Buaya dan Piranha di Malam Minggu

by | Sep 19, 2021 | Cerpen

Tulisan bebas bersambung, dengan aneka jenis tulisan tentang lelaki dan perempuan di malam minggu. Buaya sebutan lelaki, piranha panggilan perempuan. (Red.)

Seorang lelaki berusia 68 tahun, belum pernah menikah, pengusaha, pemilik 6 pom bensin. Dengan penasaran saya bertanya, “Apakah tidak ada perempuan yang mau atau memang sulit menentukan pilihan?”.
Jawabannya, “Mungkin karena saya banyak maunya, semuanya mau saya nikahi…”.
“Bapak buayakah?”, tanya saya langsung saja tanpa basa-basi.
“Apa salahku bila menikahi banyak perempuan? Semua bisa saya nafkahi dengan adil. Kenapa ya perempuan pada menolak? Daripada bikin kecewa, akhirnya saya putuskan tidak menikah dengan siapapun, baru setelah umur 60 saya baru ingin punya anak, mau menikah, tapi sekaligus 4 istri. Masih juga nggak ada yang mau,” jawabnya kemudian.
“Halagh, Pak!”, dalam hatiku, “Bilang saja ogah rugi! Sekali buaya tetap buaya yang takut dengan perempuan piranha. Ingin bahagia, tapi takut dikadalin piranha!”.
Hahaha…. (MRL)

Lelaki diam memandang wanitanya. Hak suaranya habis setelah seribu alasan yang diumbarnya beberapa waktu belakangan. Otak kirinya bekerja menyusun strategi. Sementara otak kanannya meringis, tak menyangka akibatnya demikian tragis.

Lelaki diam memandang wanitanya. Ratusan sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut si wanita. Berjejalan tanpa cela, seperti kuda laut sedang melahirkan bayi. Ambrol.
Lelaki diam memandang wanitanya. Jerit, tangis, kecewa, entah kalimat apa saja yang sudah diucap, tak satupun masuk ke telinganya. Hanya satu yang dia tahu. Lelaki itu menyesali perbuatannya. Sebuah penyesalan klasik, yang terjadi hanya sekian detik. Lalu kembali terulang kesalahan yang sama. Pada waktu yang berbeda.
Lelaki terpana memandang wanitanya. Kali ini mata wanita tak seperti biasanya. Ada nyala di sana. Otak kanannya mulai gemetar menggambar peluang masa depan yang kian samar.
Setahun kemudian, lelaki menangis memandang wanitanya. Wanita yang bukan lagi haknya. Dia tak menyangka, kesenangannya bermain wanita, berakhir di pengadilan agama.
Lelaki diam, memandang wanita paling wanita yang dicintai selama hidupnya.
Matanya kosong, jiwanya melompong. Seperti tersengat petir di siang bolong. (Aulia)

Lelaki itu berdiri dengan pandangan mata penuh misteri. Tak tahu apa yang ada dalam isi kepalanya. Sesekali senyum mengembang di bibirnya. Senyum aneh, lebih mirip seringai kuda. Lalu matanya mulai melirik kanan kiri, penuh selidik. Tak berapa lama, lelaki itu berlalu, dengan tatapannya yang kian tajam, entah ke mana. (Tutiek Erna)

Perempuan dengan gincu merona melilitkan manjanya pada lelaki yang ia tandai dengan mantra sore ini. Lelaki berotak logika dengan teori bertumpuk tetap saja terpedaya. Ilmu yang ada tak mampu menangkal. Si piranha beraksi mendebarkan. Melompat, melayang, dan mendarat tepat di hati lelaki buaya.
Babak baru memaksa lelaki buaya rela menggeliat merontokkan pundi-pundi karena mantra melumpuhkan akal sehat. Perempuan dengan gincu merah semakin serakah. Lupa daratan. Tak sadar buaya darat lain tersebar siap menjerat. (Netty Patryana)

Di pinggir sungai kulihat deretan buaya berjemur
Perlahan aku mendekat membawa sangkur
Tiba-tiba deretan buaya itu bercampur baur
Membuat diriku jatuh tersungkur

Banyak piranha di sungai Kalimantan
Membuat piranha menjadi idaman
Siapa melihat pasti hatinya tertawan
Dalam sanubari ingin merangkul dalam dekapan

Dunia penuh misteri, laki-laki dan perempuan sama-sama mengerikan, apa memang demikian, jika seperti itu kembalilah pada yang sesungguhnya.
Persoalannya sama- sama buas, apa saja dimakan, apa bedanya laki-laki buaya, dan perempuan piranha, suka nyaplok sana, nyaplok sini. Haaa.
Hanya saja yang tersisa yang disembunyikan, ditutup rapat-rapat, laki-laki, perempuan yang sejatinya..

Tiada kehidupan buaya tanpa birahi pada piranha, sebagaimana tiada kehidupan piranha tanpa hasrat terhadap buaya.
Alam tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain.
Sebagian buaya sibuk menata hidup bersama piranha pilihannya, sebagaimana sebagian piranha tak henti meratapi buaya pujaan yang pergi dipikat piranha lain.
Piranha-piranha rela melukai hati demi buaya pujaannya, dan buaya-buaya rela berseteru menyingkirkan buaya lain demi piranha idaman.
Kuatnya cakar dan ekor buaya memang mampu meluluhkahlantakkan pertahanan piranha, namun gigitan kecil tajam piranha mampu menghujam, merobek, mencabik-cabik jantung buaya. (Rudy Janardi/RJ)

Orang bilang aku pirantha
Yang bersembunyi di balik mega senja
Menatap buayaka mengurai pesona
Mengembara jelajah angkasa penuh suka cita

Sementara aku pun menggeliat penuh gelora
Ingin kutumpahkan gemutruh rasa di jiwa
Pada buayaka yang tak kan pernah bersua

Dipertengahan masa usia
Aku lupa ada bintang yang selalu menemani malamku
Bukan buayaka bukan milikku

Aku sadar kami sekedar menjalani
Tata titi Ilahi
Bukan syahwat yang mesti ada di diri
Namun dzikir, sholawat, dan tasbih
Di setiap detak jantung dan desah nafasku

(Hana_Tuban)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This