Bila Saat dan Waktunya Tiba

by | Aug 29, 2021 | Pojok

Views: 0

Gelap terlalu pekat menutup cahaya sinar rembulan. Fajar yang dinanti seolah terlalu lama hadir untuk menyingsing. Meski semua ada masa dan waktunya, dan matahari pun tidak pernah melanggar janji, tetapi ketika kesabaran sudah tidak lagi ada, keyakinan itu lenyap. Sementara konon sabar ada batasnya, bersabar atas yang salah mampu terus dilakukan. Apa sebenarnya yang diinginkan?

Mendengar desah keluh kesah setiap hari tidak ada habisnya. Situasi keadaan serta kondisi yang memberikan tekanan mental dari segala sisi menjadi beban yang sungguh berat. Banyak yang ingin berontak meluapkan segala marah, tetapi selalu ada ketakutan yang menghentikan. Senyapnya suara barangkali membuat tenang sebagian, tetapi di sisi lain justru mengerikan. Seperti menanti bom waktu meledak, chaos dan huru hara barangkali kini mampu diredam, sampai kapan?!

Pandemi covid membuat suasana menjadi mencekam, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Banyaknya jumlah kematian dan yang harus menjalani isolasi, terkurung di rumah tidak bisa lagi memiliki kebebasan seperti biasanya, membuat banyak yang jatuh mental. Apalagi ditambah dengan keadaan ekonomi yang semakin sulit dan politik yang kian tidak menentu, tentunya menghilangkan banyak harapan dan mematikan mimpi.

Apa yang benar dianggap salah, dan apa yang salah dibenarkan. Dusta merajalela dan dibuat seolah seperti biasa saja, tanpa ada rasa bersalah bahkan penyesalan. Kemunafikan dibiarkan dan dipelihara, masing-masing mencoba menyelamatkan diri sendiri dengan berbagai alasannya. Manusia jadi dibuat terpenjara oleh persepsi dan asumsi di nalar, hati kian tertutup dan membatu.

Doktrin dan dogma atas benar dan salah sekedar ucapan belaka, tidak dipraktekkan apalagi dijadikan contoh. Meyakini hanya apa yang mampu dilihat dan didengar, tidak mau menggali untuk melihat lebih dalam atas apa yang tidak nampak dan belum didengar, bahkan menolak dan menghindar. Perubahan terjadi dan tidak bisa dihindari apalagi disangkal terus menerus, banyak yang belum kita lihat dan dengar. Kenapa terlalu banyak bicara?!

Siapa yang tidak ingin bahagia, tenang, dan damai? Siapa yang tidak ingin memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik?! Mengapa takut untuk menghadapi kekacauan dan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja?! Antisipasi tetap semestinya dilakukan, bukan dialihkan seolah sebagai pemikiran negatif. Jika tidak siap ketika masa dan waktunya tiba, bukankah akan menjadi lebih buruk?!

Disadari tidak disadari, diakui tidak diakui, nampak tidak nampak, fajar selalu datang tepat pada waktunya tanpa bisa ditolak atau dihentikan. Bila fajar tiba, lantas apa yang akan terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan?! Tetap bingung dan tidak tahu harus bagaimana?! Tetap tidak yakin dan berkutat dalam kelam?!

Matahari bisa saja muncul dengan sengatan terpanas yang tidak membuat nyaman, tetapi sesungguhnya sangat diperlukan bagi keseimbangan. Ingin terang tetapi tidak mau tersengat, lantas harus bagaimana?! Apa maunya?! Bila ingin manis, rasakan pahit. Jika ingin senang, bersusahlah dahulu. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakitlah dahulu, bersenang-senang kemudian. Mampukah?!

Logika nalar sungguh sangat terbatas, meski sehat sekalipun. Tanpa hati yang sehat, maka tidak mungkin mampu menjadi benar logis, sebab logika hati jauh lebih luas dan tak terbatas. Hanya mereka yang mampu menyeimbangkan hati dan nalarnya yang mampu mengerti dan benar logis. Nalar apalagi dibatasi hanya dengan apa yang mampu dilihat oleh kasat mata dan telinga, tidak mampu menggapai kebenaran yang sejatinya.

Pertanyaan besar bagi diri sendiri, “Nikmat apalagi yang didustakan?”. Haruskah terus menghela nafas semata tanpa mampu memerdekakan diri?!

Bandung, 20 Agustus 2021
Mariska Lubis, S.E. M.Int.S.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This