Bukan Nol, Tapi Nihil!

by | Nov 7, 2021 | Pojok

Visits: 0

Banyak yang merendah dengan berkata seolah-olah ingin belajar, sederhana, tidak memiliki apa-apa, bahkan mengaku sudah kembali ke titik nol. Fakta semua hanya sekedar kata di mulut, pada prakteknya, bukan nol besar tapi nihil saja. Terlalu sombong untuk belajar, bahkan sangat takut dianggap bodoh. Mau sederhana tapi bahkan mau melakukan hal-hal mubazir dengan kemewahan dengan berbagai alasan. Tidak memiliki apa-apa tetapi rela berhutang untuk bisa “eksis” dan diakui, menuruti kemauan yang salah. Sia-sia.

Belajar dan menjadi benar berilmu tidak bisa melalui proses instan. Semua butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi, terutama lagi kerendahan hati. “Ah, begitu saja! Saya juga bisa kalau begitu saja!”. Nah! Lupa kalau meniru itu mudah, tetapi mencipta dan berkarya dari awal dan untuk hal yang baru serta original, sangat tidak mudah.

Urusan belajar dan ilmu ini bukan hanya urusan pendidikan formal semata, sebab alam ini dipenuhi dengan kekayaan karya seni yang dipenuhi ilmu pengetahuan. Tidak perlu takut dianggap bodoh, apalagi bila hanya urusan sekolah dan gelar, banyak yang gelarnya sederet pun tetap bodoh dan keledai. Durjana pula! Tidakkah ada rasa syukur dan kerendahan hati untuk mengakui kebesaranNya hingga mau bersujud dengan belajar sungguh-sungguh karenaNya?! Apa untungnya mengejar nilai manusia?!

Bila makan tahu tempe dianggap sederhana, maka semestinya melihat kandungan gizi dan nilainya di tempat lain, dari sisi lain. Tahu tempe berprotein dan sehat, harganya bisa selangit apalagi di negara Barat. Tahu tempe menjadi makanan mewah di sana, sementara daging sapi sudah biasa dan murah.

Sederhana itu sendiri merupakan kemewahan sebab tidak mudah menjadi pribadi sederhana yang tidak berlebihan dan tidak merasa kekurangan, penuh syukur tanp banyak mengeluh dan kesal. Makan pakai tangan bisa dibilang norak dan kampungan, padahal harga tangan lebih mahal daripada sendok dan garpu termahal. Apa yang dianggap sederhana justru menjadi lebih bernilai bila mau membuka mata hati dan wawasan. Apa yang kelihatan mewah, malah justru norak dan murahan. Bukan urusan selera tapi “kelas” dalam adab, etika, estetika, dan hati. Ini soal rasa dan kepedulian yang butuh kesederhanaan untuk mengerti.

“Tidak memiliki apa-apa” dan bahkan tidak mampu menyekolahkan anak lebih tinggi, tidak punya modal untuk usaha. Lucu, untuk bayar uang sekolah tidak mampu, tapi untuk belikan motor harga mahal bisa. Mengaku tidak punya apa-apa tapi berani keluar uang untuk hal-hal yang tidak murah, bahkan sampai berhutang. Maunya apa?! Disebut miskin tidak, disebut kaya tidak, disebut tidak memiliki apa-apa juga tidak. Mengapa tidak berani jujur dan bersyukur?! Masih banyak yang susah, lapar, tidak memiliki rumah, mobil, motor di luar sana. Apa tidak peduli?! Alasan apa lagi?!

Jika benar sudah kembali ke titik nol maka tidak perlu lagi melakukan hal-hal mubazir dan berlebihan, sederhana, rendah hati, benar berani fokus pada kebenaran dan berada di jalan yang benar. Susah dan pahit bisa menjadi bahagia dan manis bila benar-benar dijalankan dengan ikhlas dan penuh syukur. Jangan sampai justru apa yang dilakukan menjadi sia-sia dan hanya di mulut belaka. Tidak ada bedanya dengan kaum munafik, sudah tahu salah tapi masih dilakukan dan diteruskan juga. Ya, nihil!

Tidak perlu merendah bila masih sombong. Tidak perlu juga merasa menjadi orang paling menderita di dunia, syukuri saja apa yang ada. Jangan silau dengan rumput tetangga apalagi terpesona terang lampu pijar yang bisa menyesatkan. Toh, Allah memberikan semua yang terbaik dan yang dibutuhkan, kita saja yang seringkali tidak mampu dan tidak mau mengerti. Sibuk sendiri dengan ego dan keinginan-keinginan, nafsu ambisi meski dipungkiri. Kenapa masih tidak yakin dengan Allah?!

Sayang bila nol itu hanya menjadi nihil. Hidup hanya sementara, mati pun ada setelah mati. Mau ke mana?!
Bandung, 1 November 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This