Bila Lemper dan Tetel Protes Muktamar NU

by | Dec 23, 2021 | Essai

Menjadi santri Nahdatul Ulama (NU) dan kurang belajar itu sudah biasa, kata beberapa alumni santri.
Tapi kalau ada lemper, sumpil dan tetel itu kurang ajar dan kemudian protes pada hajatan besar NU, ini hanya ada di akhir tahun 2021 yang penuh cobaan.
Hmm..begitulah kira-kira ekspresi politis manakala ada beberapa hajatan hingga acara musyawarah yang “melibatkan lemper, ambeng, berkat dan sekumpulan umpu rampe lainnya”.
Seperti yasinan, tahlil, kirim doa dan berkat menjadi tema menarik yang tidak bisa dilepaskan diantara keduanya kala berebut peran siapa yang paling berpengaruh.

Bila dilihat dari prosesnya lemper terbuat dari ketan yang direndam semalam, kemudian dikukus.
Tidak seperti beras yang biasanya dimasak menjadi nasi, ketan untuk lemper yang sudah direndam diletakkan di panci besar dengan dibungkus sejenis kain untuk menghasilkan aroma dan kekenyalan. Setelah matang digerai agar cepat dingin kemudian dikepal-kepal bulat sesuai ukuran yang diinginkan. Kalau dibutuhkan 2.295 biji lemper, maka dibutuhkan 2.295 kepalan dengan ukuran yang sama pula.

Proses selanjutnya menyiapkan isi, berupa daging ayam yang disuwir-suwir. Diracik dengan tujuh macam bumbu dapur, mulai dari garam, bawang putih hingga merica. Isi ayam inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam ketan yang dikepal tadi.
Selanjutnya membungkus ketan dengan daun pisang dan biting sebagai penjepit, agar diperoleh bentuk yang menarik.

Belum selesai sampai disitu lemper kemudian dipanggang, dibolak-balik untuk menyamaratakan panas bara api sebagai proses akhir.
Begitu detil, begitu rigit hingga sebagian besar waktu digunakan ibu-ibu untuk ngramut lemper.

Selain lemper ada juga sumpil.
Beberapa daerah ada yang menyebut nogosari.
Meskipun tidak banyak orang tahu karena jajanan jenis ini jarang ditemui. Tetapi bagi warga nahdliyin sumpil bukan makanan asing. Hampir tiap hajatan keluarga dapat ditemui dengan rupa yang tidak kalah khasnya dibanding lemper.
Proses pembuatannyapun berbeda dengan lemper meskipun sama-sama dibungkus dengan daun pisang.
Sungguh industri kreatif ibu-ibu sudah dilevel multi talent.

Sumpil berbahan dasar tepung beras berbentuk bulat panjang, tapi kalau sumpil bentuknya persegi panjang. Isinya pisang sobo, satu-satunya pisang yang tak bisa digantikan oleh pisang-pisang lain, pisang raja atau cavendis sekalipun. Pisang sobo menjadi wajib ain isi sumpil.
Biasanya setelah dimasak dalam panci besar sumpil digelar pada selembar tikar pandan selama beberapa menit agar cepat dingin dan tidak cepat basi.
Jajanan khas lain selain sumpil dalam tradisi hajatan nahdliyin adalah tetel.
Eksistensi tetel dalam khasanah berkat sejak dahulu tidak lagi debatable, selalu ada.
Tetel type jajanan yang polos dan apa adanya. Bentuknya persegi panjang berwarna putih tanpa balutan warna-warna lain. Penyajiannyapun cukup dipotong menggunakan pisau. Harus tajam karena tekstur tetel yang alot.

Tetel seperti lemper, berbahan dasar ketan dan ditumbuk halus. Pengerjaannya juga rumit dan perlu ketelitian. Disamping butuh waktu yang panjang karena bahan dasarnya harus direndam semalam suntuk.
Lemper, sumpil tetel dan jajanan lain adalah sejarah panjang makanan khas dan kekayaan kuliner warga NU.
Biasanya menjadi menu wajib saat acara tahlilan hari ketiga dan hari ketujuh meninggalnya salah satu anggota keluarga. Juga pada peringatan empat puluh hari, seratus hari, seribu hari dan haul.

Lemper, sumpil dan tetel dengan nasi dan ikan tersaji dalam satu keranjang yang lebih dikenal dengan nana berkat. Berkat berasal dari kata barokah, harapan dari sahibul hajat agar bertambahnya kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.
Tradisi turun temurun yang diwariskan nahdliyin terpelihara dengan baik hampir diseluruh daerah di Indonesia khususnya di pedesaan.
Hajatan keluarga berupa yasinan, tahlil yang digagas sejak awal oleh Hadratus Syaikh KH.Hasyim Asy’ari dijadikan sebagai rule of model pendidikan luar pesantren agar seluruh masyarakat bisa membaca yasin, tahlil dan mendoakan orang tuanya masing-masing.
Panjang ceritanya kalau dibahas di bab ini, saya bisa kehilangan tema.

Kembali ke lemper, sumpil dan tetel mewakili jajanan lain dan tak bisa disebutkan satu persatu, adalah bagian dari menu yang disajikan selain nasi dan ikan. Suguhan model ini mungkin tidak ditemui di organisasi Islam lain selain NU.

Ini terjadi tidak lepas dari peran dan dedikasi ibu-ibu dalam membuat lemper, sumpil, tetel dan sebagainya.
Ibu-ibu tidak memperhitungkan output dan outcome apapun dari kegiatan hajatan di atas. Mereka mengabdikan dirinya secara totalitas sebagai pembuat lemper, sumpil dan tetel terbaik yang ada di zamannya. Ikhlas beramal menjadi mottonya dan karyanya tidak bisa disejajarkan dengan roti made in pabrikan, dunkin donat, hamburger dan pizza.
Melihat begitu detil proses pembuatannya dari bahan mentah hingga siap saji, direndam semalam suntuk melebihi rapal aji kakang kawah adi ari-ari sudah tentu dibutuhkan konsentrasi penuh. Apalagi pada proses selanjutnya, ada yang ditumbuk dengan alu dan lumpang, ada yang dimasak dalam kuali besar, ada yang dipanggang hingga kemudian disiapkan sebagai bagian dari sesi acara.

Bisa jadi dalam Muktamar NU ke 34 di Lampung saat ini, lemper, sumpil dan tetel menjadi menu pembuka atau penutup acara.
Kalau jajanan khas NU itu masih dipakai dalam muktamar yang diikuti oleh 2.295 orang peserta dari seluruh daerah di Indonesia maka sekali lagi dedikasi ibu-ibu pembuatnya perlu mendapat apresiasi luar biasa.
Apalagi bila bersinergi dengan seluruh peserta muktamar yang akan melaksanakan sebuah proses musyawarah besar dan hasilnya ditunggu 20 juta umat yang akan menentukan keputusan-keputusan hebat dan dapat memilih ketua umum PBNU yang hebat pula. Lemper tidak hanya dianggap sebagai panganan belaka.
Meskipun ibu-ibu pembuat lemper, sumpil dan tetel tak berfikir tentang proses musyawarah dan apapun hasil keputusannya. Cukuplah mereka puas membuat jajan dengan cita rasa dan originalits yang yang tinggi.

Mungkin muktamar lima tahunan yang menjadi penentu kemaslahatan organisasi Islam terbesar di Indonesia khususnya, agama dan bangsa pada umumnya tak begitu dihiraukan, lemper, sumpil dan tetel juga tak memiliki korelasi apapun dengan muktamar ditinjau dari sudut manapun.
Cukuplah bagi ibu-ibu melihat para peserta muktamar menikmati buah tangannya dengan nyaman dan nikmat.
Ibu-ibu tidak tahu apa yang dimaksud dengan utusan daerah, AD/ART dengan segala pasal-pasalnya, money politic untuk pemenangan seorang calon, siapa calon ketua umum, hingga bagaimana dan jalannya sidang. Yang menjadi perhatian ibu-ibu adalah selesai dengan lemper, sumpil dan tetelnya karena tak kalah jlimetnya dibanding muktamar.

Nah..kalau ibu-ibu tidak protes apabila pelaksanaan muktamar NU ke 34 kali ini sama seperti muktamar sebelumnya, bagaimana kalau justru lemper, sumpil dan tetel mewakili teman-temannya justru yang melakukan protes? He..he..
Ini pasti diluar prediksi pengamat sekalipun.
Dan catatan buram Martin van Bruinessen peniliti Islam dari Belanda akan terulang lagi.

Selamat & Sukses Muktamar NU ke 34 Lampung, 22 -23 Desember 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This