Berkah Mengalir Saat Bekerja dengan Hati

Sep 2, 2023 | Essai

Views: 0


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al-Bayyinah, 5).  

Ayat tersebut di atas mengajarkan kita tentang pentingnya keikhlasan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Nilai keikhlasan dan ketulusan yang terkandung dalam ayat tersebut dihubungkan dengan prinsip-prinsip berikut: tauhĩd atau mengesakan Allah, bekerja dengan tulus ikhlas, memurnikan ketaatan kepada nilai dan ajaran-Nya, mengintegrasikan spiritual dan sosial, mengikuti agama dan etika yang benar, dan keberkahan sebagai konsekuensi alami dari keikhlasan.

Hal pertama dan utama yang dihubungkan ayat tersebut dengan keikhlasan adalah prinsip tauhĩdullah atau mengesakan Allah. Ayat ini mengajarkan agar kita menjauhkan diri dari segala bentuk syirik dan mengarahkan seluruh ibadah dan pengabdian kita hanya kepada Allah.

Ibnu Katsir dalam kitabnya menafsirkan ayat tersebut dengan mutahannĩfin ‘an al-syirk ilã al-tauhĩd. Maksudnya, bahwa ayat ini membawa pesan utama agar kita mengubah arah hidup dari perilaku syirik menuju peng-Esa-an Allah SWT.

Mengesakan Allah berarti mengakui bahwa hanya Allah yang layak diagungkan (iyyãka na’budu) dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan (wa iyyãka nasta’ĩn). Ini mengajarkan pentingnya menjalani hidup dengan menjauhkan diri dari praktik-praktik syirik dan menjadikan Allah sebagai pusat keyakinan dan pengabdian.

Dalam Islam, praktik-praktik yang melibatkan unsur-unsur perdukunan dan kepercayaan terhadap angka, hari, warna, dan objek tertentu yang dianggap memiliki kekuatan mistis seperti keris, atau segala sesuatu yang dianggap memiliki pengaruh di luar kehendak Allah, merupakan perbuatan syirik

Syirik ditegaskan Allah sebagai zulm ‘adhĩm, aniaya terbesar dalam Islam (Q.S. Lukman, 13), karena itu merupakan bentuk pengingkaran terhadap prinsip bahwa Allah adalah satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak dan hak untuk disembah.

Manusia seharusnya menghindari segala bentuk syirik dan mengarahkan diri kembali pada iman yang murni, dengan mengakui keesaan Allah dalam segala ibadah dan keyakinan. Mengubah orientasi hidup dari jalan syirik menuju tauhidullah menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang benar dengan Allah. Hal ini dikarenakan hanya melalui pemahaman akan tauhidullah, seseorang dapat meraih tujuan hidup yang benar, mengikuti jalan yang benar, dan mencapai keselamatan spiritual.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan perjalanan hidup yang telah kita tempuh dan mengambil langkah-langkah nyata untuk mengubah arahnya. Ini adalah saat untuk merefleksikan diri, menyesali mungkin adanya tindakan-tindakan syirik yang pernah kita lakukan, dan menghidupkan tekad tulus untuk kembali kepada Allah dengan taat dan ikhlas.

Melalui proses ini, kita dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan Sang Pencipta. Dengan menjauhi segala bentuk pengingkaran terhadap keesaan Allah dan mengakui bahwa hanya Dia yang memiliki kekuasaan mutlak, kita mampu meraih pemahaman yang lebih mendalam tentang arti sejati hidup dan tujuan kita di dunia ini.

—000—

Hal kedua yang dihubungkan Allah dengan keikhlasan melalui firman-Nya di Al-Bayyinah 5 adalah keikhlasan dalam bekerja di setiap aspek kehidupan. Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah dan perbuatan baik harus dilakukan dengan tulus ikhlas, tanpa mencari pujian atau pengakuan dari manusia. Tujuan utama kita dalam beribadah adalah mendapatkan ridha Allah, bukan popularitas di mata orang lain.

Menurut pandangan Imam Al-Razi dalam tafsirnya, keikhlasan adalah ya’tĩ mukhlishan lirabbih lã yurĩdu riyã-a walã sum’ah. Maksudnya bahwa seseorang melakukan segala tindakan semata-mata untuk menyembah Allah, tanpa mengharapkan pujian atau pengakuan dari manusia.

Pesan tentang keikhlasan dalam ayat tersebut tidak hanya menggarisbawahi tindakan yang tulus dari dorongan-dorongan duniawi, tetapi juga menggambarkan inti dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Seorang yang ikhlas menurut ahli hikmah adalah tajrĩd qashd al-taqarrub ilallõh ta’ãla ‘an jamĩ’ al-syawãhib, mampu memurnikan tujuan taqaruub hanya kepada Allah dari segala hal yang mencampurinya.

Dalam konteks moral, keikhlasan merupakan landasan kuat dalam Islam. Allah mengajarkan bahwa ketulusan adalah esensi yang harus ditekankan dalam setiap tindakan. Ini merujuk pada pemahaman bahwa segala bentuk kebajikan harus dilandasi oleh tujuan murni untuk Allah semata. Artinya, kita tidak mencari pujian manusia sebagai tujuan akhir dari tindakan kita.

Sahl bin Abdillah berkata al-ikhlãsh an yakũna sukũn al-‘abd wa harokãtuh lillãh ta’ãlã khãlishah, Ikhlas adalah diam dan gerak seorang hamba hanya untuk Allah SWT semata-mata

Dalam banyak hal, niat yang tulus ini juga berfungsi sebagai bentuk pembebasan dari ego dan kesombongan. Bertindak demi Allah berarti mengatasi motif-motif egois dan belajar untuk merendahkan diri. Dengan cara ini, seorang Muslim menjalani hidup dengan rendah hati, mengutamakan kemanfaatan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Imam Al-Harawi menulis al-ikhlãsh tashfiyah al-‘amal min kulli syaub, ikhlas itu adalah memurnikan perbuatan dari segala kotoran (Husain Al-Awaisyah, Al-Ikhlas, 103-108) 

Keikhlasan juga memiliki peran dalam mengatasi rasa iri dan persaingan yang tidak sehat dalam masyarakat. Saat kita tidak mencari pengakuan manusia, kita cenderung tidak merasa terancam oleh pencapaian atau sukses orang lain. Sebaliknya, kita bisa merasa ikut bahagia dengan pencapaian mereka dan mendoakan yang terbaik bagi mereka.

Implikasi keikhlasan dalam kualitas tindakan kita sangat dalam. Sabda Nabi yang populer dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih Innamã al-a’mãl bi al-niyyah merupakan penegasan bahwa dalam Islam, kualitas sebuah tindakan dinilai oleh niat dan keikhlasan yang mendasarinya. Sebagai contoh, seseorang yang beribadah dengan niat mengharapkan pujian dari orang lain atau dengan tujuan mendapatkan keuntungan duniawi, mungkin akan memperoleh imbalan dalam bentuk itu, tetapi nilai spiritual dari ibadah tersebut akan terbatas.

Karena itu, ayat ini mengajak setiap Muslim untuk merenungkan motif di balik tindakan mereka, membersihkan hati dari dorongan-dorongan egois, dan memperkuat keikhlasan dalam setiap aspek kehidupan. Dengan cara ini, setiap tindakan bisa menjadi bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, dan berkah akan menyertai perjalanan hidupnya.

—000—

Hal ketiga yang dihubungkan Allah dengan keikhlasan dalam firman-Nya di Al-Bayyinah 5 adalah prinsip memurnikan ketaatan kepada Allah SWT. Ayat ini menggarisbawahi perlunya tindakan-tindakan kita dilandasi oleh kepatuhan terhadap nilai-nilai agama dan petunjuk-Nya.

Pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah SWT membawa kita ke inti prinsip Islami, yaitu al-khudhũ’ (kesadaran dalam hati akan kebenaran nilai-nilai agama yang berasal dari Allah) dan al-inqiyãd (totalitas ketaatan untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata). (Lihat: Ushũl al-ĩmãn fĩ Dhaui al-Kitãb wa al-Sunnah, Saudi, hal. 255).

Di dalam Surah Al-Baqarah ayat 208, Allah dengan tegas memerintahkan mereka yang beriman untuk memasuki agama Islam secara utuh. Menurut Ibnu ‘Abbas seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, hal ini mengacu pada ketaatan menyeluruh terhadap ajaran Islam.

Dengan demikian, Al-Bayyinah 5 dan Al-Baqarah 208 mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan kita seharusnya mencerminkan keyakinan, pemahaman, dan ketaatan terhadap ajaran-Nya.

Memurnikan ketaatan kepada Allah berarti menjalani kegiatan sehari-hari dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam. Tindakan-tindakan kita harus menjadi refleksi dari ajaran agama, mulai dari akhlak yang baik hingga etika perilaku yang benar. Ini mengingatkan kita untuk selalu memeriksa tindakan kita, memastikan semuanya sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Dalam realitas harian, ini mendorong kita untuk tulus menjalani ketaatan, bukan sekadar sebagai formalitas tetapi sebagai bukti kesetiaan kita kepada Allah. Memurnikan ketaatan ini mencakup seluruh aspek kehidupan: bagaimana kita berinteraksi dengan keluarga, teman sekerja, tetangga, serta bagaimana kita melaksanakan tugas-tugas dalam seni, budaya, politik, bisnis, dan bidang lainnya.

Pentingnya memurnikan ketaatan ini juga membawa kesadaran akan pentingnya introspeksi dan perbaikan diri. Dengan mengevaluasi tindakan kita secara berkala, kita dapat mengidentifikasi potensi kesalahan atau ketidaksesuaian dengan nilai-nilai Islam. Dalam proses ini, kita berkesempatan untuk bertobat dan meningkatkan tindakan kita menuju perbaikan selaras dengan ajaran agama.

Pengertian ini juga melibatkan pentingnya keselarasan antara perkataan dan tindakan. Memurnikan ketaatan kepada Allah mengajarkan kita untuk hidup konsisten dengan apa yang kita imani dan katakan. Ini membantu menjaga integritas diri dan mencegah kita dari perilaku munafik atau hipokrit.

Di tengah dunia modern yang kompleks, memelihara dan memurnikan ketaatan kepada Allah adalah pijakan kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan moral dan etika. Ini mengingatkan kita bahwa kepatuhan terhadap prinsip-prinsip agama adalah panduan yang tak boleh berubah dalam menghadapi situasi yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, Al-Qur’an mengajak kita untuk senantiasa merenungkan prinsip-prinsip agama dalam setiap tindakan, memurnikan ketaatan kita kepada Allah, dan terus berupaya memperbaiki diri agar selaras dengan nilai-nilai Islam.

—000—

Hal keempat yang dihubungkan Al-Qur’an surat Al-Bayyinah 5 dengan keikhlasan adalah prinsip integrasi antara dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan kita, yang dirumuskan melalui kewajiban shalat dan zakat. Ayat ini mengggarisbawahi bahwa keikhlasan tidak hanya berlaku dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam interaksi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari.

Firman Allah yang memerintahkan zakat disebutkan sebanyak 28 kali dalam Al-Qur’an. Dari jumlah tersebut, hanya dua kali perintah tersebut disebut secara terpisah, sedangkan sisanya selalu digabungkan dengan perintah shalat. Kombinasi kedua perintah ini menggarisbawahi betapa pentingnya kaitan antara shalat dan zakat dalam kehidupan seorang Muslim. Keduanya mencerminkan dimensi esensial: hubungan spiritual dengan Allah dan tanggung jawab sosial (takãful al-ijtimã’) terhadap sesama.

Dimensi pertama, shalat adalah pintu untuk menjaga hubungan langsung antara hamba dan Allah. Ini bukan sekadar tindakan ritual, tetapi juga merupakan momen intim bagi seorang Muslim berbicara kepada Allah, merenung makna hidup, memohon ampunan-Nya, dan meminta pertunjuk dan pertolongan-Nya. Melalui setiap gerakan shalat, manusia diingatkan akan ketergantungan dan kepatuhannya kepada Allah, membimbing pikiran dan hati untuk fokus pada-Nya. Shalat menjembatani dimensi spiritual dan personal dalam hubungan mendalam dengan Sang Pencipta.

Dimensi kedua, zakat, adalah kewajiban sosial yang mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk membantu mereka yang membutuhkan di dalam masyarakat. Tanggung jawab sosial ini adalah merupakan karakter seorang muslim. Nabi Muhammad SAW mengumpamakan orang-orang beriman dalam hal saling kasih sayang di antara mereka seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengadu, maka seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan terjaga dan demam”. (HR. Al-Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).

Zakat bukan sekadar tentang memberikan sebagian harta, tetapi juga mencerminkan komitmen dan tekad untuk berbagi rezeki dengan cara terorganisir dan berkelanjutan. Ini mewakili nilai-nilai kepedulian, solidaritas, dan keadilan dalam Islam. Melalui zakat, komunitas Muslim berpartisipasi dalam mengatasi kesenjangan sosial dan memberdayakan mereka yang kurang beruntung.

Pentingnya shalat dan zakat juga memperlihatkan integrasi antara dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan. Shalat menjadi fondasi kuat untuk menjalin hubungan dengan Allah, yang pada gilirannya membentuk karakter dan perilaku sosial. Ketika seseorang menjalani ibadah dengan niat tulus dan mempererat hubungan dengan Allah melalui shalat, itu akan mendorong mereka untuk berbuat tulus dan ikhlas dalam membantu sesama melalui zakat, sedekah, dan usaha sosial lainnya.

Dengan demikian, ayat tersebut mengajarkan bahwa Islam bukan sekadar berkaitan dengan ritual ibadah, tetapi juga tentang keterlibatan aktif dalam membangun hubungan yang kokoh dengan Allah dan dengan sesama manusia. Shalat dan zakat melambangkan kesatuan yang komprehensif, di mana spiritualitas dan humanitas bersatu. Melalui pelaksanaan dua kewajiban ini, seorang Muslim membangun harmoni antara dua dimensi tersebut secara sekaligus, menjadi individu yang taat kepada Allah dan peka terhadap kesejahteraan umat manusia.

Di Surah Al-Ma’un ayat 5, Allah SWT berfirman: Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberi barang bantuan. Ini mengingatkan bahwa ketidakpedulian terhadap aspek sosial, meskipun menjalani ritual shalat, adalah perilaku yang tercela. Hal ini menggambarkan bahwa hubungan spiritual yang tulus melalui shalat harus disertai dengan rendah hati dan komitmen sosial melalui zakat, infaq, dan sedekah. Dengan mengintegrasikan dimensi-dimensi ini, seorang Muslim dapat meraih keseimbangan antara konseksi rohaniah yang mendalam dan komitmen sosial yang penuh empati.

—000—

Hal kelima yang dihubungkan Al-Qur’an surat Al-Bayyinah 5 dengan keikhlasan adalah prinsip mematuhi agama dengan penuh kesetiaan dan mengikuti norma etika yang benar dalam segala aspek kehidupan. Ini menyoroti pentingnya memiliki kompas moral yang kuat serta integritas dalam semua aspek kehidupan.

Dalam Islam, hidup sesuai pedoman agama bukan hanya soal mengikuti hukum-hukumnya, tetapi juga mengadopsi nilai-nilai etika yang tertanam dalam ajaran tersebut. Ini melibatkan integritas, keadilan, rasa belas kasihan, kesetiaan, dan budi pekerti mulia lainnya yang menghormati hak Allah dan hak sesama manusia.

Konsep ini menunjukkan bahwa hidup benar dan menjalani jalan yang benar melampaui tataran ritual. Saat kita hidup dengan jujur dan kejujuran, kita menciptakan fondasi kuat untuk memelihara hubungan yang baik dengan Allah serta sesama manusia.

Signifikansi mengikuti jalan yang benar juga mencerminkan hubungan erat antara etika dan spiritualitas. Upaya menjalani prinsip-prinsip yang benar dan moral membantu mempertahankan hubungan yang kuat dengan Allah. Etika yang benar mengajarkan rendah hati, kebijaksanaan, dan memperhatikan kepentingan orang lain, yang semua ini mendukung perjalanan menuju kedekatan dengan Allah.

Lebih dari itu, menjalani jalan yang benar berperan dalam mencapai harmoni dalam hidup. Dengan tindakan yang sejalan dengan nilai-nilai agama, kita menghindari konflik internal maupun eksternal. Kita merasakan kedamaian batin dan membangun hubungan yang lebih positif dengan orang lain. Ini juga membuka peluang untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar, menginspirasi orang lain untuk mengikuti langkah yang sama.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 145, Allah SWT menegaskan hanya jalan-Nya lah yang lurus dan benar, dan mengingatkan bahwa mengikuti jalan-jalan lain di luar jalan Allah akan membawa pada kerusakan dan cerai berai.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan bahwa hidup sesuai jalan yang lurus tidak hanya penting dalam konteks spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif yang luas dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan menjalani agama yang lurus, kita mendirikan dasar kuat untuk menghadapi tantangan, mempertahankan integritas diri, dan menjalin hubungan yang bermakna dengan Tuhan dan sesama manusia.

—000—

Hal keenam yang dihubungkan Al-Qur’an surah Al-Bayyinah ayat 5 dengan keikhlasan adalah prinsip keberkahan sebagai hasil alami dari keikhlasan dan ketaatan yang tulus kepada Allah.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 96, Allah mengindikasikan bahwa iman dan takwa yang tercermin dalam keikhlasan dan ketaatan akan membuka pintu berkah dalam hidup manusia.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ayat ini menunjukkan bahwa bila kita hidup dengan tekad yang tulus, Allah akan mengalirkan berkah dari langit dan bumi dalam berbagai bentuknya. Keberkahan ini jauh lebih luas daripada sekadar aspek materi; ia melibatkan dimensi spiritual dan kehidupan secara keseluruhan.

Pentingnya konsep ini dalam Islam juga menegaskan bahwa keberkahan tidaklah semata-mata sebagai hadiah berupa kekayaan atau harta duniawi. Ia merambah dalam berbagai lapisan kehidupan, mencakup ketenangan jiwa, harmoni batin, kesuksesan dalam interaksi sosial, serta kebahagiaan dalam keluarga. Allah, dengan rahmat-Nya, memberikan manfaat yang melampaui perkiraan kita, melingkupi berbagai aspek baik dunia maupun akhirat.

Dalam Islam, keberkahan juga dianggap sebagai hasil dari kerja keras dan tindakan yang benar. Saat seseorang berupaya dengan tulus dan ikhlas dalam pekerjaan atau tugasnya, hal itu mendorong mereka memberikan yang terbaik dari diri mereka, menjunjung tinggi kualitas dan etika yang baik. Pendekatan ini membentuk pola pikir positif dan energi yang menarik keberkahan, yang bisa mempengaruhi hasil akhir.

Ketika dihubungkan dengan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, tindakan yang dijalani dengan niat tulus mencerminkan ketaatan yang mendalam dan pengabdian terhadap agama. Ini adalah bentuk pengabdian yang mengakar dalam dimensi spiritual dan batiniah. Saat seseorang meluangkan waktu untuk beribadah, mengamalkan nilai-nilai agama, dan memberikan manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, keberkahan akan meresap dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Konsep keberkahan juga menggarisbawahi pentingnya rasa syukur atas segala pemberian Allah. Orang yang bersyukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan akan semakin diberi keberkahan. Dalam Islam, bersyukur adalah cara untuk mempertahankan keberkahan dan menjaga hati agar tidak terjebak dalam keserakahan atau ketidakpuasan.

Al-Qur’an melalui ayat-ayat ini mengajarkan kita untuk mengintegrasikan keikhlasan, ketaatan, dan rasa syukur dalam setiap tindakan kita. Ini membentuk fondasi kokoh untuk meraih keberkahan dalam hidup, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk kedamaian batin dan kebahagiaan sejati.

   * Dr. Agus Syihabudin, MA. Associate Professor pengampu mata kuliah Agama dan Etika Islam ITB. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Bandung. HP. 0816.618.315. Email: a.syihab60@gmail.com

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This