetak lebih kuat dengan frekuensi lebih tinggi lagi, “Kok bisa…..” ucapku tercekat, “Kalo aku sakit Ibu selalu telaten mijitin seluruh tubuhku, kerokin punggungku, masakin apa seleraku dan dengan sabar menyuapi makan kalo aku sakit…ngga kaya Mama, bila aku sakit cuma dikasih obat disuruh minum obat sendiri, Mama tetap berangkat kerja, jam istirahat di kantor baru Mama nganterin aku makanan yang dibeli di warung dekat kantor Mama, disuruh makan sendiri dan Mama berangkat kerja lagi sampai sore bahkan sering lembur pulang malam…tapi aku bersyukur karena aktivitas Mama seperti itu menyebabkan aku bisa mandiri untuk semua hal, betul ngga Ma?” sambil diciumnya lembut kedua tanganku yang mulai keriput.

Aku terdiam dengan mulut terkunci, hanya batinku yang bicara, “Ampuni hambaMu ini ya Allah, karena ternyata anakku merasa “lebih dekat” dengan wanita yang merawatnya cuma tiga tahun ketika aku harus menempuh S2 di luar Propinsi dibandingkan aku yang melahirkannya, aku merasa rendah diri dibanding “Ibu” anakku.

Tanah Bumbu, 20-10-2021, Hari ke-9 belajar menulis

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This