Bersiap Siaga Di Perbatasan Negerimu

by | Jul 8, 2022 | Essai

(Memperingati Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Oleh : Papi Lapong

Ada bacaan yang sering diulang ulang Rasulullah SAW saat beliau baru bangun tidur, yakni Surah Al Imran ayat 190 sampai di penghujung Surah Al Imran. Namun ada satu ayat yang menarik perhatian para perawi hadis Al Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah dan banyak lagi perawi hadis lainya, yakni tentang ayat 200 Surah Al Imran.

Dalam riwayat Bukhari Rasulullah bersabda : Bersiap siaga di perbatasan negeri selama sehari dalam jihad di jalan Allah lebih baik dari pada dunia dan semua yang ada di dalamnya.

Bahkan dalam riwayat Imam Muslim dipertegas lagi : Rasulullah bersabda bahwa, Bersiap siaga di perbatasan negeri selama sehari semalam lebih baik dari pada puasa sebulan berikut qiyamnya. Dan jika ia gugur, maka dialirkan kepadanya semua amal perbuatan yang biasa diamalkannya, dan dialirkan kepadanya rezekinya serta selamatlah ia dari fitnah (siksa kubur).

Apa bunyi ayat 200 surah Al Imran tersebut sehingga begitu menjadi perhatian Rasulullah untuk mengingatkan kepada umatnya tentang pahala yang begitu besar bagi setiap hamba Allah yang berhikmat pada amalan ini? Mari kita simak bunyi Ayat tersebut :

“Yā ayyuhallażīna āmanuṣbirụ wa ṣābirụ wa rābiṭụ, wattaqullāha la’allakum tufliḥụn.”

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman. Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Prof. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah lebih spesifik memaknai pesan ke Tuhan tersebut sebagai berikut : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah! Kalahkan musuh kalian dengan kesabaran! Bersiap- siaplah di tempat-tempat yang rawan diserang musuh! Dan takutlah pada Tuhan kalian! Harapan keberuntungan ada pada itu semua.”

Apa yang bisa di tarik menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa yang beriman dan berketuhanan dalam konteks ayat tersebut? Di dalamnya ada kata-kata perintah menunjukkan “Kesabaran”, “Bersiap siaga dari musuh”, “Negerimu”, “Takut kepada Tuhan”, dan kata “keberuntungan.”

Relevansi dan kata kunci yang menarik jika dikaitkan dalam konteks bela negara sebagai warga bangsa Indonesia yang bertuhan adalah bermakna, “bersabar menjaga negerimu dari serangan musuh (dari dalam dan luar) agar beruntung – terhindar dari kerusakan”.

Ambillah sebab pesan Tuhan ini kita pegang teguh sebagai suatu penanda kepada setiap orang yang beriman untuk menjaga negerinya dari gangguan baik yang sifatnya dari dalam yang oleh (sdr. Hendrajit) sering dikatakan sebagai asymmetric war dan proxy war, maupun gangguan dari luar dalam bentuk ancaman perang fisik.

Beberapa tragedi berbangsa telah kita lalui setelah kemerdekaan, dan bersyukur Allah SWT masih rida negeri ini tetap utuh dari kehancuran peradaban kemanusiaan yang berpotensi tidak menjadi Indonesia lagi.

Satu sisi heroik (bersiap siaga menjaga negeri) yang menarik untuk ditengok ke belakang adalah peristiwa 5 Juli tahun 1959, dan tulisan ini saya buat untuk memperingati hari 5 Juli hari ini, dalam momen Dekrit Presiden Sukarno mengenai berlakunya kembali UUD 1945 pada tahun 1959. Presiden Sukarno dan di bantu TNI, melihat kala itu kehancuran negeri di depan mata dengan berlakunya konstitusi UUD RIS 1949 yang kemudian di lanjutkan UUDS 1950 oleh euforia para politisi yang baru merdeka seumur jagung yang bingung menetapkan bentuk negara dan konstitusinya. Perpecahan berkecamuk seantero negeri, perang DI/TII, PERMESTA, PRRI, Pemberontakan PKI Muso, dan gejolak politik tidak puas di berbagai daerah, benturan menjadi negara federal, Khilafah Islam, Negara Komunis atau tetap Negara Kesatuan RI.

Hari ini anak bangsa memperingati 5 Juli tahun yang lampau 1959, saat itu momen yang sangat penting dimana Presiden Sukarno di bantu TNI mengambil langkah jitu mengembalikan UUD 1945 sebagai konstitusi berbasis jati diri bangsa untuk menyelamatkan negara NKRI dari kehancuran total.

Namun seiring waktu euforia reformasi tahun 1998 yang berhasil menumbangkan Suharto menjadi titik balik apa yang telah diraih Presiden Sukarno, yakni Dekrit 5 Juli 1959 Kembali ke UUD 1945, untuk menggagalkan kepalsuan anak bangsa dari UUD RIS 49 dan UUDS 50 oleh kerja proxy war dan asymmetric war asing antara lain Hubertus Johannes Van Mook Belanda, Berulang menjadi kemenangan kepentingan asing dengan UUD 2002 bin UUD 45 yang berlaku hari ini.

Sejarah asli anak bangsa menjadi hilang, jati diri anak bangsa pun di palsukan menjadi copy paste asing dan dasar falsafah bangsa ini telah berangsur-angsur dijauhkan dari konstitusi dasarnya yang asli Proklamasi 17 – 18 Agustus 1945.

5 Juli tahun 1959 merupakan masa penting yang hilang, hari ini berganti sejarah tentang kepalsuan diri anak bangsa bersama UUD 2002 bin UUD 45. Bangsa ini lengah tidak sabar bersiap siaga di perbatasan negerinya, entah bencana apa lagi yang bakal di hadapi bangsa ini di masa-masa depan? Wallahualam bissawab! Semoga saja anak bangsa ini bisa membalikkan momen waktu 5 Juli ‘59 pada tahun-tahun berikutnya agar terhindar dari kehancuran yang lebih parah. Amin!

Semoga juga apa yang dirasakan dan lihat anak bangsa hari ini, dimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan rakyat berdaulat di negerinya sendiri makin jauh dari pengharapan. Kekayaan alam yang begitu melimpah hanya tersedot kepada segelintir orang, korupsi/KKN makin telanjang mata, dinasti politik dan oligarki makin mencengkeram dan mendominasi hak asasi rakyat. Hari ini apa yang dikatakan Sukarno sudah menjadi kenyataan, “penjajah sudah menjajah bangsanya sendiri,” kelak bisa berbalik dikalahkan. Amin!

PN 5 Juli 2022

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This